Iboih Beach, Sabang, Weh Island, Aceh.

Iboih Beach, Sabang, Weh Island, Aceh.
Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 November 2014

Kenangan Fadhli di BCMC St. Boromeus Bandung

'Fadhli gak mau lagi ke dokter gigi mama.......'

Fadhli meraung, menangis heboh sambil memegang pipinya. Tak sampai hati aku melihatnya. Kupeluk anakku itu dengan erat.D uuuh...gimana ini. Padahal proses perawatan giginya belum lagi selesai.

Sebelumnya, fadhli gak pernah takut ke dokter gigi. Bahkan saat giginya masih baik-baik aja, fadhli suka sekali minta naik ke kursi untuk pasien, saat bawa Kak Ciwa berobat gigi. Bukan buat ditambal ato lainnya, hanya minta bu dokter liatin giginya dan....selesai :-)

Bahkan saat giginya pun mulai berlubang dan harus menjalani proses tambal, dia baik-baik aja. Pun saat gusinya bengkak karena lubangnya sudah cukup dalam. Trauma dimulai saat masih dalam perawatan, gusi yang tadinya sudah baikan, bengkak dan meradang lagi. Setiap kali mau makan, fadhli mengeluh sakit, meski gak sampai heboh gak mau makan. Sampai suatu kali, saat aku membawanya ke dokter gigi langganan anak-anak. Melihat gusi fadhli yang kembali memerah, ibu dokter pun berpura-pura menggerakkan kapas yang biasa dibuat untuk menahan air liur ke arah gusi yang bengkak sambil menyemprotkan angin di sekitar gusi. Alih-alih berharap cara demikian membuat rasa sakitnya tak terlalu terasa, justru fadhli menjerit kesakitan dan berontak.....Dari situlah, fadhli mulai takut ke dokter gigi, takut bor-nya, takut semprotan angin-nya yang kata fadhli bikin sakit. Dan sulit sekali mengajaknya berkompromi, padahal urusan giginya belum kelar....

Mau tak mau, aku cuma bisa kasihan saat fadhli mengeluh sakit gigi. Pada kedatangan terakhir ke dokter gigi tersebut, gigi fadhli sudah ditambal setengah. Tapi tiba-tiba saja dia menangis keras dan berontak. Alhasil, tambalan tetapnya belum penuh dan sempurna. berapa kali dibujuk oleh papanya, fadhli tetap tak bergeming dan terus menolak. Aku kuatir sekali, lubang yang masih ada karena tambalan belum penuh itu mudah dimasuki makanan dan mudah terbuka lagi.

Dan benar saja, gigi fadhli kembali sakit. Yang bikin tambah bingung, sakitnya datang saat kita sedang di luar kota, di Bandung. Aku dan papanya panik, mau dibawa kemana. Beruntung sekali, saat itu kami sedang bersama adikl aki-laki ku yang keluarga mertuanya memang berdomisili di sana. Adikku menyarankan untuk membawa fadhli ke dokter langganannya di RS. St Boromeus, yang jaraknya dekat sekali dengan hotel tempat kami menginap.

Kartu Berobat Fadhli

Lucu-lucuan sebelum dipanggil masuk ke ruang dokter



Kami masuk ke bagian BCMC (Boromeus Children Medical Centre). Setelah mendaftar dan berada di ruang tunggu, aku masih kuatir, kalau nanti fadhli menolak untuk diobati. Cukup lama juga kami menunggu, sampai dengan nama fadhli dipanggil. Aku langsung menjelaskan keadaan fadhli dan trauma yang pernah dialaminya plus kekuatiranku bahwa dia akan menolak diobati. Sang dokter pun mengangguk mengerti dan segera mendekati fadhli.

Dokter dan perawat ber-aksi

Baru kali itulah,aku merasa,fadhli di -entertain sedemikian sehingga dia merasa nyaman, aman dan menyelesaikan perawatan giginya hari itu. Luar biasa gembira rasanya. Sejak awal aku sudah memperhatikan ruangan dan perawat serta dokter dalam ruangan itu. Seorang perawat khusus hanya mengurusi pendaftaran dan pemanggilan pasien. Sementara perawat satunya bertugas menemani sang dokter, mengajak fadhli bercerita, memuji keberanian fadhli dan lain-lain. Pokoknya mengalihkan perhatian fadhli dari rasa sakit !!!

Fadhli bukannya tak mengeluh dan nangis kesakitan. Wong gusinya bengkak. Pada saat cairan obat disemprotkan ke giginya, fadhli menangis kesakitan, tapi sang dokter dan perawat dengan sigap dan cepat mengajaknya berkumur, memujinya dan terus mengajaknya bercerita.

Sisi lain di ruang Dokter gigi. Ada tivi dengan tayangan kartun.

Televisi dengan tayangan film kartun di bagian depan kursi pasien pun cukup membantu mengalihkan perhatian fadhli. Hingga tak sedikit pun kata-kata bahwa takut bor atau semprot angin dan lain-lain keluar dari bibir fadhli.....Aku dan papanya yang sedari tadi tegang dan was-was menunggu akhirnya menjadi lebih tenang. Hingga akhir, fadhli gak berontak. Malah setelah turun dari kursi, senyumnya lebaaaaar banget. Dan tambah senang saat dikasih hadiah stiker pahlawan oleh Dokter.

Tentu saja apa yang dilakukan oleh dokter adalah masih proses perawatan. Aku pun menjelaskan kalau hanya ada tugas beberapa hari saja di Bandung dan tidak mungkin kembali dalam waktu beberapa hari ke depan untuk membawa fadhli berobat. Dokter memaklumi dan mengatakan bahwa sudah tidak ada masalah dengan gigi fadhli. Namun paling lama 3 minggu harus dibongkar untuk ditambal permanen. 

Meski sempat terasa kuatir dimana di pekanbaru prakter dokter gigi anak yang seperti di RS St.Boromeus. Tapi alhamdulillah sampai sekarang belum ada keluhan dari fadhli. Meski sekarang sudah harus nyari dokter gigi yang tepat lagi buat fadhli ;-D

Berharap ketemu tempat yang tepat buat fadhli di pekanbaru, plus ditanggung asuransi kesehatan yang kami punya....hahahahaha....#kalo ini mah mimpi terus dah....Kalo di St Boromeus yang diterima cuma Kartu Platinum....yang aku pegang cuma Silver....hahahaha.
#curcol nih aselinya....... ;-)







Selasa, 10 Juni 2014

Jagoan-nya Rakyat...

Pilpres oh Pilpres...

Sumber Gambar


Sosmed isinya semua tentang Pilpres...Yang gak nguatin: Black Campaign. Nyesek, nyebelin dan menuh-menuhin wall FB. Jujur kalo semaraknya sih memang luar biasa dibandingkan pilpres - pilpres yang lalu. Yang bisa diartikan, kepedulian rakyat yang haus akan pemimpin yang baik semakin besar. Pemilu memang pesta Demokrasi...dan biarkan pesta itu menjadi pesta kita semua. Kenapa harus kita rusuhi dengan kampanye-kampanye hitam yang memecah belah persatuan bangsa ?

Kamu punya pilihan, Saya punya pilihan, begitu juga dengan 200 juta warga negara Indonesia lainnya. Semua orang mempunyai hak yang sama untuk mendukung capres dan cawapres pilihan hati nuraninya. Silahkan mencermati, menganalisa dan mengambil kesimpulan, siapa calon yang terbaik dari yang ada. Maka jauhi kampanye hitam yang jangan-jangan bisa menjerumuskan kita pada tindakan fitnah. Apalagi jika hanya menyebarkan dengan emosional tanpa mencari tahu dulu apakah berita tersebut benar atau tidak.

Saya sendiri awalnya adalah Swing Voter. Masih terus mengamati dan berusaha mencari tahu mana Presiden idaman saya. Meski sekarang saya sudah punya pilihan, saya secara jujur, meski tidak di gembar-gemborkan di sosmed, mengakui keunggulan dan kelemahan masing-masing calon. Dalam memilih, kita bisa saja salah. Namun saya yakin, jika pilihan itu kita lakukan setelah melewati proses penilaian yang baik, insyaAllah tetap ada pahalanya.

Bau busuk perpecahan begitu menusuk hidung. Mungkin orang-orang di luar sana yang senang negara ini pelan-pelan sedang bergerak pada ambang kehancuran, sedang riuh dalam tepuk tangan dan luapan kebahagiaan tak terkira. Mereka yang tak ingin putra-putra terbaik bangsa ini bangkit dan diamini oleh seluruh rakyat  bangsa ini. Karena mereka tau, bangsa ini sangat bisa untuk menjadi lawan yang tangguh.

Ikut sedih, dengan banyak sekali status-status yang tak perduli dengan urusan perpecahan ini, yang orientasinya hanya menyanjung calon pilihannya dan menjatuhkan lawannya. Negara seperti apa yang kita harapkan akan bangkit dengan cara-cara seperti ini? Apakah jika nanti calon pilihan kita berhasil, yang sangat mungkin secara mati-matian akan ditentang   oleh kubu yang kalah akibat dari black campaign yang digelar selama berbulan-bulan, akan menghasilkan Indonesia yang lebih kuat? Ayoolah.....

Sekali lagi, saya sudah punya pilihan, dan berharap itu adalah pilihan yang terbaik. Namun, jikalau pun pilihan itu ternyata tak sama dengan pilihan mayoritas rakyat Indonesia, saya pun sebagai warga negara akan ikut mendukung presiden terpilih untuk mampu membuktikan semua janji-janjinya untuk menjadikan Indonesia ini Negara yang lebih baik. 

Mari sama-sama kita ikrarkan dan bersihkan hati, bukankah siapapun calon Presiden yang menang, sejatinya adalah kemenangan kita semua, RAKYAT INDONESIA. Ini kan yang bener ??? Karena siapapun yang menang mempunyai misi yang sama....Indonesia lebih baik !!! Maka siapapun yang menang, itu adalah kemenangan KITA, sist, bro....

Semoga pasca pemilu Indonesia tetap damai....setelah pengumuman hasil perhitungan suara Indonesia Makin Damai.......Pasca semuanya...INDONESIA LEBIH BAIK.....AMIN.... 



#pilpresyangmengenaskankarenablackcampaigndanjelas-jelasmemecahbelahbangsaini



Senin, 12 Mei 2014

IBU - Antara Lagu, Puisi dan Kenangan.....

IBU


Bersinar Kau bagai cahaya
Yang selalu beriku penerangan
Selembut sutra kasihmu kan
Slalu kurasa dalam suka dan duka

Kaulah ibuku,
Cinta kasihku,
Trima kasihku takkan pernah terhenti
Kau bagai matahari
Yang slalu bersinar
Sinari hidupku dengan kehangatanmu

Bagaikan embun kesejukan
Hati ini dengan kasih sayangmu
Betapa  Kau sangat berarti
Dan bagiku Kau takkan pernah terganti

Kaulah ibuku,
Cinta kasihku
Trima kasihku takkan pernah terhenti
Kau bagai matahari
Yang slalu bersinar
Sinari hidupku dengan kehangatanmu

by : Farhan dan Haddad Alwi

**********

Terus-terusan ngedengerin lagu ini, soalnya lagu ini yang akan dibawain kelasnya Kak Ciwa untuk acara Gebyar di sekolah. Sedang mikirin sedikit koreo dan buat [hanya] beberapa bait puisi di sela-sela intro lagu.....Tapi yang terjadi malah lain. Mewek....akkhhhhh....

Hmmppff....rasanya bersyukur banget, saat nemenin temennya Ka Ciwa latihan, aku gak perlu 'ngerasain' lagunya, karena harus konsentrasi liatin gerakannya mereka. Tapi kali ini, justru harus konsentrasi dengerin lagunya supaya tau puisi bisa dimasukin dibagian mana, seberapa panjang bisanya, dst dst dst.....

Belom lagi harus ikut menghayati liriknya, karena harapannya ya....isi puisi gak 'nyebrang' ama lirik lagu......Rasanya banyak banget kalimat bagus yang bisa di pake. Tapi ternyata, saat hati melow dan harus bikin sedikit kalimat [yang bakal di-akuin sebagai puisi ini] pada rentang waktu yang singkat.....kok malah susah yaaa....hiks....

Setelah dibuat,dengan estimasi pembacaan yang tepat dengan berakhirnya intro, kok jadi biasa bangetsss....ahhhhh......tidak mudah ternyata...

Puisi tentang Ibu ' berserakan' dimana-mana, apalagi di dunia maya. Berserakan juga di hati dan pikiran, tapi kok malah gak mampu memilih yang terbaik dan menjadikannya kalimat yang kuat dan mewakili semua yang 'berserakan' itu tadi yaaaa....Ohh...dhon....come on....


#angkatbenderaputihduludeh.....


Sabtu, 12 April 2014

Curhat #1

Tadi sore, setelah beberapa lama menunggu Ciwa selesai les Kumon, kami mampir dulu untuk sholat Maghrib di Masjid terdekat sebelum melanjutkan belanja beberapa keperluan di swalayan lalu pulang.

Sudah beberapa kali kami sekeluarga mampir di Masjid tersebut.Biasanya memang kalau berencana pergi jalan-jalan dan ternyata masuk waktu maghrib di daerah sekitar masjid, kami pasti berhenti dimasjid ini. Dan tanpa sengaja, beberapa kali aku memperhatikan ada yang menarik di masjid ini. Maghrib kali ini pun,pemandangan serupa aku temui.

Saat azan masih berkumandang, kulihat beberapa anak kecil ( kadang ada juga yang kalau lihat postur dan wajahnya  kira-kira udah SMP) sudah mulai sholat duluan. Aku pikir,apa mungkin mereka sedang melakukan sholat sunnah.Tapi ternyata, setelah selesai sholat, anak-anak ini tidak ikut sholat maghrib berjamaah. Persis seperti kali ini. Tiga orang anak kecil terlihat tidak sholat berjamaah, malah memilih bercakap-cakap di shaf belakang.

Entah kenapa,kali ini aku tergelitik ingin tau, kenapa mereka tidak ikut sholat berjamaah. Aku dekati mereka.

'Kakak....kok gak pada sholat ?',tanyaku.
Salah seorang dari mereka menjawab, 'Udah tadi tante'...
'Loh, kok gak ikut sholat berjamaah?', lanjutku.
Mereka hanya tersenyum berpandangan.
'Memangnya setelah sholat ini ada acara lain ya? Ngaji?', aku mengernyitkan kening.
'Gak....",jawab anak yang lain. 'Tapi mama nanti ngaji di sini', lanjutnya. 'Mama saya yang ini',katanya sambil menunjuk salah satu jemaah di depan kami.
'Ooooo.....'.Aku mengangguk-angguk.

'Kakak kelas berapa?, tanyaku sambil menunjuk pada anak yang berada di tengah.
'Kelas 3 tante'
'Kalau kakak?, aku beralih ke yang sebelah kanannya.
'Kelas 3'.
'Kakak yang ini?,tanyaku ke anak perempuan paling kecil.
'Kelas 2 tante'.
'Udah gede-gede yaaa.....',aku tersenyum.
'Besok-besok,kalo sholat di masjid lagi,sholatnya jamaah,biar dapat lebih gede pahalanya. Ya?....
Ketiganya tersenyum sambil menggangguk kecil.
'Udah diajarin pasti kan ama guru di sekolah,biasanya kalau orang sholat di masjid, itu ingin ikut berjamaah,karena lebih bagus dan lebih gede pahalanya. Kalau sholatnya sendiri,kan sama aja seperti sholat di rumah.Iya kan?', ujarku pelan.
Mereka kembali mengangguk.

'Tante pergi ke sini sama siapa?', salah satu dari mereka bertanya padaku.
' Sama suami dan anak-anak tante.Tuh anak tante yang ketiga dari kiri,yang paling pendek di situ', jawabku sambil menunjuk ke arah shaf ibu-ibu.
'Tante kenapa gak sholat?', tanyanya lagi.
'Hmmm iya tante lagi gak bisa sholat.Pernah lihat gak kalo mamanya ada waktu tertentu gak bisa sholat?'
'Pernah.Katanya mama lagi halangan',jawab yang paling kecil.
'Kalau kata mamaku,lagi mens....',jawab yang lain.
'Iya bener,memang gitu. Ada kalanya seperti itu.Dan memang kalau sedang halangan,gak boleh sholat. Kakak juga nanti bakal begitu.
'Biasanya kalo udah melahirkan kan tante?. Lagi-lagi yang paling kecil bertanya.
'Gak juga ....',jawabku yang langsung ditambahi oleh salah satu yang lain.
'Temanku ada yang baru kelas 4 udah mens dia tante.....'
'Iya...memang bisa aja. Kalau udah begitu, ya memang gak boleh sholat. Tapi gak lama-lama.Paling seminggu, terus harus sholat lagi'

Aku lihat sholat sudah hampir salam. Percakapan pun aku tutup dengan: 'Besok jamaah yaaa.....",ujarku sambil tersenyum lebar. 

********

Aku hanya berpikir,kadang kita sebagai orang tua lupa untuk mengingatkan,atau bisa jadi malas untuk bersusah-susah mengingatkan anak-anak kita apa yang seharusnya dia lakukan.Yang penting kita ibadah.Sementara anak-anak kita masih kecil,bukan masalah kalau dia masih tidak melakukan hal yang benar.Memang bisa jadi pemikiran ini tidak salah pada kondisi-kondisi tertentu.Tapi anak SD kelas 2 dan 3! Rasanya mereka sudah cukup matang untuk tahu dan diajarkan melakukan hal yang benar.  

Aku 'menampar' diriku sendiri. Anak-anak selalu butuh orangtua yang mau dan rela menyediakan waktunya untuk memperhatikan mereka. Melihat apa yang mereka kerjakan.Ikut bersamanya, menghargainya. Memberinya pujian atas kerja kerasnya, menasehatinya atas kesalahannya.

Teringat suatu ketika, di suatu malam yang sudah cukup larut.Mataku sudah tak kuasa ku tahan, mengantuk luar biasa.Anak sulungku masih dengan energinya yang super duper,memintaku menemaninya membuat origami. Aku katakan kalo aku sudah sangat lelah. Aku mengambilkannya kertas origami namun kukatakan kepadanya untuk melipat sendiri. Tak lama aku coba mengintip.Ternyata anakku ini tidur telungkup di lantai dengan air mata berderai. Aku langsung bangkit, tiduran disebelahnya sambil bilang, 'Kak, mama temanin kakak, tapi mama tiduran ya...kakak lipat aja. Nanti kalo gak ngerti baru mama bantu....ya...',ucapku setengah mengantuk. Apa yang terjadi? Dengan serta merta dia bangkit, mengelap air matanya,dan mulai melipat. Kami berdua tidak berhasil membuat origami yang diinginkannya.Tapi anakku tak marah.Hanya bilang, 'Besok kita coba lagi ya Ma'....
Yang membuatku bahagia, adalah....karena aku tau,dia tidur dengan perasaan bahagia...bukan sebaliknya...

Ah....kadang hanya segelintir saja dari waktu penatmu, Dhon.....:-(



#Curhat di tengah malam.

Kamis, 27 Maret 2014

Bookmark. Yes or No?

Belakangan, blogwalking jadi hobi. Gimana enggak, terlalu banyak hal positif yang bisa didapat dari mengunjungi banyak blog-blog orang lain. Mulai dari info parenting, masak-memasak, berbagai info yang berhubungan dengan blog, tentang review buku,....semuanya ada deh. Dan jujur, dari banyak blog-blog tersebut, ada saja yang menarik hatiku untuk mem-bookmark atau bahkan mem-follow mereka.

Bagi aku, beberapa hal yang membuat aku suka pada blog-blog tersebut adalah :
1. Kontennya, pasti donk ya. Isi yang menarik dan sesuai dengan minat kita akan sangat mempengaruhi penilaian kita. 

2. Gaya bahasa, seringkali takjub dengan begitu banyaknya orang yang mampu membuat kata-kata dengan begitu indah dan sangat mudah di cerna. Dan....mampu menggugah....ada yang blak-blakan tapi asyik, tapi ada juga yang serius tapi juga tetep bikin asyik, gak bosenin. #kapan yaa bisa seperti itu....

3. Ramah, kalau yang punya blog ramah,tambah seneng lagi.....hihihi. Salah satu penilaian poin 3 ini adalah dari kolom komentarnya...:-)

4. Teteup, tampilan blog. Entah kenapa bagi aku, yang satu ini tetep diperhitungkan. Tampilan yang ciamik biasanya mampu menarik minatku untuk mantengin tuh blog lama-lama...hehehe.

Ke-4 poin itu sih menurutku ya. Tentu bisa berbeda dengan orang lain.
Kalau anda, bagaimanakah?
Kasih masukan donk...terutama tentang blog ini yaaaa...
TQ


Senin, 17 Maret 2014

#Melawan Asap (2)

KODOK PUN BERNYANYI...

Sudah hampir 2 bulan merindukan hujan
Bukan hanya aku,
Tapi juga kodok gede-gede yang suka pamer diri di depan dan belakang rumah
Tapi juga rumput-rumput yang ke-gersang-an 
dan pohon-pohon yang masih terus menggugurkan daun-daunnya yang menguning
Tapi juga matahari,
yang bosan karena cahayanya terus dihadang ASAP kuning dan berbau
Tapi juga anak-anak kecil yang rindu bermain hujan

Aku suka hujan,
Saat rintik-rintik air itu turun dari ketinggian langit
menabrak genteng-genteng rumah
Bunyinya syahdu, menentramkan
Suara yang dihasilkannya bagai alunan musik orkestra yang dipimpin oleh conductor yang Maha piawai
Dengar saja...
Mulai dari rintiknya,disertai angin kencang,
Hingga semua titik air hujan itu berebut mencapai bumi
Ahhhh....indah......

Dari dulu,
setiap hujan datang, terutama malam hari
Hati terasa tentram....
Tidur seakan ditemani alunan musik indah
Belum lagi suasana sejuk yang selalu membuat tidur menjadi lebih nyenyak

Alhamdulillah,
Dari berita,sms, bbm, status socmed
Hujan sudah turun di beberapa wilayah di RIAU
termasuk di daerah dekat rumah
Meski belum di area perumahan kami
Tapi syukur luar biasa
Perang #Melawan Asap memberikan hasil

Dan akhirnya,
kodok pun ikut bernyanyi,
Meski bukan kodok yang sering 'nyengir' di depan rumah
Sabar ya Dok.....belum giliran kita....



#Hujan penuh rahmat

Jumat, 14 Maret 2014

#MelawanAsap




 Sumber Gambar di sini

 
Sejak kemarin siang,kantor diliburkan. Bencana asap di bumi Lancang Kuning,akhirnya meruntuhkan dahsyatnya dinding yang biasanya lebih ingin bertahan. Kemarin siang, asap memang tambah tebal dan pekat, jarak pandang sangat dekat, bau asap sudah semakin parah. Aku tak pernah sesak karena bencana asap RIAU sebelumnya.Sebelas tahun menjadi penghuni bawah langit RIAU, baru kemarin, asap membuatku sesak dengan tenggorokan yang terasa kering dan perih.

Pagi ini, kuintip warna langit lewat jendela depan rumah. Masih belum berubah. Langit masih saja berwarna putih kekuningan karena asap. Jendela pun tak lagi ku buka, karena takkan lagi mampu menghantarkan udara bersih bagi seisi rumah. Ya Allah...ampuni dosa-dosa kami, dosa-dosa hamba-hamba-Mu.....turunkanlah hujan rahmat bagi tanah Lancang Kuning ini Ya Allah....

Bagai terpenjara. Karena untuk waktu ini, berada di dalam rumah,menghindari aktifitas di luar, adalah jalan keluar yang terbaik. Status FB, BBM dari teman-teman, isinya semua tentang ASAP. Beberapa sudah memutuskan untuk beranjak dari kota yang katanya tak lagi layak huni ini. Yang kadar oksigen murninya tinggal 1% (Astaghfirullah.....). Mereka nekat menempuh jalan darat maupun laut, karena bandara pun tutup.

Ku lihat diri sendiri. Tenggorokan masih sakit, meski sudah lebih baik dari kemarin. Migrain masih saja setia, flu yang tak kunjung sembuh,badan yang terasa lemas. Aku terpaku,melihat suami yang masih sibuk ini itu.'Masih ada yang harus disiapin buat acara di kampus besok, Ma',ujarnya. Aku cuma bisa menghembuskan nafas panjang. Semoga bisa segera selesai. Ku cermati anak-anakku. Si kakak sudah mulai batuk-batuk.Aku bersyukur,mereka masih bisa main dengan riang di dalam rumah.

Entah apa yang dipikirkan penguasa-penguasa negeri ini, terutama pemerintah daerah atau siapa saja yang sebetulnya punya 'tangan' dan kekuatan untuk berbuat. Masak masyarakat cuma di suruh pasrah pada Allah SWT saja. Sementara Allah SWT menyuruh kita terus berbuat untuk mampu mengubah nasib. Asap Riau memang bukan barang baru. Tapi bukan berarti harus terima nasib dan pasrah saja pada keadaan donk....

Belum lagi para caleg yang sebelumnya sibuk janji ini itu demi jebol di pemilu April ini. Suaranya ruame bahkan kadang nyebelin. Tempel poster sana sini. Bilang sudah berbuat ini dan itu demi kebaikan banyak orang. Ini ASAP bencana sungguhan Bung.....apa ente gak ngeliat? Itu asap juga 'pamer' warna dan bau di rumah ente toh?.....trus, manaaaaaaa actionnnyaaa? Banjir di tanah orang sibuknya muintak ampyun.....bencana kelud, huebohhh, pasang foto bantuan ini itu....Ini juga bencana Mennnnn......di bawah langit di mana kamu bernaung...lalu mana foto-foto aksimu???
Riau ini juga Indonesia kannn.....bukan cuma Jakarta....:-(
Nasebb...nasebb....daerah.....

Akkhhh......
sudah 49.500 lebih masyarakat Riau terkena ispa
oksigen bukan lagi 'barang' gratis
karena harus beli tabung oksigen kalo mau dapet oksigen murni
berapa banyak orang yang asma harus merasakan pedih dan sulitnya oksigen murni?
Lhaaa...ini kan BENCANA juga wahai para pemimpin negeri
atau para CALON pemimpin negeri....
Sedih.....

Lalu, yang terus aja semangat buat bakar-bakar...
Sepertinya janji Tuhan atas pembalasasn bagi orang-orangyang mendholimi orang lain
gak bikin kalian pada takut ya...
Mengambil hak sebegitu banyak orang
Disumpah serapahin....
Luar biasa SINTING kalian memang....
Allah SWT gak tidur.....kalian akan dapat balasannya !!!

Teman,
Siapapun, dimanapun,
Biarpun anda tidak tinggal di bawah langit RIAU
Ayo....luangkan waktumu sedikit saja untuk membantu tanah lancang kuning ini
Suarakan #MelawanAsap dan #PrayForRiau
Hal-hal kecil dapat menjadi besar
Jika kita melakukannya bersama-sama



Letih dengan keadaan asap begini
Umbansari Atas,