Iboih Beach, Sabang, Weh Island, Aceh.

Iboih Beach, Sabang, Weh Island, Aceh.
Tampilkan postingan dengan label Familiy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Familiy. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Februari 2015

Kado dari Fadhli

Alhamdulillah, Fadhli berhasil menjadi juara 2 lomba menyanyi tingkat TK se-kecamatan Rumbai. Ibu guru yang melatihnya, Bu Devi, riang luar biasa. Meski sempat berharap sekolah mereka mendapatkan tempat terbaik, tapi bu Devi cukup bangga Fadhli bisa berada diposisi itu.

Fadhli itu memang terlihat lebih pede dibandingkan kakaknya untuk urusan panggung. Sejak kecil, beberapa kali kalau melihat ada panggung pada acara yang digelar di beberapa Mall yang kami datangi, Fadhli seringnya memaksa minta dinaikkan ke atas panggung.

Untuk soal menyanyi, meski belum bisa mengolah vocal seperti layaknya anak-anak yang sering kita lihat di Indonesian Idol Junior, tapi Fadhli juga lebih 'sadar' nada ketimbang kak Ciwa. Ini kami sadari saat kak Ciwa harus berlatih lagu-lagu baru yang akan diambil nilainya di sekolah. Kadang beberapa kali harus mengingatkan Ciwa note yang benar dari penggalan lagu-lagu yang dinyanyikannya. Dan Fadhli yang ikut mendengar seringkali mencoba menyanyikan juga, dan dengan note yang tepat !

Fadhli juga sebetulnya tipe yang moody banget. Sekarang bisa bilang iya, besok-besok bisa berubah. Bahkan kadang dalam hitungan jam saja! Ini ternyata disadari juga oleh Bu Devi. Saat pertama kali latihan menggunakan musik (keyboard) di rumah salah satu guru, beliau menceritakan bagaimana proses pemilihan perwakilan sekolah berlangsung. Sebetulnya ada 2 anak yang sempat menjadi calon kuat yang terpilih. Salah satunya fadhli. Namun menurut bu Devi, fadhli lebih bisa cepat meyesuaikan nada. Jadi seperti ada feeling kalo dia menyanyi pada nada yang gak pas, terus berusaha menyesuaikan. Namun kekuatiran diungkapkan juga oleh beberapa guru yang lain saat tahu Fadhli yang terpilih. Apalagi kalau bukan karena urusan moddy-nya Fadhli itu. Tapi bu Devi berhasil meyakinkan guru-guru lain termasuk Kepala Sekolah TK, bahwa beliau akan bisa merayu Fadhli :-)

Ini adalah kompetisi individu pertama yang diikuti fadhli. Kompetisi sebelumnya biasanya berkelompok (mewarnai) atau berpasangan (fashion show). Sebagai orang tua tentu aku dan suami sangat mendukung kegiatan positif ini. Berharap ini menjadi ajang belajar bagi Fadhli untuk mengasah kemampuan yang dia punya sekaligus membentuk rasa percaya dirinya. Meski jujur, aku sendiri kuatir sekali jika Fadhli tiba-tiba bilang tidak mau ikut.

Tapi apa yang aku kuatirkan alhamdulillah tidak terjadi. Meski setelah latihan dengan musik Fadhli sempat bilang takut jika suaranya nanti tidak sampai pada nada-nada tinggi, tapi keinginannya untuk ikut tidak berubah. Bu Devi juga cukup lihai mengambil hatinya.Tipe guru yang sabar dan pintar mengambil hati anak-anak. 

Sebetulnya pada latihan terakhir, Fadhli masih kadang terlalu cepat atau justru terlalu lambat saat masuk di Refrain. Mungkin karena selama ini belajarnya tidak pernah pakai musik, jadi belum tahu berapa ketukan dari bait terakhir ke bait refrain. Aku sempat kuatir dan berusaha mengajarkannya lagi di rumah dengan merekam musik dari guru fadhli. Tapi karena Fadhli mengeluh capek, aku urung mengajarinya. Aku pikir, kondisi tubuh yang fit juga penting.

Saat Fadhli tampil, aku sudah deg-deg-an saja menunggu hingga masuk ke bagian refrain. Ah, bagaimanapun keberaniannya sudah membuatku bangga. Tapi ternyata diluar ekspektasiku, Fadhli justru masuk dengan sangat tepat pada Refrain lagu. Suaranya, penghayatannya, bikin emaknya ini nangis. Diam-diam aku menyeka ujung mata terus. Ternyata pagi itu sebelum tampil, Fadhli masih sempat berlatih sama gurunya.

Aku beberapa kali mendesah, mendengar  di beberapa bait suara fadhli terasa naik atau turun nadanya. Tapi memang hampir rata-rata peserta lomba menyanyi dengan nada yang tidak sesuai dengan waktu gladi bersih. Kata juri, hampir semua naik satu dari nada yang tercatat pada catatan juri. Tapi di bait selanjutnya, fadhli berhasil masuk ke nada yang benar. Meski ada goyang di sana-sini.

Ini baru langkah awal yang baik. Selanjutnya Fadhli akan kembali ikut di tingkat kota Pekanbaru. Jika kembali mendapat tiga besar, akan tampil dan berkompetisi di tingkat Propinsi. Tapi aku tak ingin berharap aneh-aneh. Olah vokal Fadhli masih apa adanya, pure. Ada banyak anak-anak yang bahkan sudah bisa mengolah vocal bagai orang dewasa. Persaingan akan semakin ketat. Apapun yang terjadi nanti, bagi kami, Fadhli adalah juaranya.Juara di hati Mama dan Papa nya :-)

Penampilan Fadhli bisa dilihat di link berikut :

http://youtu.be/wtu8FjwPIY8
http://youtu.be/3RfYFVB4mjg



10 February 2015
Kado ultah Mama dari Fadhli
:-)
Terimakasih Fadhli Sholeh.



Rabu, 14 Januari 2015

Ceritaku : Masa-masa Penantian

10 Januari lalu, sulungku genap berusia 9 tahun. Status suamiku disini, mau tak mau membawaku kilas balik. Waktu dimana rasa penantian akan hadirnya buah hati, begitu membahagiakan, tapi juga mencuatkan kekhawatiran yang dalam. Kali ini, aku ingin berbagi, masa-masa itu, semua perasaan yang terjadi.

**********************************************************
Kami menikah di February 2003. Kebahagiaan sebagai pasangan baru juga kami rasakan sebagaimana pasangan-pasangan baru biasanya. Meski hanimunnya hanya di Batam, sambil menemani suami bekerja. Seiring berjalannya waktu, kami memutuskan tak lagi ingin LDR. Kata orang-orang tua, tidak baik. Meskipun jalan panjang perdebatan dan tarik ulur kami lalui meski hanya lewat media telephon.

Tak ada yang perlu dikhawatirkan, apa pun konsekuensi yang kami hadapi setelah bersama,kami nikmati dan lalui. Kesederhanaan yang kami kenang hingga sekarang. Yang membuat kami bisa tersenyum atau menangis saat mengenangnya.

Namun, gusar itu mulai datang. Setelah hampir memasuki 3 tahun pernikahan, aku tak kunjung hamil. Sebagai pasangan yang memang menginginkan keturunan, kami tentu berusaha, sesuai dengan kemampuan kami. 

Kala itu (bahkan sampai hari ini), aku bersyukur, dikelilingi keluarga besar yang sangat menyayangi dan mengerti kami. Mertua ku, punya 13 anak. Suamiku adalah bungsu dari 13 bersaudara. Cucu-cucu mertua luar biasa banyak. Sehingga beliau tak ribut dan mendesak meski kami belum juga memberinya cucu. Meski suamiku adalah anak yang paling dekat dengan ibu mertua, tapi beliau tak pernah menyakiti kami dengan terus bertanya tentang kehamilanku. Ditambah lagi, dua kakak iparku pun masih terus berobat kesana kemari untuk memperoleh keturunan.

Sementara papa ku (aku tak lagi punya mama), adalah malaikat penolongku. Beliau yang paling mengerti keadaanku. Pernah sekali papaku memberikan informasi mengenai tempat dimana aku bisa mencoba untuk berobat, tapi disampaikan dengan sangat halus, sehingga bukan membuatku tersudut, justru memotivasiku untuk semangat mencari info lebih banyak.

Aku dan suami berusaha tegar dan saling menyemangati. Tapi suara sumbang di luar sana yang kadang meruntuhkan dinding ketegaranku. Akhirnya kusadari,sebagai wanita yang belum juga dikaruniai anak, aku menjadi sangat sensitif, jika tidak mau disebut over sensitif. Kata-kata seperti: "Wah, si X tokcer ya, baru 2 bulan menikah sudah hamil" atau perbincangan seru tentang seorang teman yang baru saja positif hamil, bisa membuat hidung dan mataku panas,lalu bulir-bulir yang akan tumpah aku sembunyikan di toilet. Emosi pun ku buang di sana. Ah...bukan hanya sekali dua kali, tapi mungkin puluhan bahkan ratusan kali, rasanya hatiku tercabik. Banyak orang yang tidak pernah mengalami, takkan bisa mengerti, bahwa candaan mereka tak terdengar bagai candaan bagi orang-orang seperti ku (saat itu).

Aku makin sering mewek dan semakin lemah. Bahkan iklan bayi di televisi pun bisa membuatku sesengukkan. Aku ingat, saat itu kami sedang berdua-an melewati sore di depan televisi. Iklan tivi yang menampilkan seorang bayi yang sangat lucu, sontak membuat hatiku perih, merindu, dan air mata ku pun tumpah. Suamiku yang menyadari hal itu, segera memelukku dan menenangkanku. 'Na, Allah maha tahu kapan kita siap untuk dititipkan anak". (Ena : panggilannya untukku sebelum kami punya anak. Sebutanku untuk diriku sendiri sejak kecil). Lalu tangannya mengusap air mataku. Aku tahu dia ikut sedih. Karena itu,di tiap momen yang sama, aku berusaha memalingkan wajah ke arah lain, membelakanginya, dan sesegukkan pelan, agar dia tak tahu. 

Kami pernah ke dokter kandungan untuk berobat. Dokter membekali kami jadwal (you know what kind of jadwal it is) dan memberikan obat penyubur. Sebulan setelahnya,menstruasiku tetap saja setia mengunjungi. Setelahnya, kami berdua pasrah, tak lagi ingin ke dokter. Aku hanya mencoba resep-resep kampung yang aku dapat dari orang-orang tua disekelilingku atau dari seorang teman yang juga setelah 4 tahun menikah baru memiliki anak. Waktu terus berlalu, begitu membahagiakan karena kami saling mendukung satu sama lain, meski banyak sekali hal yang terasa mencoba menodai kebahagiaan kami. Sehingga kadang waktu terasa berjalan begitu lambat. Ada saat dimana kami sudah pasrah, dan memutuskan untuk segera mengangkat anak.

Ada yang bilang, coba pindah rumah, siapa tahu lingkungannya gak bagus. Hmmm...tak semudah itu pindah dan mencari rumah, bagi kami saat itu. Ada yang bilang, jangan tinggal di rumah mertua biar tidak stress. Tapi kami memang tidak tinggal di rumah mertua. Ada yang bilang coba berlibur, berhanimun lagi. Tak pernah kusangka, salah satu jalan-jalan kami, bisa jadi adalah apa yang dikatakan orang itu.

Aku sakit, demam tinggi. Akhirnya harus menjalani opname di RSI Ibnu Sina. Saat itu,aku sedang deg-deg an menanti, apakah si bulan akan datang berkunjung. Ya, setiap bulan, aku selalu menghitung dan menunggu saatnya datang bulan, berharap dia lupa. Berlembar-lembar test pack aku habiskan, dari yang murah hingga yang mahal. Hari ke-2 di RS, saat ke toilet,ku temui bercak merah, lagi....aku menangis. Kusampaikan pada suamiku. "Gak papa, yang penting sekarang ena sembuh dulu", katanya menenangkan. Hampir tiap malam aku tidak bisa tidur. Entah kenapa rasanya badanku panas sekali. Berkali-kali aku menekan bel dan meminta perawat memberikanku obat tidur. Hari ke-3, aku mual. Aku benci tiap kali perawat membawakanku makanan. Baunya bikin perutku mual. Kusampaikan ini pada dokter yang merawatku saat kunjungannya. Lalu dokter memintaku untuk tes urine. Aku tidak tau apa maksudnya. Jika dokter ingin tau apakah aku mual karena hamil, jelas kemarin sudah ada tanda bercak merah, aku mens. Tapi kubiarkan saja,mungkin ada hal lain yang ingin diujinya. 

Subuh itu suamiku sudah bangun. Seperti biasa, dia melakukan sholat berjamaah di masjid RS. Seorang perawat jaga datang pagi-pagi meghampiriku. Katanya: "Ibu, hasil tes urine nya positif". Aku hanya diam, merasa tidak mengerti apa maksudnya. Lalu setelah dia keluar, aku coba memikirkan apa maksud kata-katanya. Apa aku tidak salah dengar? Dengan tak sabar dan penasaran kusampaikan berita itu ke suamiku sepulangnya dari sholat. Tergopoh-gopoh dan setengah berlari dia keluar mendatangi meja perawat. Lalu kembali padaku dan bilang : "Iya, katanya ena hamil, hasilnya positif". Tapii....bercak merah kemarin??? (Setelahnya aku tahu dari buku yang kubaca, bahwa pada saat zigot menempel pada dinding rahim, bisa ada sedikit luka dan bercak darah).

Bahagia? Jangan ditanya. Dua setengah tahun lebih adalah penantian yang cukup lama. Orang tua pasti yang pertama kali kami kabari.Bahagia rasanya mendengar mereka pun bahagia. Setelah baikan, aku dibolehkan pulang ke rumah. Hamil muda ku tak mudah. Mual luar biasa, yang kadang membuatku merintih dan mengeluh sepanjang hari.Yang membuat suamiku bingung apa yang bisa dia bantu. Dia hanya memintaku sabar, dan mengingat, bukankah ini yang kami pintakan dalam do'a-do'a kami dalam hampir tiga tahun ini? Lalu aku mereda, meski nanti mulai lagi merintih kesakitan.

Setelah beberapa hari di rumah, tiba-tiba saja, ada bercak-bercak merah keluar di sekujur badanku. Awalnya aku pikir hanya panas yang keluar dari badan sehingga menimbulkan bercak-bercak merah. Namun, aku mulai tak tenang, saat salah seorang ibu yang notabene adalah mantan perawat mengkhawatirkan, bahwa itu semacam cacar atau campak. Rubella,TORCH !Oh ya Allah...benarkah?

Aku mulai mencari tahu tentang ibu hamil yang mungkin bisa mengidap penyakit ini, dan apa dampaknya bagi kesehatan janin. Aku kembali hancur....aku ketakutan luar biasa. Meski berusaha menyembunyikannya,aku tahu suamiku juga kuatir. Kami mencoba bertanya ke salah satu RS yang paling besar di Pekanbaru saat itu, tentang test yang bisa dilakukan untuk mengetahui apakah aku benar-benar terserang penyakit itu. Ternyata RS tersebut tidak punya alatnya, mereka akan mengirimkan sampel darahku ke Jakarta. Dan biayanya? Cukup mahal bagi kantong kami saat itu. Pasrah, berada diantara keyakinan dan kegalauan, diantara pasrah dan takut, kami berdua sepakat untuk tidak melakukan test dan banyak berdo'a.

Lagi, ibu tersebut menyarankan, agar kandungan ku digugurkan saja. Daripada nanti cacat katanya. Aku luluh lantak, berkeping, menangis sejadi-jadinya. Kepingan hati terserak yang serasa tak mampu aku susun kembali. Sampai hati. Kami menantinya selama hampir 3 tahun. Saat Allah menitipkannya, kami diminta untuk 'melepas'kannya? 

Aku memutuskan untuk curhat ke papaku. Orang paling bijaksana seantero jagat bagiku. Aku menangis, mengadu, menyampaikan kegelisahanku. Ah....Allah telah menitipkan bidadara surga dunia ini untuk kami. Papa menguatkanku. Membuatku yakin, bahwa Allah Maha tahu yang terbaik bagi hambanya. Mendo'akan dengan tulus dan keyakinannya yang besar, bahwa anak yang kukandung, akan lahir dengan sehat dan sempurna. Tangisku pecah lalu mereda. Aku meyakini Allah akan mengijabah setiap do'a yang dihantarkan ke langit oleh orang tua kita. Kami menguatkan hati sambil terus berdo'a agar dedek bayi selalu sehat.

Aku belajar untuk tidak makan yang aneh-aneh selama hamil muda. Tidak juga bakso kesukaanku. Apalagi telur setengah matang dan sayuran mentah. Suami membuatkan penganan ikan yang benar-benar masak, tidak lagi setengah masak seperti kesukaannya. Penyataan seorang dokter kandungan tentang sakit yang pernah aku alami di awal kehamilan, bahwa belum tentu itu virus Rubella, menguatkan aku. Hari demi hari kami lalui dengan terus saling menguatkan. Perut yang semakin besar membuat gerakku semakin lamban. Tidak lagi leluasa duduk untuk mencuci. Lalu suamiku mengambil alih pekerjaan rumah. Meski begitu, semangatku tetap membara saat membersihkan rumah baru kami, agar bisa di tempati bayi mungil kami kelak dia lahir. Ya, Allah memang Maha tahu. Panjang ceritanya, hingga aku mendapatkan jatah perumahan di kantor, bahkan cara Allah membantu kami, hingga kami bisa membayar DP-nya. Sampai dengan ucapan suamiku sebelumnya,bahwa mungkin, calon bayi kami tak ingin lahir di rumah kontrakan kami yang lembab dan dingin. Benar saja, ucapannya bak dicatat malaikat. Aku hamil dan bersamaan dengan itu aku mendapatkan jatah di perumahan dari kantor. Subhanallah. Ah....inilah kenangan luar biasa yang akan kami kenang hingga akhir :-)

Saat kehamilan 7 bulan, bayi kami sungsang. Aku sudah berusaha melakukan gerakan sujud yang lama,hingga rasanya kadang darah berkumpul di kepalaku. Tapi di 8 bulan, bayiku tak bergeming dari posisinya. Dokter bilang, jika masih seperti itu hingga kelahiran, aku harus menjalani operasi caesar. Takut? Pasti. Melahirkan normal belum pernah, malah disuruh pula merasakan operasi. Belum lagi keterangan yang aku baca di buku-buku tentang sakitnya suntik anestesi di punggung (tepatnya tulang belakang). Duh....bikin ketakutanku bertambah saja. Sempat aku ingin di'urut' biar bayiku bisa berada pada jalan lahir normal. Hingga di 9 bulan, seorang dokter pengganti (karena dokter kandunganku sedang keluar kota) bilang, bahwa bayi lebih tau mana posisi yang membuatnya nyaman. Dan jika melalui proses urut, bisa menyebabkan kualitas bayi menjadi buruk (memar misalnya), bahkan kematian. Tambah serem. Mungkin bagi bayiku, itulah posisi yang paling nyaman baginya. Kata-kata yang begitu terasa menguatkan.Jika memang itu yang membuatmu nyaman Nak, biarlah mama menahan sakitnya operasi atau sakit setelahnya yang dikatakan orang-orang. Kepasrahan mendatangiku begitu saja.

Dokter pengganti itu bilang, di 10 januari bayiku sudang matang dan siap untuk dipertemukan dengan dunia. Tapi aku tak menentukan tanggal berapa akan menjalani operasi. Sebelum ke Lhokseumawe (kota dimana orangtuaku tinggal) untuk menjalani operasi dan melahirkan, aku masih ingin merayakan Idul Adha di rumah mertua. Malam Idul Adha, aku heran mengapa bajuku terus basah (yang setelahnya aku ketahui adalah asi pertamaku). Ternyata keesokan harinya, tepat di Idul Adha, air ketubanku pecah bercampur darah.Kaget dan panik luar biasa.Setelah mendatangi bidan dan dinyatakan belum ada bukaan sama sekali, keluarga memutuskan membawaku 5 jam perjalanan dari Pangkalan Berandan ke Lhokseumawe. Sementara Ibu dan dokter kandungan keluarga kami sudah menunggu kedatanganku.

Aku masuk ruang operasi dengan perasaan khawatir. Lampu-lampu operasi dan kamar yang dingin membuatku semakin tak nyaman, apalagi tanpa didampingi suami. Tapi teguran akrab dari dokter kandungan membuat ketakutanku mulai mencair. Aku pasrah,sepasrah-pasrahnya dan hanya berharap pada kebaikan untukku dan bayiku, saat dokter anestesi mulai menyuntik bagian belakang punggungku. Kakiku mulai terasa kebas, tak mampu lagi kuangkat. Kain pemisah di depan wajah menutupi mataku dari apa yang dilakukan para dokter. Tapi bayangan di lampu operasi sedikit menyamarkannya. Aku tahu dimana sayatan itu dimulai, awalnya sedikit kaget,namun setelahnya tak ada rasa  sakit. Hingga.....kudengar tangis bayiku. Subhanallah...begitu cepat. Lalu terasa nyeri di tangan kiriku. Ternyata dokter kembali menyuntikkan obat bius yang membuatku tertidur.

Entah berapa lama aku tertidur, yang jelas, begitu aku terbangun yang terlihat pertama kali adalah raut bahagia suamiku. Berkali-kali dia meminta mataku yang masih kantuk untuk melihat bayi mungil kami.Rambutnya yang sangat lebat,hidungnya yang mancung, kulit halus dan putihnya,semuanya begitu mengagumkan. Pelan matanya terbuka mengintip.Ya Allah....kami hanya bisa berterima kasih atas rahmat,karunia dan kasih sayang-Mu. Bayi kami lengkap tanpa kurang satu apapun. Cantik bagai malaikat kecil.

Ada prosesi yang kutinggalkan saat aku masih terbius. Saat suamiku meng-qamat-kan bayi mungil kami. Aku hanya mendengarnya dari cerita ibuku, bahwa suamiku terserak dan haru saat melakukannya. Rekaman video menunjukkan padaku, betapa  bahagianya suamiku melihat putri kecil kami yang masih dalam box bayi. Mengajaknya berbicara.  Mengajaknya membuka mata. Mungkin ini adalah kado terindah kami.

Nasywa Azizah nama yang kami berikan untuk malaikat kecil ini. Yang artinya : Kebahagiaan yang Mulia. Sebagaimana kami menganggapnya adalah kebahagiaan dan berharap hidupnya akan dimuliakan Allah,dunia dan akhirat. Amiin. Ciwa tumbuh menjadi gadis yang pintar dan cantik. Aku tak pernah bisa membayangkan, jikalau dulu aku mengikuti kata orang, mungkin takkan pernah kulihat wajah cantiknya.

Dia 9 tahun sekarang. Dan do'a kami, dia akan terus tumbuh menjadi wanita sholeha yang taat, sayang kepada orang tua, saudara dan sesama. Wanita berakhlak mulia yang sukses di dunia dan akhiratnya, yang mampu membantu dan menginspirasi orang-orang disekitarnya. Amin ya Rab. Kabulkanlah do'a kami.

Nasywa Azizah

Adakah yang mengalami hal serupa. Cobaan-cobaan yang silih berganti. Boleh sharing di sini ya...:-)

Rumbai, 2 hari setelah hari lahir Ciwa




Jumat, 21 November 2014

Kenangan Fadhli di BCMC St. Boromeus Bandung

'Fadhli gak mau lagi ke dokter gigi mama.......'

Fadhli meraung, menangis heboh sambil memegang pipinya. Tak sampai hati aku melihatnya. Kupeluk anakku itu dengan erat.D uuuh...gimana ini. Padahal proses perawatan giginya belum lagi selesai.

Sebelumnya, fadhli gak pernah takut ke dokter gigi. Bahkan saat giginya masih baik-baik aja, fadhli suka sekali minta naik ke kursi untuk pasien, saat bawa Kak Ciwa berobat gigi. Bukan buat ditambal ato lainnya, hanya minta bu dokter liatin giginya dan....selesai :-)

Bahkan saat giginya pun mulai berlubang dan harus menjalani proses tambal, dia baik-baik aja. Pun saat gusinya bengkak karena lubangnya sudah cukup dalam. Trauma dimulai saat masih dalam perawatan, gusi yang tadinya sudah baikan, bengkak dan meradang lagi. Setiap kali mau makan, fadhli mengeluh sakit, meski gak sampai heboh gak mau makan. Sampai suatu kali, saat aku membawanya ke dokter gigi langganan anak-anak. Melihat gusi fadhli yang kembali memerah, ibu dokter pun berpura-pura menggerakkan kapas yang biasa dibuat untuk menahan air liur ke arah gusi yang bengkak sambil menyemprotkan angin di sekitar gusi. Alih-alih berharap cara demikian membuat rasa sakitnya tak terlalu terasa, justru fadhli menjerit kesakitan dan berontak.....Dari situlah, fadhli mulai takut ke dokter gigi, takut bor-nya, takut semprotan angin-nya yang kata fadhli bikin sakit. Dan sulit sekali mengajaknya berkompromi, padahal urusan giginya belum kelar....

Mau tak mau, aku cuma bisa kasihan saat fadhli mengeluh sakit gigi. Pada kedatangan terakhir ke dokter gigi tersebut, gigi fadhli sudah ditambal setengah. Tapi tiba-tiba saja dia menangis keras dan berontak. Alhasil, tambalan tetapnya belum penuh dan sempurna. berapa kali dibujuk oleh papanya, fadhli tetap tak bergeming dan terus menolak. Aku kuatir sekali, lubang yang masih ada karena tambalan belum penuh itu mudah dimasuki makanan dan mudah terbuka lagi.

Dan benar saja, gigi fadhli kembali sakit. Yang bikin tambah bingung, sakitnya datang saat kita sedang di luar kota, di Bandung. Aku dan papanya panik, mau dibawa kemana. Beruntung sekali, saat itu kami sedang bersama adikl aki-laki ku yang keluarga mertuanya memang berdomisili di sana. Adikku menyarankan untuk membawa fadhli ke dokter langganannya di RS. St Boromeus, yang jaraknya dekat sekali dengan hotel tempat kami menginap.

Kartu Berobat Fadhli

Lucu-lucuan sebelum dipanggil masuk ke ruang dokter



Kami masuk ke bagian BCMC (Boromeus Children Medical Centre). Setelah mendaftar dan berada di ruang tunggu, aku masih kuatir, kalau nanti fadhli menolak untuk diobati. Cukup lama juga kami menunggu, sampai dengan nama fadhli dipanggil. Aku langsung menjelaskan keadaan fadhli dan trauma yang pernah dialaminya plus kekuatiranku bahwa dia akan menolak diobati. Sang dokter pun mengangguk mengerti dan segera mendekati fadhli.

Dokter dan perawat ber-aksi

Baru kali itulah,aku merasa,fadhli di -entertain sedemikian sehingga dia merasa nyaman, aman dan menyelesaikan perawatan giginya hari itu. Luar biasa gembira rasanya. Sejak awal aku sudah memperhatikan ruangan dan perawat serta dokter dalam ruangan itu. Seorang perawat khusus hanya mengurusi pendaftaran dan pemanggilan pasien. Sementara perawat satunya bertugas menemani sang dokter, mengajak fadhli bercerita, memuji keberanian fadhli dan lain-lain. Pokoknya mengalihkan perhatian fadhli dari rasa sakit !!!

Fadhli bukannya tak mengeluh dan nangis kesakitan. Wong gusinya bengkak. Pada saat cairan obat disemprotkan ke giginya, fadhli menangis kesakitan, tapi sang dokter dan perawat dengan sigap dan cepat mengajaknya berkumur, memujinya dan terus mengajaknya bercerita.

Sisi lain di ruang Dokter gigi. Ada tivi dengan tayangan kartun.

Televisi dengan tayangan film kartun di bagian depan kursi pasien pun cukup membantu mengalihkan perhatian fadhli. Hingga tak sedikit pun kata-kata bahwa takut bor atau semprot angin dan lain-lain keluar dari bibir fadhli.....Aku dan papanya yang sedari tadi tegang dan was-was menunggu akhirnya menjadi lebih tenang. Hingga akhir, fadhli gak berontak. Malah setelah turun dari kursi, senyumnya lebaaaaar banget. Dan tambah senang saat dikasih hadiah stiker pahlawan oleh Dokter.

Tentu saja apa yang dilakukan oleh dokter adalah masih proses perawatan. Aku pun menjelaskan kalau hanya ada tugas beberapa hari saja di Bandung dan tidak mungkin kembali dalam waktu beberapa hari ke depan untuk membawa fadhli berobat. Dokter memaklumi dan mengatakan bahwa sudah tidak ada masalah dengan gigi fadhli. Namun paling lama 3 minggu harus dibongkar untuk ditambal permanen. 

Meski sempat terasa kuatir dimana di pekanbaru prakter dokter gigi anak yang seperti di RS St.Boromeus. Tapi alhamdulillah sampai sekarang belum ada keluhan dari fadhli. Meski sekarang sudah harus nyari dokter gigi yang tepat lagi buat fadhli ;-D

Berharap ketemu tempat yang tepat buat fadhli di pekanbaru, plus ditanggung asuransi kesehatan yang kami punya....hahahahaha....#kalo ini mah mimpi terus dah....Kalo di St Boromeus yang diterima cuma Kartu Platinum....yang aku pegang cuma Silver....hahahaha.
#curcol nih aselinya....... ;-)







Jumat, 03 Oktober 2014

Liburan ke Aceh - Lhokseumawe - Aceh Lon sayang

Alow sobat...

Kali ini pengen cerita tentang pengalaman balik kampung liburan Lebaran kemarin.Late post sihh....janji ke diri sendiri yang baru bisa ditepati... Daerah yang aku sebut kampung ini bukan kampung halaman sih *secara menurut kebanyakan orang kampung halaman itu adalah tempat asal ortu atau tempat dimana kita dilahirkan* Soalnya diriku bukan dilahirkan di sana, bukan pula kota asal ortu baik ayah atau ibu ku. Tapi....rasanya, justru tempat ini yang paling cucok aku panggil kampung halaman. Meski aku lahir di Palembang, tapi aku justru paling tau dan hapal kota kecil ini. Tempat itu dulunya disebut Zona Industri. Yuppz, kota kecil bernama Lhokseumawe, yang penuh dengan industri-industri.

Sumber PIC

Aku tidak lahir di sana, tapi seluruh masa kecilku, ku ukir di sana. Aceh Lon Sayang. Apapun duka yang pernah terukir di sana, bagiku di sana adalah tempat favoritku. Semoga Aceh terus aman dan kondusif,jadi bisa terus berkembang dan aku bisa terus pulkam untuk mengenang masa kecil dan menikmati pantainya, Amiin. 


Tugu simpang Jam-Lhokseumawe.
Sumber Pic


Kota ini kami singgahi 2 kali dalam perjalanan liburan keluarga kami. Kesempatan pertama,benar-benar hanya singgah, karena hanya semalam lalu kami berangkat menuju Banda Aceh dan diteruskan ke Sabang. Perjalanan pertama ke Sabang yang Amazing pernah aku tuangkan di sini. Kesempatan ke-2 kami singgah saat akan kembali dari Banda Aceh. Niat awal yang hanya 1 hari jadi 2 hari karena kami belum bisa melanjutkan perjalanan disebabkan si Papa kumat Migrainnya. Kelelahan terus-menerus nyupir akhirnya menunjukkan wujudnya, hehehe...

Jujur, seneng bisa lebih lama di sana. Aku sempat lihat rumah Papaku di Lhok, bisa singgah ke beberapa sanak saudara meski belum semuanya, dan yang paling penting adalah : ziarah ke kuburan Mama. Rasanya sudah lamaaa sekali gak ziarah. Meski katanya yang paling penting adalah do'a,namun tetap saja melihat langsung tempat di mana jasad beliau beristirahat terakhir menghadirkan rasa lain.*haru

Sore itu,anak-anak masih pada tidur. Aku dan suami bersiap untuk ziarah. Seperti biasa, parang adalah 'bekal' yang wajib dibawa. Dengan mengendarai sepeda motor milik kakak ipar,kami pun berangkat ke sana. Baru saja memasuki Gapura depan Komplek Perumahan PT.AAF,sekelebat bayangan tentang beragam memori saat di sana, melintas hilir mudik di kepalaku. Di mataku, aku melihat betapa 'lelah' nya komplek ini,tua dan tak terawat. Tapi di kepalaku,aku masih ingat bagaimana ramainya lalu lalang di sana dulu, rumput yang hijau segar, sekurity yang ramai dan ramah,tulisan selamat datang yang gagah....Terakhir kali aku ke sana,rumah-rumah yang terletak di dekat jalan masuk sepi,kosong dan terlihat sangat angker. Tapi sekarang,justru mulai ramai ditinggali dan tampak mulai terawat. Meski secara keseluruhan,pemandangan komplek ini masih amburadul dan kotor.Tapi penghuninya betul-betul ramai dari yang pernah aku ingat. Ternyata sudah banyak orang yang membersihkan rumah-rumah kosong itu dan menempatinya.Entah dengan izin atau tidak. Kolam yang terletak ditengah komplek pun terlihat kotor dan rumputnya gersang. Pohon-pohon besar yang dulu berdiri kokoh di sana menanungi orang-orang yang memancing saat acara 17-an pun sudah tumbang dan dipotong-potong untuk dijadikan kayu bakar. tidak ada yang melarang, orang bebas melakukan apapun di sana. Tapi bukankah begitu lebih baik, dari pada kosong dan seperti rumah hantu?

Asean sekarang......Sumber Pic

Tiba di bagian belakang komplek, di area lapangan sepakbola,ramai sekali anak muda yang bermain di sana. Dulu di belakang lapangan ini menjadi TPA komplek. Meski tetap terlihat sampah di sana-sini, tapi tidak sekotor dulu. Kuburan komplek ada di balik lapangan sepak bola ini. Sedikit turun ke bawah, berbatasan dengan kampung yang berada di sekitar komplek. Jalan ke sana sudah lebih bersih dan lebar. Ternyata ada yang menggunakan lahan kosong di sana untuk bercocok tanam. Pohon yang dulu menaungi nisan-nisan yang ada di sana, semakin menjulang tinggi dan besar.

Mataku mencari-cari, dan terpaku pada nisan milik Mama. Terbayang di mata,terakhir kali mengantarkan jasad beliau ke tempat ini. Jelas, sangat jelas, semua memori itu. 

Tumbuhan merambat yang ada disekitar nisan sudah begitu kuat bersandar pada nisan-nisan di sana. Suamiku dengan sigap membersihkan area di sekitar nisan mama. Setiap kali, dalam hati aku sampaikan, "Ma...ini menantu mama. Menantu yang tak pernah bertemu bahkan melihat wajah mama langsung.Tapi menyayangi mama seperti ena menyayangi mama. Karena dia selalu paham, apa yang ena rasakan tentang mama." *ahh...jadi melow...

Kali ini anak-anak kami tidak ikut.Tapi mereka pernah kami bawa untuk ziarah ke Nyai-nya. Setelah lebih besar, aku tetap ingin mereka tau, siapa dan dimana Nyai-nya dikuburkan. Kami tidak berdo'a di sana. Biarlah lafal do'a bagi beliau kami ucapkan di setiap sujud-sujud kami. Kuburan bukan tempat untuk berdo'a bukan?

Perjalanan di komplek itu kami akhiri dengan bersilaturahmi ke saudara yang sekarang tinggal di sana. Sayang, kami tidak sempat untuk berkunjung ke teman-teman yang tinggal di sekitar Krueng Geukueh, mungkin pun mereka sudah tidak lagi tinggal di sana.

Kesempatan berikutnya, kami jalan di pusat kota Lhokseumawe. Waaahhh...ruko-ruko nya sudah lebih tertata. Aku seneng banget lihatnya, plus jadi belanja ini itu...hahahaha. Soalnya jujur, menurutku lhoh ya, selera orang-orang di sana tuh bagus, sekilas aja lihat barang-barang yang mereka pajangin bikin pengen mampir. Dan memang bener, setelah masuk....gak sulit menemukan barang-barang yang kita suka.Gak harus berantakin atau kibas sana sini buat nemuin barang yang menarik perhatian....sekali lagi ini menurutku loh yaaaa...;-D. So....jadilah banyak barang yang aku beli......wkwkwk

Trus yang cukup berkesan adalahhhhh....makan soto Endang dan martabak plus roti cane bangladesh...Tempatnya tidak banyak berubah,masih se-sederhana dulu, dan sotonya juga masih tetep manteeeeeppp...Porsi kecil yang bikin nagih.....Begitu juga martabak dan roti canenya.....ngangenin abiiissss....*ngiler

Warung soto Endang....Hampir tak ada yang berubah..

Si Abang sedang buatin Roti Cane dan Martabak Telur Pesanan-ku

Saat dalam perjalanan pulang ke Pangkalan Berandan, menuju rumah mertua, kami sempat mampir ke seorang teman lama, namanya Betty. Aku manggilnya Cik Bet....gegara temenku adalah ponakannya juga, kami bertiga se-umuran. Ah...ini bukan teman lagi kali yaaa....kami kenal cukup lama, bahkan dengan keluarga besarnya.....orang-orang baik, lucu dan suka bikin ketawa gak ada matinya :-). Well, berjumpa dengannya terasa spesial. Bahagia, akhirnya bisa bener-bener kopi darat setelah sebelumnya pernah niat jumpa tapi malah gak ktemu. Anak-anakku belum pernah bertemu dengan temanku ini, tapi dasar auranya baik dan nyenengin, anak-anak langsung berani dan kayak udah lama kenal aja Alhamdulillah....bahagia luar biasa.Terserah mau dibilang lebay ato apa...tapi ciyus, ketemu Ci Bet bikin hati tuh bahagiaaa banget, serasa menemukan sebagian kepingan memori indah yang sempat hilang  *haru bahagia.. 

Me and Betty. Sumber :Facebook Betty Salamony

Lagi, dalam perjalanan, kami mampir ke Geudong. Ini tempat kenangan nih. Dulu masa masih mahasiswa, aku dan suami sering makan di salah satu Ruko yang menjual Martabak Durian, kala musim durian di sana. Uenaaaaakkk banget loh...Dan itu kali ke-2 kami mampir. Setelah sebelumnya saat perjalanan menuju Lhokseumawe kami mampir  juga. Dan karena nanti entah kapan lagi bisa mampir, suami beli buanyak buat camilan di mobil. Soalnya Kak Ciwa doyan banget martabak durian.*emaknya juga

Mampir pertama di perjalanan Brandan-Lhok

Mampir ke-2. Bungkussss sebanyak-banyaknya...hehehe

Done !
Next...bersambung tentang perjalanan ke Banda Aceh..
See ya....

Baca juga "
 - Liburan saya dan keluarga ke Sabang 



Jumat, 15 Agustus 2014

Road To Sabang, Weh island, Aceh.



Sudah beberapa tahun ini, setiap kali mudik Lebaran, baik ke Jakarta maupun ke Pangkalan Berandan, kami sekeluarga berusaha untuk mencari destinasi rekreasi maupun traveling terdekat. Ini diakibatkan karena keterbatasan hari cuti dan keterbatasan dana. Hehehe. Jadi, setiap kali mudik harapannya bisa dibarengi dengan travelling ria bersama anak-anak.

Tahun lalu, sambil mudik ke rumah orang tua di Jakarta, kebetulan kami dapat tiket AA murah ke Yogyakarta. So jadilah anak-anak melihat bagaimana besar,luas dan indahnya Candi Borobudur, melihat-lihat keraton plus indahnya kereta-kereta kencana para raja plus naik andhong keliling malioboro.

Dan alhamdulillah, tahun ini, mudik pun kami isi dengan menambah perjalanan darat kami dari pangkalan berandan Sumatera Utara, hingga ke ujung Barat Indonesia, yakni Sabang, Pulau Weh, Aceh.

Perjalanan kami mulai dari Pangkalan Berandan menuju Lhokseumawe, Aceh utara. Perjalanan darat ini ditempuh dalam waktu +/- 5 jam. Besoknya kami lanjutkan perjalanan dari Lhokseumawe menuju Banda Aceh yang ditempuh dalam waktu +/- 6 jam. Untuk sampai ke Sabang, Pulau Weh, maka kita harus menyeberang mengarungi Samudera Hindia menggunakan kapal Ferry/roro (bagi penumpang maupun kendaraan bermotor) atau bisa juga menggunakan kapal cepat (khusus penumpang).



Narsis di Kapal Ferry


Dari pengalaman liburan kemarin, ada 2 jenis kapal Ferry atau roro untuk penyeberangan Pelabuhan Ulee Lheue di Banda Aceh menuju Pelabuhan Balohan di Sabang. Ferry atau roro yang lebih kecil memakan waktu sekitar 3 jam lebih untuk sampai di tempat tujuan, sementara Ferry atau Roro yang muatannya lebih besar hanya membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam saja. Sementara tarifnya sama saja.Tapi kalau ingin tiba lebih cepat,sebaiknya menggunakan kapal cepat yang hanya menghabiskan waktu sekitar 45 menit saja.

Tarif Ferry/Roro Pelabuhan Ulee Lheue - Balohan.
- Dewasa: Rp. 23.000
- Anak-anak : Rp. 13.000
- Mobil + sopir : Rp. 190.000

Untuk yang berniat membawa kendaraan bermotor ke atas kapal ferry/roro,yang paling penting adalah tiba lebih awal, terutama sepeda motor,karena berlaku sistem antrian untuk masuk ke kapal. Seharusnya sih, itu juga berlaku untuk mobil atau kendaraan roda 4. Tetapi pengalaman kemarin, karena kami berangkat pas peak season, secara masih lebaran, jadi yang ngantri ampun-ampun ramenya. Dan yang ngeselin, sistemnya gak ngantri gitu, tapi daftar dulu ke petugas bahkan daftarnya bisa lewat sms atau nitip ke rekan yang sudah nyampe duluan di pelabuhan. Gimana gak bikin banyak orang sewot tuh. Karena jika belum terdaftar, maka kendaraan kita gak akan dibolehkan masuk ke kapal meskipun secara antrian kita sudah di depan pintu masuk. Beberapa pengendara dari luar daerah, termasuk dari Medan,yang tidak tahu menahu aturan ini menjadi sangat kesal karena mobil mereka yang sudah di depan gerbang, justru disuruh minggir untuk membiarkan kendaraan lain dibelakangnya masuk. Argghhhhh.....Entah apa yang beginian terjadi juga saat bukan masa liburan.

Sebagai info tambahan, di kapal ferry, ternyata ada yang tempat duduknya hanya ada pada satu dek saja. Tempat duduknya lebih nyaman tapi sangat terbatas. Sementara di dek atas hanya ada restoran dengan meja-meja bundar dari besi. Di dek ini, banyak penumpang yang tidak kebagian tempat duduk, menempati ruang-ruang dia antara meja bundar itu dengan matras yang disewakan oleh awak kapal.

Sewa Matras di Ferry :Rp. 10.000

Tambahan lain, melintasi Samudera Hindia ini, jika anda beruntung, anda akan bertemu dengan sekumpulan ikan lumba-lumba yang berenang-renang sangat dekat dengan kapal. Saat menyebrang ke Sabang, kami belum bertemu dengan kawanan lumba-lumba, tapi saat kembali, Fadhli berteriak senang karena banyak sekali kawanan lumba-lumba yang berenang di kiri dan kanan kapal ferry yang kami naiki. Bukan hanya fadhli, tapi hampir semua penumpang kapal histeris....:-D

Pelabuhan Balohan hanya sebuah pelabuhan kecil saja, namun cukup ramai, apalagi di musim liburan. Benerrrraaannn....yang mo nyebrang ke Sabang tuh ruameenyaaa minta ampun lho....Sesampainya di Balohan, kami langsung tancap gas ke Iboih Beach, menuju Finna Bungalow tempat kami menginap. Keponakan saya sudah membooking 2 kamar untuk kami di Finna Bungalow melalui seorang teman German-nya. Senang sekali, kami dapat kamar yang sangat strategis, berada dekat sekali dengan bibir pantai Iboih, berada di lantai 3, dengan view langsung ke pantai Iboih dan Pulau Rubiah di seberangnya. Subhanallah, indaaahh. Kami menginap untuk 3D2N saja.

Tarif sewa kamar Finna Bungalow : Rp. 350.000/hari.
Fasilitas  : AC, Wifi, TV, Dispenser ( Hot water), tanpa breakfast.


Pemandangan dari kamar kami di Lantai 3 Finna Bungalow


Di sekitar pantai Iboih juga banyak kamar-kamar sewa tanpa AC yang didirikan di atas batu-batu pantai. Udara dingin dari angin sepoi yang bertiup sudah cukup bikin dingin, apalagi saat malam hari. Biasanya para backpaker pada seneng nginep di sini. Terutama para bule-bule yang pada betah banget di Sabang. Tarifnya lebih murah, sekitar Rp. 150.000 saja.


Foto dengan latar Kamar yang dibangun di atas batuan pinggir pantai. *sssttt....fadhli lagi ngambek*

Sumber pic


Jarak dari Kota Sabang ke Iboih beach sekitar 22 Km dengan jalan yang sempit dan berkelok. Namun jangan kuatir, anda dijamin tidak akan menyesal walau sudah menempuh jalan-jalan sempit yang sulit dan terkadang bikin perut terasa terbolak-balik. Dan meskipun jaraknya lumayan jauh, jangan kuatir, kalau soal makanan, banyak warung-warung nasi disekitaran Iboih beach. Kalo soal ATM, ada BNI dan BRI tempat anda menyedot kas di tabungan anda....hahahaha. Pokoknya yang bisa pake ATM bersama bisa nyedotlah di Iboih Beach tanpa harus ke kota dulu ;-P


Daaaannn...yang paling bisa bikin seru adalah kegiatan Snorkeling dan Diving. Di sekitar pantai Iboih banyak sekali pendatang dari dalam maupun luar negeri maupun penduduk setempat yang sekedar main air atau pasir maupun yang snorkeling. Tapi kalau mau snorkelingnya lebih seru, kita nyebrang dulu ke pulau Rubiah. Di sana ada taman laut dimana ikan-ikannya lebih beragam dan warna warni. Suerrr bikin betah banget. Kagum lihat keindahan terumbu karang dan beragam jenis ikan yang hampir gak pernah diriku lihat selain di tipi...hehehe. 


Pulau Rubiah - Terletak di seberang Iboih Beach.


Nyebrang ke pulau rubiah bisa sewa boat. Ada 2 macam boat yang disewakan di sana. Satunya boat biasa yang muatannya bisa 10 penumpang. Satu boat lagi ada kaca di bagian tengah boat, yang fungsinya, agar para penumpang bisa melihat ikan-ikan yang sedang berenang di air selama kapal boat menyeberang ke Pulau Rubiah.Seru kan....Tarifnya, tentu beda lah yaww....hehehe. Tapi sebelum berangkat, jangan lupa minta no hp si empunya boat ya...jadi kalo kita udah puas main dan snorkeling di pulau Rubiah,tinggal call deh minta dijemput. Begitu....

Tarif sewa boat ke Pulau Rubiah:
- Boat Biasa : Rp. 200.000 pp
- Boat dengan kaca/aquarium:Rp.350.000 pp

Kami memilih naik boat biasa saja dan bergabung dengan pengunjung lain dari Idi Rayeuk, Aceh Timur. So....bayarnya jadi lebih murah. Kami hanya membayar Rp. 60.000 saja, sisanya ditanggung mereka yang memang berjumlah lebih banyak. Yang dihitung hanya orang dewasa saja @ Rp. 30.000. Sepertinya, ini juga bisa jadi tips untuk bisa menyeberang dengan membayar lebih murah. Apalagi untuk keluarga muda dengan anak-anak yang masih kecil, lebih hemat deh....hehehe...



Pose di Boat - Uhuyy


Kalo mau diving, tempatnya agak di tengah laut. Dan pastinya lebih seru ya. Sayang kami belum bisa merasakan, soalnya anak-anak belum bisa, kasihan kalo harus ditinggal. Sebenernya suami sih bolehin ikut diving ama ponakan bareng temen-temen bulenya...tapi kok rasanya gak nyaman aja, apalagi bahasa inggrisku yang parah...hahahaha...so...aku bersabar deh, sampai nanti bisa merasakan diving, Amiin...;-)



Untuk melakukan kegiatan Snorkeling membutuhkan peralatan-peralatan seperti snorkle + goggle dan pelampung. Snorkle itu pipa yang bentuknya seperti huruf J yang sebelah bawahnya ada pelindung mulut, tempat untuk kita bernafas saat melakukan snorkeling. Gogglenya bukan hanya nutup ke mata aja, tapi juga sampai ke bawah hidung, karena pada saat melakukan aktifitas ini, kita bernafas dari mulut bukan hidung. Sementara pelampung sangat membantu bagi mereka yang belum bisa berenang. Karena snorkeling ini juga sama dengan skin diving lah ya...jadi memang sebetulnya kita gak perlu nyelam, hanya mengapung di atas air sambil bisa menikmati indahnya terumbu karang beserta flora dan fauna di bawah air. Snorkeling sama sekali gak sulit, bahkan anak sulungku, Kak Ciwa, setelah ke-4 kali mencoba, sudah bisa teriak heboh karena bisa melihat ikan-ikan yang berenang di sekitarnya dengan sangat jelas, meski sebelumnya keminum air laut yang katanya asiiiiin banget....hehehe. Tapi dek fadhli belom bisa, setelah beberapakali tertelan air, akhirnya anak cowokku ini memutuskan bermain di bibir pantai plus membuat istana pasir...:-)


Bermain Pasir

Bermain pasir bersama Tour Guide Pribadi Kami- Ningtong-




Tips Snorkeling.

O ya tips deh buat yang mau snorkeling. Di antara para terumbu karang, ada banyak banget bulu babi. Tau bulu babi gak? Sebutan lainnya Landak Laut atau Sea Urchin. Binatang laut yang satu ini bentuknya bulat dan berduri-duri gitu dengan mata yang berkilat *seyem*. Kalo kena kaki, lumayan sakit dan bikin gak nyaman. Meski katanya nanti juga kalau durinya sudah busuk keluar sendiri. Biasanya masyarakat setempat menganjurkan dipukul-pukul pake kayu atau batu supaya durinya hancur. Ada juga yang disiram pake cuka. Supaya terhindar, beberapa penikmat snorkeling melengkapi dirinya dengan sepatu selam atau boot selam atau sepatu selam yang seperti kaki katak itu juga bisa. Tapi kalo aku sih gak nyaman pake kaki katak itu, sementara yang boot biasanya di sewakan sekalian peralatan lain untuk Diving. So....tipsnya aku : Selalu berenang, jangan menurunkan kaki ke bawah. Bahkan jika kita menggunakan pelampung, kita bisa terus berenang hingga ke tepi pantai dimana tidak ada lagi si landak laut. Cara ini ampuh untuk kita ber-4. Alhamdulillah gak satupun dari kita yang kena. Ciwa juga aku wanti-wanti untuk selalu mengangkat kakinya ke atas (berenang).

Penampakan si bulu babi. Sumber pic.

Ke sabang tapi gak Snorkeling ? Rugiii bangeeeettttt,.....;-)

Tarif Sewa Peralatan Snorkeling:
- Pelampung/Goggle_snorkle/Kaki katak : @ Rp. 15.000
- Pelampung +goggle+snorkle+kaki katak : Rp.40.000
 
Yang bikin aku sedih nih ya....kami gak punya kamera underwater yang bisa mengabadikan saat para ikan lucu dan unik itu pada main di dekat kami. Bahkan ada salah satu ikan berwarna hitam dengan ekor berbentuk bulan sabit sempat  mematok ujung jari telunjuk kananku saat aku tengah menunjuk-nunjukkan jari ke salah satu ikan berwarna biru dengan tubuh agak lonjong yang atraktif banget bermain pasir. Hiks. Dan yang paaaaling menyebalkan adalah : sore hari saat kita kembali ke penginapan, kita dapat info bahwa di sana disewakan kamera underwater !!!..Waaaaaaaaaaaa.......*tendang kursi*. Padahal besoknya kita dah harus go dari Sabang karena ponakan sudah pesen pesawat untuk balik ke Bali esok harinya.....Nangis bombay deh akuuu....*air mata darah*

So...tips tambahan : Jangan lupa menyewa kamera underwater.
Tarif sewa kamera underwater: Rp. 150.000- 200.000

O ya, kalo ke Iboih Beach, jangan lupa meng-abadikan diri di jembatan yang berbentuk huruf T yang ada di pantai itu ya. Soalnya, banyak sekali cerita dan foto tentang Sabang yang mengambil backgroungd jembatan ini. Jadi seperti landmark Iboih beach dan Sabang juga deh kayaknya. Meski bermodalkan kamera hp dengan hasil pas-pas-an, kami tetep narsis foto di situ..*ketawangakak*


Narsis ahhhh....:-)

Foto lain jembatan di Iboich Beach. Sumber Pic.



Obyek wisata dan tempat narsis lain yang sempat kami datangi kemarin adalah Tugu NOL KILOMETER INDONESIA. Wawawaw...tempatnya berangin bangeettt...secara terletak di ujung Pulau Weh. Banyak yang jualan kaos-kaos bergambar landmark yang ada di Sabang. Sebagai informasi aja ya...sudah beberapa kaos yang kami beli di Banda Aceh untuk oleh-oleh sanak sodara, bahan kaos yang ada di sabang ini justru lebih tebal, halus dan krahnya juga bagus gak gampang melar. Harganya emang beda dikit, tapi hasilnya puas lho....So...jangan gak beli kaos di Sabang yakkk....;-)

Harga Kaos bergambar LandMark:
- di Banda Aceh : saya dapet 4 buah Rp. 120.000.
- di Sabang : @ Rp. 40.000 - 55.000 tergantung ukuran *ini udah berantem mulut ama yang jual..hahahaha*




Kilometer Nol Indonesia-Sabang-


Kalau mau jujur, 3 hari 2 malam menikmati Sabang tuh gak cukup. Jangankan lihat-lihat wisata lain di daerah Sabang, untuk ber-snorkeling or ber-diving ria aja belum puasss. Belum lagi ke air terjunnya, belum lihat pantai dengan pasir hitamnya.....hiks....

Meski berkali-kali anak-anak demam saat liburan ke Sabang, tapi main airnya tetap tidak terelakkan, secara gak ada pantai di Pekanbaru. Diriku pun gak luput dari sakit, diare dari pagi ampe pagi lagi *mules ingetnya*.Sementara suami migren....huaaaa.....Anyway...ke Sabang lagi? Gak nolaaakkkk....hehehehe.

Demikianlah berita tentang jalan-jalan ke Sabang tahun ini. Kita lanjutkan tahun depan.*berita kaleee*

Yaaa....pokoknya kalo ke Aceh, jangan gak ke Sabang yaaaaa.....:-) *senyum manis sambil ngerling genit dan ditimpuk sendal*