Iboih Beach, Sabang, Weh Island, Aceh.

Iboih Beach, Sabang, Weh Island, Aceh.

Rabu, 14 Januari 2015

Ceritaku : Masa-masa Penantian

10 Januari lalu, sulungku genap berusia 9 tahun. Status suamiku disini, mau tak mau membawaku kilas balik. Waktu dimana rasa penantian akan hadirnya buah hati, begitu membahagiakan, tapi juga mencuatkan kekhawatiran yang dalam. Kali ini, aku ingin berbagi, masa-masa itu, semua perasaan yang terjadi.

**********************************************************
Kami menikah di February 2003. Kebahagiaan sebagai pasangan baru juga kami rasakan sebagaimana pasangan-pasangan baru biasanya. Meski hanimunnya hanya di Batam, sambil menemani suami bekerja. Seiring berjalannya waktu, kami memutuskan tak lagi ingin LDR. Kata orang-orang tua, tidak baik. Meskipun jalan panjang perdebatan dan tarik ulur kami lalui meski hanya lewat media telephon.

Tak ada yang perlu dikhawatirkan, apa pun konsekuensi yang kami hadapi setelah bersama,kami nikmati dan lalui. Kesederhanaan yang kami kenang hingga sekarang. Yang membuat kami bisa tersenyum atau menangis saat mengenangnya.

Namun, gusar itu mulai datang. Setelah hampir memasuki 3 tahun pernikahan, aku tak kunjung hamil. Sebagai pasangan yang memang menginginkan keturunan, kami tentu berusaha, sesuai dengan kemampuan kami. 

Kala itu (bahkan sampai hari ini), aku bersyukur, dikelilingi keluarga besar yang sangat menyayangi dan mengerti kami. Mertua ku, punya 13 anak. Suamiku adalah bungsu dari 13 bersaudara. Cucu-cucu mertua luar biasa banyak. Sehingga beliau tak ribut dan mendesak meski kami belum juga memberinya cucu. Meski suamiku adalah anak yang paling dekat dengan ibu mertua, tapi beliau tak pernah menyakiti kami dengan terus bertanya tentang kehamilanku. Ditambah lagi, dua kakak iparku pun masih terus berobat kesana kemari untuk memperoleh keturunan.

Sementara papa ku (aku tak lagi punya mama), adalah malaikat penolongku. Beliau yang paling mengerti keadaanku. Pernah sekali papaku memberikan informasi mengenai tempat dimana aku bisa mencoba untuk berobat, tapi disampaikan dengan sangat halus, sehingga bukan membuatku tersudut, justru memotivasiku untuk semangat mencari info lebih banyak.

Aku dan suami berusaha tegar dan saling menyemangati. Tapi suara sumbang di luar sana yang kadang meruntuhkan dinding ketegaranku. Akhirnya kusadari,sebagai wanita yang belum juga dikaruniai anak, aku menjadi sangat sensitif, jika tidak mau disebut over sensitif. Kata-kata seperti: "Wah, si X tokcer ya, baru 2 bulan menikah sudah hamil" atau perbincangan seru tentang seorang teman yang baru saja positif hamil, bisa membuat hidung dan mataku panas,lalu bulir-bulir yang akan tumpah aku sembunyikan di toilet. Emosi pun ku buang di sana. Ah...bukan hanya sekali dua kali, tapi mungkin puluhan bahkan ratusan kali, rasanya hatiku tercabik. Banyak orang yang tidak pernah mengalami, takkan bisa mengerti, bahwa candaan mereka tak terdengar bagai candaan bagi orang-orang seperti ku (saat itu).

Aku makin sering mewek dan semakin lemah. Bahkan iklan bayi di televisi pun bisa membuatku sesengukkan. Aku ingat, saat itu kami sedang berdua-an melewati sore di depan televisi. Iklan tivi yang menampilkan seorang bayi yang sangat lucu, sontak membuat hatiku perih, merindu, dan air mata ku pun tumpah. Suamiku yang menyadari hal itu, segera memelukku dan menenangkanku. 'Na, Allah maha tahu kapan kita siap untuk dititipkan anak". (Ena : panggilannya untukku sebelum kami punya anak. Sebutanku untuk diriku sendiri sejak kecil). Lalu tangannya mengusap air mataku. Aku tahu dia ikut sedih. Karena itu,di tiap momen yang sama, aku berusaha memalingkan wajah ke arah lain, membelakanginya, dan sesegukkan pelan, agar dia tak tahu. 

Kami pernah ke dokter kandungan untuk berobat. Dokter membekali kami jadwal (you know what kind of jadwal it is) dan memberikan obat penyubur. Sebulan setelahnya,menstruasiku tetap saja setia mengunjungi. Setelahnya, kami berdua pasrah, tak lagi ingin ke dokter. Aku hanya mencoba resep-resep kampung yang aku dapat dari orang-orang tua disekelilingku atau dari seorang teman yang juga setelah 4 tahun menikah baru memiliki anak. Waktu terus berlalu, begitu membahagiakan karena kami saling mendukung satu sama lain, meski banyak sekali hal yang terasa mencoba menodai kebahagiaan kami. Sehingga kadang waktu terasa berjalan begitu lambat. Ada saat dimana kami sudah pasrah, dan memutuskan untuk segera mengangkat anak.

Ada yang bilang, coba pindah rumah, siapa tahu lingkungannya gak bagus. Hmmm...tak semudah itu pindah dan mencari rumah, bagi kami saat itu. Ada yang bilang, jangan tinggal di rumah mertua biar tidak stress. Tapi kami memang tidak tinggal di rumah mertua. Ada yang bilang coba berlibur, berhanimun lagi. Tak pernah kusangka, salah satu jalan-jalan kami, bisa jadi adalah apa yang dikatakan orang itu.

Aku sakit, demam tinggi. Akhirnya harus menjalani opname di RSI Ibnu Sina. Saat itu,aku sedang deg-deg an menanti, apakah si bulan akan datang berkunjung. Ya, setiap bulan, aku selalu menghitung dan menunggu saatnya datang bulan, berharap dia lupa. Berlembar-lembar test pack aku habiskan, dari yang murah hingga yang mahal. Hari ke-2 di RS, saat ke toilet,ku temui bercak merah, lagi....aku menangis. Kusampaikan pada suamiku. "Gak papa, yang penting sekarang ena sembuh dulu", katanya menenangkan. Hampir tiap malam aku tidak bisa tidur. Entah kenapa rasanya badanku panas sekali. Berkali-kali aku menekan bel dan meminta perawat memberikanku obat tidur. Hari ke-3, aku mual. Aku benci tiap kali perawat membawakanku makanan. Baunya bikin perutku mual. Kusampaikan ini pada dokter yang merawatku saat kunjungannya. Lalu dokter memintaku untuk tes urine. Aku tidak tau apa maksudnya. Jika dokter ingin tau apakah aku mual karena hamil, jelas kemarin sudah ada tanda bercak merah, aku mens. Tapi kubiarkan saja,mungkin ada hal lain yang ingin diujinya. 

Subuh itu suamiku sudah bangun. Seperti biasa, dia melakukan sholat berjamaah di masjid RS. Seorang perawat jaga datang pagi-pagi meghampiriku. Katanya: "Ibu, hasil tes urine nya positif". Aku hanya diam, merasa tidak mengerti apa maksudnya. Lalu setelah dia keluar, aku coba memikirkan apa maksud kata-katanya. Apa aku tidak salah dengar? Dengan tak sabar dan penasaran kusampaikan berita itu ke suamiku sepulangnya dari sholat. Tergopoh-gopoh dan setengah berlari dia keluar mendatangi meja perawat. Lalu kembali padaku dan bilang : "Iya, katanya ena hamil, hasilnya positif". Tapii....bercak merah kemarin??? (Setelahnya aku tahu dari buku yang kubaca, bahwa pada saat zigot menempel pada dinding rahim, bisa ada sedikit luka dan bercak darah).

Bahagia? Jangan ditanya. Dua setengah tahun lebih adalah penantian yang cukup lama. Orang tua pasti yang pertama kali kami kabari.Bahagia rasanya mendengar mereka pun bahagia. Setelah baikan, aku dibolehkan pulang ke rumah. Hamil muda ku tak mudah. Mual luar biasa, yang kadang membuatku merintih dan mengeluh sepanjang hari.Yang membuat suamiku bingung apa yang bisa dia bantu. Dia hanya memintaku sabar, dan mengingat, bukankah ini yang kami pintakan dalam do'a-do'a kami dalam hampir tiga tahun ini? Lalu aku mereda, meski nanti mulai lagi merintih kesakitan.

Setelah beberapa hari di rumah, tiba-tiba saja, ada bercak-bercak merah keluar di sekujur badanku. Awalnya aku pikir hanya panas yang keluar dari badan sehingga menimbulkan bercak-bercak merah. Namun, aku mulai tak tenang, saat salah seorang ibu yang notabene adalah mantan perawat mengkhawatirkan, bahwa itu semacam cacar atau campak. Rubella,TORCH !Oh ya Allah...benarkah?

Aku mulai mencari tahu tentang ibu hamil yang mungkin bisa mengidap penyakit ini, dan apa dampaknya bagi kesehatan janin. Aku kembali hancur....aku ketakutan luar biasa. Meski berusaha menyembunyikannya,aku tahu suamiku juga kuatir. Kami mencoba bertanya ke salah satu RS yang paling besar di Pekanbaru saat itu, tentang test yang bisa dilakukan untuk mengetahui apakah aku benar-benar terserang penyakit itu. Ternyata RS tersebut tidak punya alatnya, mereka akan mengirimkan sampel darahku ke Jakarta. Dan biayanya? Cukup mahal bagi kantong kami saat itu. Pasrah, berada diantara keyakinan dan kegalauan, diantara pasrah dan takut, kami berdua sepakat untuk tidak melakukan test dan banyak berdo'a.

Lagi, ibu tersebut menyarankan, agar kandungan ku digugurkan saja. Daripada nanti cacat katanya. Aku luluh lantak, berkeping, menangis sejadi-jadinya. Kepingan hati terserak yang serasa tak mampu aku susun kembali. Sampai hati. Kami menantinya selama hampir 3 tahun. Saat Allah menitipkannya, kami diminta untuk 'melepas'kannya? 

Aku memutuskan untuk curhat ke papaku. Orang paling bijaksana seantero jagat bagiku. Aku menangis, mengadu, menyampaikan kegelisahanku. Ah....Allah telah menitipkan bidadara surga dunia ini untuk kami. Papa menguatkanku. Membuatku yakin, bahwa Allah Maha tahu yang terbaik bagi hambanya. Mendo'akan dengan tulus dan keyakinannya yang besar, bahwa anak yang kukandung, akan lahir dengan sehat dan sempurna. Tangisku pecah lalu mereda. Aku meyakini Allah akan mengijabah setiap do'a yang dihantarkan ke langit oleh orang tua kita. Kami menguatkan hati sambil terus berdo'a agar dedek bayi selalu sehat.

Aku belajar untuk tidak makan yang aneh-aneh selama hamil muda. Tidak juga bakso kesukaanku. Apalagi telur setengah matang dan sayuran mentah. Suami membuatkan penganan ikan yang benar-benar masak, tidak lagi setengah masak seperti kesukaannya. Penyataan seorang dokter kandungan tentang sakit yang pernah aku alami di awal kehamilan, bahwa belum tentu itu virus Rubella, menguatkan aku. Hari demi hari kami lalui dengan terus saling menguatkan. Perut yang semakin besar membuat gerakku semakin lamban. Tidak lagi leluasa duduk untuk mencuci. Lalu suamiku mengambil alih pekerjaan rumah. Meski begitu, semangatku tetap membara saat membersihkan rumah baru kami, agar bisa di tempati bayi mungil kami kelak dia lahir. Ya, Allah memang Maha tahu. Panjang ceritanya, hingga aku mendapatkan jatah perumahan di kantor, bahkan cara Allah membantu kami, hingga kami bisa membayar DP-nya. Sampai dengan ucapan suamiku sebelumnya,bahwa mungkin, calon bayi kami tak ingin lahir di rumah kontrakan kami yang lembab dan dingin. Benar saja, ucapannya bak dicatat malaikat. Aku hamil dan bersamaan dengan itu aku mendapatkan jatah di perumahan dari kantor. Subhanallah. Ah....inilah kenangan luar biasa yang akan kami kenang hingga akhir :-)

Saat kehamilan 7 bulan, bayi kami sungsang. Aku sudah berusaha melakukan gerakan sujud yang lama,hingga rasanya kadang darah berkumpul di kepalaku. Tapi di 8 bulan, bayiku tak bergeming dari posisinya. Dokter bilang, jika masih seperti itu hingga kelahiran, aku harus menjalani operasi caesar. Takut? Pasti. Melahirkan normal belum pernah, malah disuruh pula merasakan operasi. Belum lagi keterangan yang aku baca di buku-buku tentang sakitnya suntik anestesi di punggung (tepatnya tulang belakang). Duh....bikin ketakutanku bertambah saja. Sempat aku ingin di'urut' biar bayiku bisa berada pada jalan lahir normal. Hingga di 9 bulan, seorang dokter pengganti (karena dokter kandunganku sedang keluar kota) bilang, bahwa bayi lebih tau mana posisi yang membuatnya nyaman. Dan jika melalui proses urut, bisa menyebabkan kualitas bayi menjadi buruk (memar misalnya), bahkan kematian. Tambah serem. Mungkin bagi bayiku, itulah posisi yang paling nyaman baginya. Kata-kata yang begitu terasa menguatkan.Jika memang itu yang membuatmu nyaman Nak, biarlah mama menahan sakitnya operasi atau sakit setelahnya yang dikatakan orang-orang. Kepasrahan mendatangiku begitu saja.

Dokter pengganti itu bilang, di 10 januari bayiku sudang matang dan siap untuk dipertemukan dengan dunia. Tapi aku tak menentukan tanggal berapa akan menjalani operasi. Sebelum ke Lhokseumawe (kota dimana orangtuaku tinggal) untuk menjalani operasi dan melahirkan, aku masih ingin merayakan Idul Adha di rumah mertua. Malam Idul Adha, aku heran mengapa bajuku terus basah (yang setelahnya aku ketahui adalah asi pertamaku). Ternyata keesokan harinya, tepat di Idul Adha, air ketubanku pecah bercampur darah.Kaget dan panik luar biasa.Setelah mendatangi bidan dan dinyatakan belum ada bukaan sama sekali, keluarga memutuskan membawaku 5 jam perjalanan dari Pangkalan Berandan ke Lhokseumawe. Sementara Ibu dan dokter kandungan keluarga kami sudah menunggu kedatanganku.

Aku masuk ruang operasi dengan perasaan khawatir. Lampu-lampu operasi dan kamar yang dingin membuatku semakin tak nyaman, apalagi tanpa didampingi suami. Tapi teguran akrab dari dokter kandungan membuat ketakutanku mulai mencair. Aku pasrah,sepasrah-pasrahnya dan hanya berharap pada kebaikan untukku dan bayiku, saat dokter anestesi mulai menyuntik bagian belakang punggungku. Kakiku mulai terasa kebas, tak mampu lagi kuangkat. Kain pemisah di depan wajah menutupi mataku dari apa yang dilakukan para dokter. Tapi bayangan di lampu operasi sedikit menyamarkannya. Aku tahu dimana sayatan itu dimulai, awalnya sedikit kaget,namun setelahnya tak ada rasa  sakit. Hingga.....kudengar tangis bayiku. Subhanallah...begitu cepat. Lalu terasa nyeri di tangan kiriku. Ternyata dokter kembali menyuntikkan obat bius yang membuatku tertidur.

Entah berapa lama aku tertidur, yang jelas, begitu aku terbangun yang terlihat pertama kali adalah raut bahagia suamiku. Berkali-kali dia meminta mataku yang masih kantuk untuk melihat bayi mungil kami.Rambutnya yang sangat lebat,hidungnya yang mancung, kulit halus dan putihnya,semuanya begitu mengagumkan. Pelan matanya terbuka mengintip.Ya Allah....kami hanya bisa berterima kasih atas rahmat,karunia dan kasih sayang-Mu. Bayi kami lengkap tanpa kurang satu apapun. Cantik bagai malaikat kecil.

Ada prosesi yang kutinggalkan saat aku masih terbius. Saat suamiku meng-qamat-kan bayi mungil kami. Aku hanya mendengarnya dari cerita ibuku, bahwa suamiku terserak dan haru saat melakukannya. Rekaman video menunjukkan padaku, betapa  bahagianya suamiku melihat putri kecil kami yang masih dalam box bayi. Mengajaknya berbicara.  Mengajaknya membuka mata. Mungkin ini adalah kado terindah kami.

Nasywa Azizah nama yang kami berikan untuk malaikat kecil ini. Yang artinya : Kebahagiaan yang Mulia. Sebagaimana kami menganggapnya adalah kebahagiaan dan berharap hidupnya akan dimuliakan Allah,dunia dan akhirat. Amiin. Ciwa tumbuh menjadi gadis yang pintar dan cantik. Aku tak pernah bisa membayangkan, jikalau dulu aku mengikuti kata orang, mungkin takkan pernah kulihat wajah cantiknya.

Dia 9 tahun sekarang. Dan do'a kami, dia akan terus tumbuh menjadi wanita sholeha yang taat, sayang kepada orang tua, saudara dan sesama. Wanita berakhlak mulia yang sukses di dunia dan akhiratnya, yang mampu membantu dan menginspirasi orang-orang disekitarnya. Amin ya Rab. Kabulkanlah do'a kami.

Nasywa Azizah

Adakah yang mengalami hal serupa. Cobaan-cobaan yang silih berganti. Boleh sharing di sini ya...:-)

Rumbai, 2 hari setelah hari lahir Ciwa




14 komentar:

  1. Bersabar membuahkan hasil mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insya Allah akan dijawab Allah Mak Titis....:-)

      Hapus
  2. Subhanallah. Saya terharu baca nya bu. Selain karena perjuangan ibu dan bapak yang begitu luar biasa, jg krn sampai saat ini saya belum di percaya untuk mengasuh titipan NYA di 2 tahun pernikahan saya. Semoga saya bisa segera mendapatkan anugrah terindah spt yg ibu rasakan. Aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiin. Allah Maha tau. Yakinlah dan berusaha. Akan ada waktu insya Allah bagi Rineta dan suami :-)
      Mempunyai keturunan murni adalah hak perogatifnya Allah. Ikhlaskan Allah menentukannya untuk kita...:-)

      Semangat utk tetap berusaha ya Rineta.....:-)

      Hapus
  3. Kakak cantik sekali..moga2 jd anak shalihah ya kak ^-^
    Aku hamil psrtama alhamdhulilah cepet mak padahal LDR an waktu itu... skr udah 7th berlalu dan blm hamil lagi... terus berusaha n berdoa.. Allah mahatau yg terbaik untuk hamba Nya ^-^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Mak...
      Insya Allah, Allah ridho menitipkan lagi ya Mak...Amiiin
      *hug

      Hapus
  4. penantiannya bener-bener mengharukan Bun,, Ohya putrinya cantik banget nih..

    salam kenal ya ,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih udah mampir mas Budi.....:-)

      Hapus
  5. Sy masih menunggu mba di usia pernikahan hampir 5 th. Pernah insem, tapi gagal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bersabar, berdo'a dan tetap semangat ya Mak...
      Insya Allah akan datang waktunya...
      Waktunya kapan memang rahasia Allah
      Kakak ipar saya ada yang baru diberimomongan setelah 10 tahun pernikahannya.
      Percayakan pada-Nya Mak....mana yang terbaik untuk kita...
      *pelukkk...

      Hapus
  6. waaahh luar biasa, Allah memang maha tahu apa yg terbaik bagi hambaNYA ya. Tak jarang Allah memberikan cobaan demi menguji kita apakah layak utk naik kelas *cmiiw

    BalasHapus
  7. Subhanallah, perjuangannya ya mba...sehat dan happy selalu ya kakak cantiik..:*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, Allah memberi kekuatan Mak Dewi....
      Terima kasih Mak.....:-)

      Hapus

Terima kasih sudah mampir di blog ini. Feel free to make any comment yaaa...