Iboih Beach, Sabang, Weh Island, Aceh.

Iboih Beach, Sabang, Weh Island, Aceh.
Tampilkan postingan dengan label Baiti Jannati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Baiti Jannati. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Februari 2015

12th Anniversary




15 February 2015, tahun ke-12 sejak pertama kali kami memutuskan menjalani biduk rumahtangga. Suka dan duka dan berbagai cobaan serta kebahagiaan kami lalui bersama. Aku bersyukur, dari segala hal baik dan buruk yang singgah, Allah SWT masih menguatkan hati-hati kami. Semoga Allah SWT senantiasa menjaga keluarga kecil kami atas iman, kebahagiaan dan pengertian, Amiiin.


Aku tak biasa memberi surprise. Bukan karena tidak menyukai surprise, tapi hampir tak punya cara untuk mencoba membuat surprise. Bagaimana tidak, aku terbiasa info ke suami kemana pun aku pergi. Bahkan hampir semua urusan yang mengharuskan aku pergi menggunakan kendaraan pun, pasti diantar suami. Lha terus, gimana caranya mau buat surpise? Kalau mau pakai kendaraan pasti ditanya, mau kemana ? Lha, masak harus bohong. Entar kalo ada apa-apa di jalan gimana? Itulah sebabnya hampir tak pernah diriku buat surprise. Seringnya di kasih surprise. Hehehe.

Tapi tahun ini, sudah diniatkan sejak awal, pengen bikin kejutan kecil-kecilan. Hal sepele sebetulnya karena keterbatasan waktu sangat mempersempit ruang gerak kami. Ada banyak hal yang terlintas di kepala, tapi lagi-lagi mentok karena tak mungkin dilakukan tanpa diketahui oleh suami. Alhasil, aku pilih cara yang sederhana saja.

Surprise #1
Aku sudah memesan salah satu hotel di daerah tempat kami tinggal. Letak hotel berdampingan dengan salah satu Mall terbesar di Pekanbaru. Hotel Swiss Bel Inn, itu yang kupilih. Kenapa? Karena dari informasi yang aku dapat dari resepsionisnya, setiap malam Minggu ada paket khusus bagi tamu yang menginap di sana. Makan malam dengan menu Barbekyu ! Tak pikir dua kali, aku langsung pesan 1 kamar untuk 1 malam saja. Aku pilih tanggal 14 February bukan karena ada hubungan dengan valentine loh ya. Sejak dulu tidak ada kamus valentine di keluarga kami. Tanggal pernikahan kami sebetulnya tanggal 15 February, tapi jika di pesan tepat di tanggal itu, besoknya harus berangkat kerja dan anak-anak juga sekolah. Hampir tidak mungkin. Apalagi sulungku punya acara sendiri di pagi tanggal 15 February itu. maka ku pikir, check in di tanggal 14 Feb lalu check out di 15 Feb adalah pilihan yang tepat. Karena ini namanya ingin surprise, tak satu pun dari suami dan anakku yang tahu hal ini.


Hotel Swiss Bell Inn SKA-Pekanbaru
Kamar Hotel
Pagi Sabtu, baru aku info ke anak-anak dan suami kalau aku sudah booking hotel untuk menginap selama 1 malam. Anak-anak happy luar biasa. Kami pun berkemas membawa perlengkapan renang dan baju secukupnya. Siang itu kami check in, urung langsung berenang karena pihak hotel sibuk menyiapkan acara valentine malam itu.Akhirnya kami memutuskan jalan-jalan dulu ke Mall SKa yang berdampingan dengan hotel. Ber-barbekyu ria plus makan malam. Lalu berenang keesokan harinya dan langsung check out.

Surprise #2
Aku juga memesan pie coklat dengan tulisan 12th Anniversary ke salah seorang teman. Pie coklat ini kesukaan anak-anak. Bosen juga kalau cake terus. Nah, sebetulnya sejak awal ingin meletakkan kue ini langsung di dalam kamar. Ya lagi-lagi surprise gitu. Tapi gimana caranya ke hotel duluan tanpa ketahuan suami? Mau tak mau terpaksa tidak bisa menjalankan sesuai rencana alias jemput pienya ya bareng suami :-)


Pie buatan mbak Hana Lovely Craft
Surprise #3
Sejak umur fadhli 3 tahun, aku dan suami sudah menanti datangnya bayi mungil lagi. Namun, sudah 5 tahun umur fadhli oktober tahun 2014 lalu, ternyata Allah masih belum mempercayakan kami untukmerawat bayi lagi. Hingga di awal bulan February,suami menyadari jika aku terlambat haid. Tapi aku pikir hanya telat saja karena perut sakitnya seperti mau datang bulan. Meski sebetulnya haidku teratur sekali, jarang sekali telat.

Alhamdulillah, hasil test pack menunjukkan 2 garis. Hasil ini aku rahasiakan dari suami. Baru tanggal 15 February lalu, di hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-12, aku meletakkan hasil itu di sebelah wastafel kamar mandi hotel. Suami langsung memintaku untuk segera cek ke dokter kandungan. Bahagia tentunya, setelah cukup lama menanti:-). Ciwa dan Fadhli juga senang sekali mau punya adek bayi. Semoga Allah SWT melindungi dan menumbuh kembangkan calon bayi kami dengan sempurna, Amiiin.


Alhamdulillah....Sehat terus ya Dedek....:-)
Postingan ini dibuat dengan rasa mual yang luar biasa. Awal kehamilan yang cukup menguras energi :-). Masih banyak yang ingin ditulis dan diceritakan lebih detail. Masih banyak foto yang ingin diunggah, tapi apa daya, rasanya mengetik pun menjadi hal yang cukup berat. Sudah berhasil menuliskan begini saja rasanya sudah luar biasa. Karena ini adalah salah satu moment yang ingin aku kenang....:-)








Jumat, 13 Februari 2015

Kado dari Fadhli

Alhamdulillah, Fadhli berhasil menjadi juara 2 lomba menyanyi tingkat TK se-kecamatan Rumbai. Ibu guru yang melatihnya, Bu Devi, riang luar biasa. Meski sempat berharap sekolah mereka mendapatkan tempat terbaik, tapi bu Devi cukup bangga Fadhli bisa berada diposisi itu.

Fadhli itu memang terlihat lebih pede dibandingkan kakaknya untuk urusan panggung. Sejak kecil, beberapa kali kalau melihat ada panggung pada acara yang digelar di beberapa Mall yang kami datangi, Fadhli seringnya memaksa minta dinaikkan ke atas panggung.

Untuk soal menyanyi, meski belum bisa mengolah vocal seperti layaknya anak-anak yang sering kita lihat di Indonesian Idol Junior, tapi Fadhli juga lebih 'sadar' nada ketimbang kak Ciwa. Ini kami sadari saat kak Ciwa harus berlatih lagu-lagu baru yang akan diambil nilainya di sekolah. Kadang beberapa kali harus mengingatkan Ciwa note yang benar dari penggalan lagu-lagu yang dinyanyikannya. Dan Fadhli yang ikut mendengar seringkali mencoba menyanyikan juga, dan dengan note yang tepat !

Fadhli juga sebetulnya tipe yang moody banget. Sekarang bisa bilang iya, besok-besok bisa berubah. Bahkan kadang dalam hitungan jam saja! Ini ternyata disadari juga oleh Bu Devi. Saat pertama kali latihan menggunakan musik (keyboard) di rumah salah satu guru, beliau menceritakan bagaimana proses pemilihan perwakilan sekolah berlangsung. Sebetulnya ada 2 anak yang sempat menjadi calon kuat yang terpilih. Salah satunya fadhli. Namun menurut bu Devi, fadhli lebih bisa cepat meyesuaikan nada. Jadi seperti ada feeling kalo dia menyanyi pada nada yang gak pas, terus berusaha menyesuaikan. Namun kekuatiran diungkapkan juga oleh beberapa guru yang lain saat tahu Fadhli yang terpilih. Apalagi kalau bukan karena urusan moddy-nya Fadhli itu. Tapi bu Devi berhasil meyakinkan guru-guru lain termasuk Kepala Sekolah TK, bahwa beliau akan bisa merayu Fadhli :-)

Ini adalah kompetisi individu pertama yang diikuti fadhli. Kompetisi sebelumnya biasanya berkelompok (mewarnai) atau berpasangan (fashion show). Sebagai orang tua tentu aku dan suami sangat mendukung kegiatan positif ini. Berharap ini menjadi ajang belajar bagi Fadhli untuk mengasah kemampuan yang dia punya sekaligus membentuk rasa percaya dirinya. Meski jujur, aku sendiri kuatir sekali jika Fadhli tiba-tiba bilang tidak mau ikut.

Tapi apa yang aku kuatirkan alhamdulillah tidak terjadi. Meski setelah latihan dengan musik Fadhli sempat bilang takut jika suaranya nanti tidak sampai pada nada-nada tinggi, tapi keinginannya untuk ikut tidak berubah. Bu Devi juga cukup lihai mengambil hatinya.Tipe guru yang sabar dan pintar mengambil hati anak-anak. 

Sebetulnya pada latihan terakhir, Fadhli masih kadang terlalu cepat atau justru terlalu lambat saat masuk di Refrain. Mungkin karena selama ini belajarnya tidak pernah pakai musik, jadi belum tahu berapa ketukan dari bait terakhir ke bait refrain. Aku sempat kuatir dan berusaha mengajarkannya lagi di rumah dengan merekam musik dari guru fadhli. Tapi karena Fadhli mengeluh capek, aku urung mengajarinya. Aku pikir, kondisi tubuh yang fit juga penting.

Saat Fadhli tampil, aku sudah deg-deg-an saja menunggu hingga masuk ke bagian refrain. Ah, bagaimanapun keberaniannya sudah membuatku bangga. Tapi ternyata diluar ekspektasiku, Fadhli justru masuk dengan sangat tepat pada Refrain lagu. Suaranya, penghayatannya, bikin emaknya ini nangis. Diam-diam aku menyeka ujung mata terus. Ternyata pagi itu sebelum tampil, Fadhli masih sempat berlatih sama gurunya.

Aku beberapa kali mendesah, mendengar  di beberapa bait suara fadhli terasa naik atau turun nadanya. Tapi memang hampir rata-rata peserta lomba menyanyi dengan nada yang tidak sesuai dengan waktu gladi bersih. Kata juri, hampir semua naik satu dari nada yang tercatat pada catatan juri. Tapi di bait selanjutnya, fadhli berhasil masuk ke nada yang benar. Meski ada goyang di sana-sini.

Ini baru langkah awal yang baik. Selanjutnya Fadhli akan kembali ikut di tingkat kota Pekanbaru. Jika kembali mendapat tiga besar, akan tampil dan berkompetisi di tingkat Propinsi. Tapi aku tak ingin berharap aneh-aneh. Olah vokal Fadhli masih apa adanya, pure. Ada banyak anak-anak yang bahkan sudah bisa mengolah vocal bagai orang dewasa. Persaingan akan semakin ketat. Apapun yang terjadi nanti, bagi kami, Fadhli adalah juaranya.Juara di hati Mama dan Papa nya :-)

Penampilan Fadhli bisa dilihat di link berikut :

http://youtu.be/wtu8FjwPIY8
http://youtu.be/3RfYFVB4mjg



10 February 2015
Kado ultah Mama dari Fadhli
:-)
Terimakasih Fadhli Sholeh.



Rabu, 14 Januari 2015

Ceritaku : Masa-masa Penantian

10 Januari lalu, sulungku genap berusia 9 tahun. Status suamiku disini, mau tak mau membawaku kilas balik. Waktu dimana rasa penantian akan hadirnya buah hati, begitu membahagiakan, tapi juga mencuatkan kekhawatiran yang dalam. Kali ini, aku ingin berbagi, masa-masa itu, semua perasaan yang terjadi.

**********************************************************
Kami menikah di February 2003. Kebahagiaan sebagai pasangan baru juga kami rasakan sebagaimana pasangan-pasangan baru biasanya. Meski hanimunnya hanya di Batam, sambil menemani suami bekerja. Seiring berjalannya waktu, kami memutuskan tak lagi ingin LDR. Kata orang-orang tua, tidak baik. Meskipun jalan panjang perdebatan dan tarik ulur kami lalui meski hanya lewat media telephon.

Tak ada yang perlu dikhawatirkan, apa pun konsekuensi yang kami hadapi setelah bersama,kami nikmati dan lalui. Kesederhanaan yang kami kenang hingga sekarang. Yang membuat kami bisa tersenyum atau menangis saat mengenangnya.

Namun, gusar itu mulai datang. Setelah hampir memasuki 3 tahun pernikahan, aku tak kunjung hamil. Sebagai pasangan yang memang menginginkan keturunan, kami tentu berusaha, sesuai dengan kemampuan kami. 

Kala itu (bahkan sampai hari ini), aku bersyukur, dikelilingi keluarga besar yang sangat menyayangi dan mengerti kami. Mertua ku, punya 13 anak. Suamiku adalah bungsu dari 13 bersaudara. Cucu-cucu mertua luar biasa banyak. Sehingga beliau tak ribut dan mendesak meski kami belum juga memberinya cucu. Meski suamiku adalah anak yang paling dekat dengan ibu mertua, tapi beliau tak pernah menyakiti kami dengan terus bertanya tentang kehamilanku. Ditambah lagi, dua kakak iparku pun masih terus berobat kesana kemari untuk memperoleh keturunan.

Sementara papa ku (aku tak lagi punya mama), adalah malaikat penolongku. Beliau yang paling mengerti keadaanku. Pernah sekali papaku memberikan informasi mengenai tempat dimana aku bisa mencoba untuk berobat, tapi disampaikan dengan sangat halus, sehingga bukan membuatku tersudut, justru memotivasiku untuk semangat mencari info lebih banyak.

Aku dan suami berusaha tegar dan saling menyemangati. Tapi suara sumbang di luar sana yang kadang meruntuhkan dinding ketegaranku. Akhirnya kusadari,sebagai wanita yang belum juga dikaruniai anak, aku menjadi sangat sensitif, jika tidak mau disebut over sensitif. Kata-kata seperti: "Wah, si X tokcer ya, baru 2 bulan menikah sudah hamil" atau perbincangan seru tentang seorang teman yang baru saja positif hamil, bisa membuat hidung dan mataku panas,lalu bulir-bulir yang akan tumpah aku sembunyikan di toilet. Emosi pun ku buang di sana. Ah...bukan hanya sekali dua kali, tapi mungkin puluhan bahkan ratusan kali, rasanya hatiku tercabik. Banyak orang yang tidak pernah mengalami, takkan bisa mengerti, bahwa candaan mereka tak terdengar bagai candaan bagi orang-orang seperti ku (saat itu).

Aku makin sering mewek dan semakin lemah. Bahkan iklan bayi di televisi pun bisa membuatku sesengukkan. Aku ingat, saat itu kami sedang berdua-an melewati sore di depan televisi. Iklan tivi yang menampilkan seorang bayi yang sangat lucu, sontak membuat hatiku perih, merindu, dan air mata ku pun tumpah. Suamiku yang menyadari hal itu, segera memelukku dan menenangkanku. 'Na, Allah maha tahu kapan kita siap untuk dititipkan anak". (Ena : panggilannya untukku sebelum kami punya anak. Sebutanku untuk diriku sendiri sejak kecil). Lalu tangannya mengusap air mataku. Aku tahu dia ikut sedih. Karena itu,di tiap momen yang sama, aku berusaha memalingkan wajah ke arah lain, membelakanginya, dan sesegukkan pelan, agar dia tak tahu. 

Kami pernah ke dokter kandungan untuk berobat. Dokter membekali kami jadwal (you know what kind of jadwal it is) dan memberikan obat penyubur. Sebulan setelahnya,menstruasiku tetap saja setia mengunjungi. Setelahnya, kami berdua pasrah, tak lagi ingin ke dokter. Aku hanya mencoba resep-resep kampung yang aku dapat dari orang-orang tua disekelilingku atau dari seorang teman yang juga setelah 4 tahun menikah baru memiliki anak. Waktu terus berlalu, begitu membahagiakan karena kami saling mendukung satu sama lain, meski banyak sekali hal yang terasa mencoba menodai kebahagiaan kami. Sehingga kadang waktu terasa berjalan begitu lambat. Ada saat dimana kami sudah pasrah, dan memutuskan untuk segera mengangkat anak.

Ada yang bilang, coba pindah rumah, siapa tahu lingkungannya gak bagus. Hmmm...tak semudah itu pindah dan mencari rumah, bagi kami saat itu. Ada yang bilang, jangan tinggal di rumah mertua biar tidak stress. Tapi kami memang tidak tinggal di rumah mertua. Ada yang bilang coba berlibur, berhanimun lagi. Tak pernah kusangka, salah satu jalan-jalan kami, bisa jadi adalah apa yang dikatakan orang itu.

Aku sakit, demam tinggi. Akhirnya harus menjalani opname di RSI Ibnu Sina. Saat itu,aku sedang deg-deg an menanti, apakah si bulan akan datang berkunjung. Ya, setiap bulan, aku selalu menghitung dan menunggu saatnya datang bulan, berharap dia lupa. Berlembar-lembar test pack aku habiskan, dari yang murah hingga yang mahal. Hari ke-2 di RS, saat ke toilet,ku temui bercak merah, lagi....aku menangis. Kusampaikan pada suamiku. "Gak papa, yang penting sekarang ena sembuh dulu", katanya menenangkan. Hampir tiap malam aku tidak bisa tidur. Entah kenapa rasanya badanku panas sekali. Berkali-kali aku menekan bel dan meminta perawat memberikanku obat tidur. Hari ke-3, aku mual. Aku benci tiap kali perawat membawakanku makanan. Baunya bikin perutku mual. Kusampaikan ini pada dokter yang merawatku saat kunjungannya. Lalu dokter memintaku untuk tes urine. Aku tidak tau apa maksudnya. Jika dokter ingin tau apakah aku mual karena hamil, jelas kemarin sudah ada tanda bercak merah, aku mens. Tapi kubiarkan saja,mungkin ada hal lain yang ingin diujinya. 

Subuh itu suamiku sudah bangun. Seperti biasa, dia melakukan sholat berjamaah di masjid RS. Seorang perawat jaga datang pagi-pagi meghampiriku. Katanya: "Ibu, hasil tes urine nya positif". Aku hanya diam, merasa tidak mengerti apa maksudnya. Lalu setelah dia keluar, aku coba memikirkan apa maksud kata-katanya. Apa aku tidak salah dengar? Dengan tak sabar dan penasaran kusampaikan berita itu ke suamiku sepulangnya dari sholat. Tergopoh-gopoh dan setengah berlari dia keluar mendatangi meja perawat. Lalu kembali padaku dan bilang : "Iya, katanya ena hamil, hasilnya positif". Tapii....bercak merah kemarin??? (Setelahnya aku tahu dari buku yang kubaca, bahwa pada saat zigot menempel pada dinding rahim, bisa ada sedikit luka dan bercak darah).

Bahagia? Jangan ditanya. Dua setengah tahun lebih adalah penantian yang cukup lama. Orang tua pasti yang pertama kali kami kabari.Bahagia rasanya mendengar mereka pun bahagia. Setelah baikan, aku dibolehkan pulang ke rumah. Hamil muda ku tak mudah. Mual luar biasa, yang kadang membuatku merintih dan mengeluh sepanjang hari.Yang membuat suamiku bingung apa yang bisa dia bantu. Dia hanya memintaku sabar, dan mengingat, bukankah ini yang kami pintakan dalam do'a-do'a kami dalam hampir tiga tahun ini? Lalu aku mereda, meski nanti mulai lagi merintih kesakitan.

Setelah beberapa hari di rumah, tiba-tiba saja, ada bercak-bercak merah keluar di sekujur badanku. Awalnya aku pikir hanya panas yang keluar dari badan sehingga menimbulkan bercak-bercak merah. Namun, aku mulai tak tenang, saat salah seorang ibu yang notabene adalah mantan perawat mengkhawatirkan, bahwa itu semacam cacar atau campak. Rubella,TORCH !Oh ya Allah...benarkah?

Aku mulai mencari tahu tentang ibu hamil yang mungkin bisa mengidap penyakit ini, dan apa dampaknya bagi kesehatan janin. Aku kembali hancur....aku ketakutan luar biasa. Meski berusaha menyembunyikannya,aku tahu suamiku juga kuatir. Kami mencoba bertanya ke salah satu RS yang paling besar di Pekanbaru saat itu, tentang test yang bisa dilakukan untuk mengetahui apakah aku benar-benar terserang penyakit itu. Ternyata RS tersebut tidak punya alatnya, mereka akan mengirimkan sampel darahku ke Jakarta. Dan biayanya? Cukup mahal bagi kantong kami saat itu. Pasrah, berada diantara keyakinan dan kegalauan, diantara pasrah dan takut, kami berdua sepakat untuk tidak melakukan test dan banyak berdo'a.

Lagi, ibu tersebut menyarankan, agar kandungan ku digugurkan saja. Daripada nanti cacat katanya. Aku luluh lantak, berkeping, menangis sejadi-jadinya. Kepingan hati terserak yang serasa tak mampu aku susun kembali. Sampai hati. Kami menantinya selama hampir 3 tahun. Saat Allah menitipkannya, kami diminta untuk 'melepas'kannya? 

Aku memutuskan untuk curhat ke papaku. Orang paling bijaksana seantero jagat bagiku. Aku menangis, mengadu, menyampaikan kegelisahanku. Ah....Allah telah menitipkan bidadara surga dunia ini untuk kami. Papa menguatkanku. Membuatku yakin, bahwa Allah Maha tahu yang terbaik bagi hambanya. Mendo'akan dengan tulus dan keyakinannya yang besar, bahwa anak yang kukandung, akan lahir dengan sehat dan sempurna. Tangisku pecah lalu mereda. Aku meyakini Allah akan mengijabah setiap do'a yang dihantarkan ke langit oleh orang tua kita. Kami menguatkan hati sambil terus berdo'a agar dedek bayi selalu sehat.

Aku belajar untuk tidak makan yang aneh-aneh selama hamil muda. Tidak juga bakso kesukaanku. Apalagi telur setengah matang dan sayuran mentah. Suami membuatkan penganan ikan yang benar-benar masak, tidak lagi setengah masak seperti kesukaannya. Penyataan seorang dokter kandungan tentang sakit yang pernah aku alami di awal kehamilan, bahwa belum tentu itu virus Rubella, menguatkan aku. Hari demi hari kami lalui dengan terus saling menguatkan. Perut yang semakin besar membuat gerakku semakin lamban. Tidak lagi leluasa duduk untuk mencuci. Lalu suamiku mengambil alih pekerjaan rumah. Meski begitu, semangatku tetap membara saat membersihkan rumah baru kami, agar bisa di tempati bayi mungil kami kelak dia lahir. Ya, Allah memang Maha tahu. Panjang ceritanya, hingga aku mendapatkan jatah perumahan di kantor, bahkan cara Allah membantu kami, hingga kami bisa membayar DP-nya. Sampai dengan ucapan suamiku sebelumnya,bahwa mungkin, calon bayi kami tak ingin lahir di rumah kontrakan kami yang lembab dan dingin. Benar saja, ucapannya bak dicatat malaikat. Aku hamil dan bersamaan dengan itu aku mendapatkan jatah di perumahan dari kantor. Subhanallah. Ah....inilah kenangan luar biasa yang akan kami kenang hingga akhir :-)

Saat kehamilan 7 bulan, bayi kami sungsang. Aku sudah berusaha melakukan gerakan sujud yang lama,hingga rasanya kadang darah berkumpul di kepalaku. Tapi di 8 bulan, bayiku tak bergeming dari posisinya. Dokter bilang, jika masih seperti itu hingga kelahiran, aku harus menjalani operasi caesar. Takut? Pasti. Melahirkan normal belum pernah, malah disuruh pula merasakan operasi. Belum lagi keterangan yang aku baca di buku-buku tentang sakitnya suntik anestesi di punggung (tepatnya tulang belakang). Duh....bikin ketakutanku bertambah saja. Sempat aku ingin di'urut' biar bayiku bisa berada pada jalan lahir normal. Hingga di 9 bulan, seorang dokter pengganti (karena dokter kandunganku sedang keluar kota) bilang, bahwa bayi lebih tau mana posisi yang membuatnya nyaman. Dan jika melalui proses urut, bisa menyebabkan kualitas bayi menjadi buruk (memar misalnya), bahkan kematian. Tambah serem. Mungkin bagi bayiku, itulah posisi yang paling nyaman baginya. Kata-kata yang begitu terasa menguatkan.Jika memang itu yang membuatmu nyaman Nak, biarlah mama menahan sakitnya operasi atau sakit setelahnya yang dikatakan orang-orang. Kepasrahan mendatangiku begitu saja.

Dokter pengganti itu bilang, di 10 januari bayiku sudang matang dan siap untuk dipertemukan dengan dunia. Tapi aku tak menentukan tanggal berapa akan menjalani operasi. Sebelum ke Lhokseumawe (kota dimana orangtuaku tinggal) untuk menjalani operasi dan melahirkan, aku masih ingin merayakan Idul Adha di rumah mertua. Malam Idul Adha, aku heran mengapa bajuku terus basah (yang setelahnya aku ketahui adalah asi pertamaku). Ternyata keesokan harinya, tepat di Idul Adha, air ketubanku pecah bercampur darah.Kaget dan panik luar biasa.Setelah mendatangi bidan dan dinyatakan belum ada bukaan sama sekali, keluarga memutuskan membawaku 5 jam perjalanan dari Pangkalan Berandan ke Lhokseumawe. Sementara Ibu dan dokter kandungan keluarga kami sudah menunggu kedatanganku.

Aku masuk ruang operasi dengan perasaan khawatir. Lampu-lampu operasi dan kamar yang dingin membuatku semakin tak nyaman, apalagi tanpa didampingi suami. Tapi teguran akrab dari dokter kandungan membuat ketakutanku mulai mencair. Aku pasrah,sepasrah-pasrahnya dan hanya berharap pada kebaikan untukku dan bayiku, saat dokter anestesi mulai menyuntik bagian belakang punggungku. Kakiku mulai terasa kebas, tak mampu lagi kuangkat. Kain pemisah di depan wajah menutupi mataku dari apa yang dilakukan para dokter. Tapi bayangan di lampu operasi sedikit menyamarkannya. Aku tahu dimana sayatan itu dimulai, awalnya sedikit kaget,namun setelahnya tak ada rasa  sakit. Hingga.....kudengar tangis bayiku. Subhanallah...begitu cepat. Lalu terasa nyeri di tangan kiriku. Ternyata dokter kembali menyuntikkan obat bius yang membuatku tertidur.

Entah berapa lama aku tertidur, yang jelas, begitu aku terbangun yang terlihat pertama kali adalah raut bahagia suamiku. Berkali-kali dia meminta mataku yang masih kantuk untuk melihat bayi mungil kami.Rambutnya yang sangat lebat,hidungnya yang mancung, kulit halus dan putihnya,semuanya begitu mengagumkan. Pelan matanya terbuka mengintip.Ya Allah....kami hanya bisa berterima kasih atas rahmat,karunia dan kasih sayang-Mu. Bayi kami lengkap tanpa kurang satu apapun. Cantik bagai malaikat kecil.

Ada prosesi yang kutinggalkan saat aku masih terbius. Saat suamiku meng-qamat-kan bayi mungil kami. Aku hanya mendengarnya dari cerita ibuku, bahwa suamiku terserak dan haru saat melakukannya. Rekaman video menunjukkan padaku, betapa  bahagianya suamiku melihat putri kecil kami yang masih dalam box bayi. Mengajaknya berbicara.  Mengajaknya membuka mata. Mungkin ini adalah kado terindah kami.

Nasywa Azizah nama yang kami berikan untuk malaikat kecil ini. Yang artinya : Kebahagiaan yang Mulia. Sebagaimana kami menganggapnya adalah kebahagiaan dan berharap hidupnya akan dimuliakan Allah,dunia dan akhirat. Amiin. Ciwa tumbuh menjadi gadis yang pintar dan cantik. Aku tak pernah bisa membayangkan, jikalau dulu aku mengikuti kata orang, mungkin takkan pernah kulihat wajah cantiknya.

Dia 9 tahun sekarang. Dan do'a kami, dia akan terus tumbuh menjadi wanita sholeha yang taat, sayang kepada orang tua, saudara dan sesama. Wanita berakhlak mulia yang sukses di dunia dan akhiratnya, yang mampu membantu dan menginspirasi orang-orang disekitarnya. Amin ya Rab. Kabulkanlah do'a kami.

Nasywa Azizah

Adakah yang mengalami hal serupa. Cobaan-cobaan yang silih berganti. Boleh sharing di sini ya...:-)

Rumbai, 2 hari setelah hari lahir Ciwa




Senin, 16 Juni 2014

Papa si Pen-dongeng Keren



Apa kabar semuaaaa? Semoga kita semua sehat yaaa.Pengen sharing cerita kemarin malem ni temans.....Papanya anak-anak tuh jarang-jarang lho mau bacain cerita or dongeng mau tidur buat anak-anak ( tapi kalo urusan boys thing sih jagonya si Papa euyy ). Bukan karena gak sayang, tapi lebih karena lelah, jadi biasanya daku yang pegang peranan....*beliin lepi baru ya pa...udah di belain nee....wkwkwk*

Tapi tadi malam sodara-sodara, daku seneng ruarrr biasa....entah bagaimana awalnya daku pun lupa, tapi si papoy semangat banget men-dongeng, terutama buat abang Fadhli ganteng....:-)

Yang aku inget, beberapa hari belakangan aku protes terus, karena anak-anak kok seriiing banget main hape or lepi. Fadhli terutama, bentar hape....bentar lepi. Padahal baru-baru baca blognya temen dumay yang matanya sampai minus 16. Akibat dari membaca yang sering di  cahaya yang kurang terang plus main gadget. Jadi kuatir bangeeetttt....:-( Ternyata diam-diam si papa mendengarkan dengan baik....*luv you pa.....*

Nah, jadi ceritanya, karena tiba-tiba selesai main hape fadhli minta diidupin lepi, jadilah papanya beraksi. 

' Eh....papa punya cerita bagus lhooo...tentang semut dan gajah,......Adek dah tau blom ? '
'Kak Ciwa tauuuu...ada tuh di hape papa kaaannn.....

Kak Ciwa yang sedang asik main dengan kertas-kertas bindernya ikutan seru...Melihat sikon yang cucok banget buat ngalihin perhatian Fadhli, aku pun langsung beraksi bantuin papoy.....

"Eeee...mau mau....Mama mau dengar donk Paa.....gimana ceritanya ?' Kataku sembari langsung duduk manis di depan Papanya anak-anak. Fadhli pun langsung senyum-senyum dan ikut antusias....

Dan men-dongeng ala Papa pun dimulai. Ahh...kagum....si papa tuh sebenernya pinter banget buat jadi pendongeng, ekspresif banget.....dan intonasi suaranya juga bikin curi perhatian terus gak bosenin....Dimulai dengan nanya ke fadhli, apa itu semut dan gajah, mulai dari bentuk, ukurannya. Dan ceritapun terus mengalir hingga akhir. Gak lupa si papa menyimpulkan apa pelajaran berharga dari cerita semut dan gajah.

'Adek mau denger cerita lagi gak ?'
' Eeee...fadhli mau main laptop....
' Tunggu dulu, papa punya cerita lain ni..' 

Fadhli pun tergelak-gelak saat papa mencowel-cowel pinggangnya sambil bercerita. Cerita ke-2 tentang si Kancil dan si Buaya. Aku cuma jadi pemerhati...hehehe....senengnyaaaa....

Tapi fadhli hanya bertahan di 2 cerita saja...setelahnya fadhli bilang capek....huahhahahaha....Begini ya anak cowok yang biasanya main ini itu bergerak terus kesana kemari.Jadi di suruh duduk manis tuh beraaatttt dan malah bikin dia ngerasa capek dibandingkan harus loncat-loncatan.....hehehe...Anyway....ini satu kemajuan :-)

Begitulah...bahagia rasanya setiap kali sepakat dan punya cara-cara sepakat untuk menjaga anak-anak. Tidak semua hal harus kompak memang, karena anak juga perlu belajar untuk mengerti adanya perbedaan. Tapi kalo urusan yang begini-begini...seneng aja rasanya.....* kalo digambarin nih, ada lope lope keluar dari hati Mama....-edisi gambarnya kak ciwa- wkwkwkwk....*

Semoga cerita ini berlanjut ke dongeng 3, 4 dan seterusnya. *hope and pray* ting ting...

Ada yang punya cara-cara lain menghadapi anak yang ngrayu minta main gadget ? Share dunk.....:-)





Sabtu, 26 April 2014

[Baiti Jannati] Ipad untuk Fadhli

26 April 2014

Penampakan Ipad baru Fadhli


Hari yang cukup sibuk,
Pagi - pagi harus beresin Kak Ciwa buat test sains Kuark
Adek fadhli yang heboh banget minta sepedanya yang masuk bengkel segera diambil
Rencana beli jamur tiram plus ngeliat peternakannya
Mo shooting buat video klip.....*becanda dink...maksudnya shooting buat media pembelajaran....

Karena hari libur,
Anak-anak lebih memilih main dengan teman-temannya di rumah dibandingkan ikut mama-papa nya lihat peternakan jamur apalagi liat artis baru mau nyoba shooting...hehehe
Jadilah anak-anak ditinggal dengan kakak pengasuh
Sementara papa-mama menyelesaikan urusannya

Setelah adzan dzuhur,
pekerjaan-pekerjaan di hari libur itu pun selesai
Pulang ke rumah dengan perut keroncongan
Tak dinyana, adek fadhli nunjukin sesuatu dengan senengnya

'Ma,fadhli punya ipad baru....dibuatin Kak Ciwa'

Aku berusaha fokus diantara perut yang udah bunyi karena lapar
Secarik kertas yang terlipat 2 dengan potongan yang aku kenal

'Adek main gunting yaa....,' tanyaku.
'Gak....kak ciwa kok....,' jawab fadhli.

Lebih jelas setelah aku pegang sendiri kertas itu
Ku lihat ada beberapa gambar dengan keterangan di situ
Barulah aku sadar kenapa kertas terlipat ini disebut Ipad oleh Fadhli...;-)

Menu-menu Ipad fadhli pun dapat dilihat dengan jelas di sini:


Menu Games Ipad buatan Ciwa

Ada cake maker, salon make up princess, google search, facebook, Pou, Cars, dll.
Secara kak Ciwa yang buat, tuh menu lebih cocok buat anak perempuan...hahahaha
Trusss.....ada tombol left and right, tanggal dan jamnya juga ternyata:
Left and right


Jam dan indikator baterai Ipad

Tanggal di Ipad (ternyata tanggalnya untuk besok...hihihi)

Sebagai emaknya, tentu seneng banget lihat yg begini-begini
Kak Ciwa baek ama adeknya
Gak pake berantem, secara biasanya mah itu menu sehari-hari ;-P

'Kakak buatkan untuk adek ?,' tanyaku ke Ciwa
'Iya Ma....fadhli tadi suruh kak Ciwa buatkan Ipad....ya kak ciwa buatkan...'

Aku tersenyum bangga....
Entah dari mana ide ini
Tapi yang jelas...My Children are my inspiration...
Lihat saja, hari ini jadi punya bahan untuk ngisi blog
Padahal dah berapa hari ini 'blank' diterpa dead line urusan kantor

Kak Ciwa jelasin gunting yg dipakenya untuk membuat 3 ipad fadhli
Yup....ternyata ada 3 dengan model guntingan yang berbeda
Ini penjelasan kak Ciwa tentang gunting mana untuk membentuk layar Ipad yg mana...

Foto ini ide kak Ciwa....Action aja nih...padahal kertasnya udah digunting...hehehe



So, that's all.....and i'm happy to write it down here.....
Semoga lebih banyak ide kreatif dari anak-anak ku...Amiin...


*Sekarang nunggu jamur crispy buatan papa...