Iboih Beach, Sabang, Weh Island, Aceh.

Iboih Beach, Sabang, Weh Island, Aceh.
Tampilkan postingan dengan label Lomba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lomba. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Juni 2015

Gerakan Rehabilitasi 100.000 Penyalahguna Narkoba Wujud Terobosan BNN Selamatkan Korban Narkoba

Awal tahun 2015, Pemerintah bersama Badan Narkotika Nasional (BNN), TNI, Polri, pegiat antinarkotika, dan mahasiswa mendeklarasikan Gerakan Rehabilitasi 100.000 Penyalahguna Narkoba. Jumlah tersebut merupakan target minimal yang mampu dilakukan BNN. Dengan gerakan ini, BNN berharap dapat merehablitasi 100.000 penyalahguna narkoba setiap tahunnya. (Sumber : BNNP Aceh)

========================================================================

Belakangan ini berita-berita di berbagai media baik cetak maupun elektronik membahas banyak sekali kejadian atau temuan yang berkaitan dengan narkoba. Barang haram tersebut sudah menyerang masyarakat Indonesia dari segala sisi dan tanpa pandang bulu. Lihat saja berita-berita yang mulai sangat sering muncul pada layar kaca televisi kita. Mulai dari artis, anggota dewan baik pusat maupun daerah, para pejabat, hakim, siswa hingga ibu rumah tangga pun sudah menjadi korban narkoba.

Maka tak heran, Presiden RI pun menyatakan bahwa Indonesia darurat narkoba. Data BNN juga menyebutkan bahwa pengguna narkoba di Indonesia meningkat dari tahun ke tahun. Oleh karena itu, BNN pun bergiat melakukan terobosan-terobosan untuk mencegah penyebaran penggunaan narkoba yang lebih luas serta melakukan pemberantasan pada penyalahgunaan dan peredaran narkotika, psikotropika, prekursor dan bahan adiktif lainnya. Salah satu terobosan terbaru BNN yang dicanangkan pada tahun 2015 ini adalah Rehabilitasi 100.000 penyalahguna narkoba. Gerakan ini adalah upaya untuk menyelamatkan para korban narkoba agar tidak terperosok ke dalam jurang yang lebih dalam. 

Berdasarkan Undang-undang (UU) Nomor 35 Tahun 2009 tentang narkotika, pecandu narkotika wajib direhabilitasi. Ada perbedaan antara pengedar dan pemakai atau pecandu narkotika. Dalam hal ini, undang-undang menempatkan pecandu sebagai korban kejahatan narkotika yang wajib direhabilitasi, sementara pengedar tetap dihukum penjara bahkan sampai hukuman mati.

Lalu bagaimanakah pengadilan dapat memutuskan terdakwa pengedar atau pecandu? Pada saat terjadi kasus pidana kekerasan maka biasanya polisi akan meminta apa yang disebut dengan visum et repertum kepada dokter untuk mengetahui informasi-informasi yang terkait penyebab tindak pidana kekerasan tersebut terjadi dan pengaruhnya terhadap kesehatan korban. Dalam kasus narkoba, visum et repertum itu dinamakan asessmen. Sistem asessment digagas oleh BNN di tahun 2014 dengan ditetapkan nota kesepakatan bersama antara Mahkamah Agung, Kementrian hukum dan HAM, Kementrian kesehatan, Kementrian Sosial, Kejaksaan Agung, Kepolisian RI dan BNN. Tujuannya adalah untuk melakukan pengaturan upaya rehabilitasi medis dan sosial bagi penyalahguna dan pecandu narkoba serta mewujudkan koordinasi dan kerjasama secara optimal antar instansi penegak hukum dalam rangka penyelesaian permasalah narkotika dan pemberantasan peredarannya melalui penanganan tersangka penyalahgunaan narkotika dengan program pengobatan,perawatan dan pemulihan.

Asessmen terhadap tersangka penyalahguna narkoba dilakukan oleh Tim Asessmen yang terdiri dari penyidik Polri dan/atau penyidik BNN. Tim asessmen dapat menentukan 3 katagori tingkat keparahan penyalahguna narkotika yakni:

1. Tingkat ringan, yaitu jika kondisi seorang pengguna masih coba-coba dimana penggunaan narkotika dianggap rekreasi dan hanya dilakukan pada situasi tertentu.

2. Tingkat Sedang, yakni ditandai kondisi korban yang menggunakan narkotika secarateratur lebih dari 2 kali seminggu dan menggunakan 1 atau lebih jenis narkoba.

3. Tingkat Berat, jika penggunaan narkotika setiap hari, menggunakan suntik dan ditemukan adanya komplikasi medis dan psikis.

Tim asessmen mengetahui katagori penyalahgunaan narkoba melalui hasil pemeriksaan fisik, psikis dan laboratorium. Jika pengguna dikategorikan ringan, maka disarankan penyidik untuk wajib lapor, dilakukan konseling individu dan psiko edukasi keluarga. Jika dikatagorikan berat, maka diwajibkan mengikuti proses rawat jalan dan rawat inap bagi yang menderita komplikasi medis.

Mengapa korban narkoba lebih baik di rehabilitasi dari pada di penjara?
Rehabilitasi adalah proses refungsionalisasi dan pengembangan untuk memungkinkan seseorang mampu melaksanakan fungsi sosialnya secara wajar dalam kehidupan masyarakat (Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2009).
Mereka yang menjadi pengguna narkoba sebetulnya adalah korban kejahatan yang bersifat adiksi. Korban kejahatan seperti ini membutuhkan perlakuan khusus agar mereka mendapatkan perlindungan dan perawatan yang sesuai sehingga diharapkan mereka dapat kembali menjadi warga negara yang produktif. Penjara tidak serta merta menyelesaikan kasus penyalahgunaan narkoba. Karena tanpa perawatan yang sesuai, justru mereka berpotensi besar untuk kembali menjadi pembeli dan pecandu narkoba.

Dengan hukuman penjara, mata rantai pengedaran narkoba tidak akan bisa diputus. Karena akan ada saja pecandu yang membeli barang haram tersebut dari pengedar. Sifat narkoba yang menyebabkan ketergantungan menyebabkan pera pecandu yang belum sembuh akan terus mencari narkoba demi kebutuhannya. Maka terobosan BNN untuk melakukan rehabilitasi bagi pecandu narkoba adalah langkah yang patut didukung untuk menyelamatkan generasi bangsa dari kehancuran akibat narkoba.


Lingkungan rehabilitasi sangat berbeda dengan lingkungan penjara. Seseorang yang masuk ke dalam rehabilitasi akan menjalani proses pengobatan atau pemulihan dan diawasi sehingga ketergantungan terhadap narkoba sedikit demi sedikit akan hilang. Sangat berbeda dengan lingkungan penjara yang memungkinkan terjadinya hal-hal negatif termasuk seks bebas dan kekerasan. Ditambah lagi peredaran narkoba pun dapat terjadi dipenjara. Maka para pecandu ini tidak akan pernah sembuh.
Sebagaimana yang kita pernah baca atau dengar dari para mantan pecandu narkoba.Tidak sedikit dari mereka memilih menggunakan narkoba karena himpitan hidup,stress, ketidakmampuan menyelesaikan masalah pribadinya, menjadi korban keluarga broken home lalu mencari jalan pintas untuk mendapatkan perasaan senang sekejap yang ternyata justru menjadikan mereka tergantung pada narkoba dan menghancurkan masa depan mereka. Terlebih lagi berita yang akhir-akhir ini santer terdengar, dimana para pengedar telah menjadikan siswa sekolah dasar sebagai target korban mereka. Para produsen narkoba membuat narkoba seperti bentuk permen-permen yang menarik siswa sekolah dasar untuk mencobanya. Lalu tanpa sadar, para siswa tersebut perlahan dan pasti akan menjadi pecandu narkoba. Sangat miris bahwa diantara para pecandu, sangat mungkin ada mereka yang benar-benar hanya korban yang terjerumus dalam lingkaran setan narkoba akibat kejahatan pihak lain.

Secara pribadi, saya termasuk salah satu warga negara yang menginginkan agar pengedaran narkoba bisa diberantas habis dan para pengedar diberi hukuman seberat-beratnya. Tak terbayangkan masa depan yang akan disongsong oleh para anak-anak kita sebagai generasi penerus bangsa jika masalah narkoba ini tidak mampu diatasi dengan baik. Tentu saja kita tidak menginginkan jika kelak negara ini diisi dengan para genarasi penerus yang bermental narkoba. Namun, langkah BNN melakukan deskriminalisasi terhadap penyalahguna narkoba patut didukung. Rehabilitasi akan memberi jalan bagi mereka para pecandu yang tanpa sengaja terjerat dalam lingkaran narkoba maupun para pecandu yang ingin sembuh untuk dapat kembali menata hidup dan masa depan mereka.

Oleh karena itu, tentu saja kita sangat mengharapkan agar proses asessmen yang dilakukan terhadap terdakwa narkoba dapat dilakukan secara benar, bersih dan sesuai prosedur. Sehingga tujuan dari deskriminalisasi akan tercapai dan tidak salah target. Karena proses asessment yang buruk dan tidak sesuai prosedur akan memberikan kesempatan bagi para pengedar untuk lolos dari jerat hukum. 

Mari Berperan serta Mensukseskan Gerakan Rehabilitasi 100.000 Penyalahguna narkoba

Apapun program yang dicanangkan pemerintah dan BNN untuk mengatasi darurat narkoba hanya akan menjadi mimpi jika tidak ada peran serta dari berbagai pihak. Selain institusi yang terkait terhadap penanganan maupun pemberantasan narkoba, peran masyarakat dan pemuda akan memberikan dampak yang signifikan. Jika ada orang-orang terdekat kita yang ternyata terindikasi sebagai pecandu narkoba, jangan takut untuk melaporkannya karena tidak akan diberi sanksi pidana. Pelaporan dilakukan ke Institusi Penerima Wajib Lapor atau IPWL. IPWL adalah pusat kesehatan masyarakat, rumah sakit, dan/atau lembaga rehabilitasi medis dan lembaga rehabilitasi sosial yang ditunjuk oleh Pemerintah.

Demi menyukseskan Indonesia yang bebas narkoba, semua komponen bangsa harus bersama-sama bergandengan tangan untuk tidak memberi ruang bagi terjadinya pengedaran maupun penggunaan narkoba di lingkungannya. Para orangtua harus mempunyai pengetahuan dan wawasan yang cukup untuk mampu mengenali gejala-gejala yang ditunjukkan oleh pecandu narkoba. Hal ini akan membantu para orangtua mengenali secara dini jika anak-anak mereka menggunakan narkoba dan dapat memberikan bantuan sesegera mungkin agar dampaknya tidak menjadi semakin buruk.

Adapun ciri fisik dapat dikenali dari mereka yang menggunakan narkoba adalah sebagai berikut :

- Mata merah
- Bau badan sangat menyengat. Mereka yang memakai putaw biasanya malas mandi dan hanya menggunakan baju yang itu-itu saja.Rabut juga terlihat berminyak dan mudah rontok.
- Pernapasan lambatdan dangkal seperti orangyang baru selesai berolahraga.

Selain itu perilaku yang biasa terjadi pada pecandu narkoba adalah :

- Aktivitas tidur terganggu.
Pecandu narkoba dapat tidur dan bermalas-malasan sepanjang hari, atau sebaliknya.

-Perubahan perilaku makan dan minum.
Pecandu narkoba dapat menjadi orang yang tidak suka makan atau malah makan secara berlebihan.

-Menjadi emosional dan sensitif.
Pecandu narkoba sangat mudah tersinggung. Kesalahan kecil bisa dianggap kesalahan besar yang mengganggu dirinya.

-Kekacauan cara berfikir.
Bagi yang sering menggunakan narkoba biasanya mengalami kekacauan pikiran dan sangat sulit berkonsentrasi.

-Kebutuhan uang bertambah.
Pemakai narkoba biasanya mulai merongrongkeluarga untuk menyediakan sejumlah uang untuk membayar sesuatu.

Mencegah Lebih Baik Daripada Mengobati !

Pepatah lama yang mengatakan mencegah lebih baik dari pada mengobati sangat tepat untuk mencegah anak terlibat dalam penyalahgunaan narkoba. Keluarga adalah tempat dimana anak dapat memperoleh informasi awal tentang bahaya narkoba. Untuk itu orangtua diharapkan wajib memberikan perhatian dan pengawasan yang cukup serta memberikan pengetahuan kepada anak agar menyadari bahaya narkoba.
  
Mengobati anak yang terlibat narkoba jelas membutuhkan energi dan biaya yang lebih besar daripada melakukan tindakan pencegahan sedari dini. Oleh karena jeratan narkoba sudah merambah hingga ke tingkat siswa sekolah dasar, adalah sangat penting untuk memberikan pengetahuan tentang bahaya narkoba sejak dini.

Langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh para orangtua untuk melakukan pencegahan terhadap penyalahgunaan narkoba adalah :

1. Mempelajari masalah narkoba. 
Orang tua harus sebisa mungkin mengikuti perkembangan terbaru jenis dan bentuk narkoba baik dari media cetak,media elektronik maupun dalam forum diskusi. Pengetahuan ini kan memberikan jalan bagi orang tua menentukan tips kepada para anak-anak mereka untuk menghindari jenis-jenis narkoba tertentu yang kadang kala diedarkan sebagai makanan.

2. Mengajarkan anak tentang apa itu narkoba dan bahayanya bagi tubuh.
Orang tua harus bisa menjelaskan secara spesifik, konsisten dan masuk akal tentang bahaya narkoba bagi tubuh, sehingga anak akan bisa mengerti pengaruh buruk narkoba.

3. Mewaspadai sikap dan perilaku anak.
Orang tua seyogyanya memberikan perhatian dan pengawasan yang cukup kepada anak. Orangtua harus bisa melihat perubahan-perubahan kecil perilaku anak. Sikap waspada terhadap perilaku anak juga dapat memberi sinyal kepada orangtua jika anak terindikasi menggunakan narkoba.

4. Pola hidup sehat dalam Keluarga.
Penyalahgunaan narkoba adalah salah satu dari bentuk kenakalan anak. Dan seringkali anak yang tidak mendapatkan perhatian yang cukup di rumah lalu mencari kenyamanan di luar rumah lalu jatuh dalam jerat narkoba. Maka menjalin hubungan dan komunikasi yang baik diantara orang tua dan anak akan sangat mempengaruhitingkatkeberhasilan usaha orangtua untukmenjauhkan anak dari bahaya narkoba.

5. Bekerjasama dengan lingkungan sekolah.
Hal ini sangat penting, mengingat sebagian waktu anak-anak dihabiskan di sekolah dan tidak sepenuhnya orang tua bisa memantau perilaku anak di sekolah.Oleh sebab itu kerjasama dan komunikasi yang baik antara orang tua dan pihak sekolah menjadi hal yang sangat penting untuk menghindari anak terlibat penyalahgunaan narkoba. Selayaknya orangtua dan pihak sekolah saling memberikan informasi jika terjadi hal-hal yangtidak biasa pada anak. 

6. Bekerjasama dengan lingkungan rumah.
Menjalin komunikasi yang baik dengan lingkungan di sekitar rumah juga menjadi faktor yang penting dalam melakukan tindakan pencegahan agar anak tidak terlibat narkoba. Orangtua harus mengetahui lingkungan bermain anak. Secara bersama-sama dengan tetangga, para orang tua lain, RT dan RW mengawasi pergaulan anak-anak.

Sekali lagi, mari kita bersama-sama mensukseskan gerakan rehabilitasi 100.000 penyalahguna narkoba yang digagas oleh BNN. Salah satunya adalah dengan menyebarkan informasi seluas-luasnya kepada orang-orang terdekat, keluarga, teman dan tetangga tentang program rehabilitasi ini. Sehingga akan banyak pecandu yang bisa diselamatkan masa depannya. Bagi mereka yang pecandu, sadarilah bahwa narkoba hanya menawarkan masa depan suram dan kematian. Songsong hari depan lebih baik dengan memulihkan diri dan menjauh dari narkoba. Hidup indah tanpa narkoba !




Sumber :
- http://blog.bnnpaceh.com
-http://www.bnn.go.id/portal/index.php/konten/detail/deputi-pencegahan/tips/10763/tips-mengenal-ciri-ciri-anak-pengguna-narkoba
-http://belajarpsikologi.com/cara-pencegahan-narkoba-sejak-dini/
-http://www.bnn.go.id/portal/index.php/konten/detail/deputi-pencegahan/tips/10787/7-langkah-pencegahan-penyalahgunaan-narkoba
-http://ditnarkobajabar.org/berita-153-tips-mengenal-ciriciri-anak-pengguna-narkoba.html


Sabtu, 23 Mei 2015

My Pregnancy Story: There is always a different story in every pregnancy

Merasakan kehamilan adalah dambaan setiap wanita. Keinginan memiliki buah hati pada masa-masa tertentu yang kita harapkan, belum tentu dijawab langsung oleh Sang Maha Pemilik Kehidupan. Dan itu terjadi pada keluarga kami. Sejak awal, aku dan suami sepakat untuk memiliki setidaknya 4 anak yang nantinya akan meramaikan rumah kami, tentu saja jika Allah ridho menitipkannya pada kami. Tapi, saat usiaku hampir memasuki 36 tahun, aku belum juga hamil lagi. Sementara anak keduaku pun sudah menginjak usia 5 tahun. Padahal aku sudah menanti momen tersebut sejak usianya 3 tahun.

Kisahku tentang masa-masa penantian menunggu anak pertama juga cukup menguras energi dan airmata. Begitu banyak hal yang kami lalui, sampai akhirnya, putri mungil kami lahir ke dunia. Kisah itu aku bagi di sini. 

Allah Maha Tahu, insya Allah aku meyakini hal ini. Aku tak pernah menggunakan KB jenis apapun. Karena tanpa KB pun, ke-2 anakku sudah diberi jarak alami oleh Sang Pemberi Rezeki. Sulungku lahir setelah 3 tahun pernikahan kami dan anak kedua kami lahir 3 tahun berikutnya. Dan Alhamdulillah, setelah menunggu dengan harap cemas, sekarang aku sedang hamil anak ketiga yang berarti jaraknya 6 tahun dengan anak keduaku.

Insya Allah, Allah telah memberikan saat yang tepat. Aku adalah ibu bekerja, yang terkadang dituntut untuk mampu membuat planning yang tepat kapan harus melakukan sesuatu untuk karir dan kapan waktunya untuk keluarga. Karena dalam beberapa hal, keduanya sulit untuk bisa berjalan berdampingan. Karena pasti tak akan maksimal di satu pihak.Tapi sekali lagi, manusia hanya punya rencana, tapi Allah yang akan menentukan.

Kehamilan ketiga ini tentu saja membuat aku dan suami behagia luar biasa. Belakangan sebelum aku hamil, aku sering sekali bercerita tentang perkara ini. Mengapa aku tak jua hamil dan betapa rindunya kembali memeluk bayi mungil. Believe or not, aku bahkan bermimpi beberapa kali tentang kehamilanku beberapa hari sebelum akhirnya suamiku menyadari bahwa aku terlambat haid ! Yup.....suami yang sadar bukan aku. Kenapa? Entahlah, setelah cukup lama menunggu, aku jadi agak pasrah dan tak mau ngoyo menunggu apakah saat jadwalnya tiba, aku terlambat atau tidak. Haidku sangat tepat waktu. Hampir tak ada yang namanya terlambat walau 1 hari. Hitungannya selalu tepat. Sehingga seringkali melow kalau setelah deg-degan menunggu tapi ternyata si bulan datang. Akhirnya kuputuskan untuk pasrah. Mau datang ya datang...silahkan saja. Jika memang Allah menghendaki aku hamil, waktu itu akan tiba. Begitu akhirnya, meski harap tetap aku simpan di sudut hati.

Setelah menyadari bahwa haidku telat, aku tak serta merta memeriksakannya ke dokter atau sekedar melakukan tes menggunakan test pack. Jangan tanya kenapa, rasa kuatir akan kecewa lebih besar dari rasa penasaranku saat itu. Meski sebetulnya, seperti yang tadi aku sampaikan, aku hampir tidak pernah telat haid. Dan dari pengalaman sebelumnya pun, setiap kali telat, maka biasanya memang aku hamil. Selain itu, aku ingin buat surprise saja pada suami dan anak-anak. Aku menunggu momen 12 tahun pernikahan kami untuk menunjukkan hasil tes pada suami dan anak-anak. Ceritanya kutuliskan di sini....:-)

Segera setelah mengetahui kehamilanku dari hasil test pack, suami memintaku segera mencari waktu untuk menemui dokter kandungan. 


Si garis dua yang selalu dinanti

Kista diameter 6 cm

Aku tak pernah menyangka jika kehamilan kali ini disertai adanya kista yang sudah cukup besar, berdiameter 6 cm lebih ! Takut? Pasti, aku tak pernah punya pengalaman soal kista. Apalagi di saat hamil. Saat melakukan USG, dokter kandunganku justru langsung mengenali kista dibandingkan melihat keadaan kantong rahimku. Saat itu dokter mengatakan, bahwa ukuran kantong rahimku masih sangat kecil. Aku menangkap seakan sang dokter hanya fokus pada kista dan menganggap aku belum hamil. Segera aku sampaikan bahwa aku sudah melakukan tes sendiri dan muncul dua garis. Setelahnya barulah beliau menyampaikan beberapa hal terkait kehamilanku dan kista yang ada. 

Menurut beliau, kista tersebut bisa saja muncul akibat kehamilan itu sendiri. Jika memang itu yang terjadi, maka biasanya dengan diberikan obat penguat nantinya kista tersebut akan mengecil dengan sendirinya. Namun jika tidak dan kista terus membesar, maka akan dilakukan pengangkatan kista pada usia tertentu kehamilan. Namun jika kistanya tidak terlalu membesar dan tidak menganggu, maka pengangkatan kista akan dilakukan berbarengan dengan kelahiran sang bayi. Tentunya dengan seksio atau caesar. Setelah memberikan resep obat penguat, dokter memintaku kembali check up setelah 15 hari.

Aku dan suami terus berdo'a agar kista yang ada di rahimku tidak semakin membesar dan bisa segera hilang. Alhamdulillah, setelah kembali check up ke dokter, kondisi kista mengecil menjadi hanya berdiameter 3 cm saja. Itu pun tidak terlihat jelas dengan USG melalui perut, namun bisa dilihat dengan USG trans vaginal. Di kedatangan berikutnya, tidak lagi terlihat ada kista. Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah SWT.

O ya,tentang kista yang sudah sebesar itu, apakah aku tidak merasakan gejala apapun? Sebenarnya sudah sejak sekitar 6 bulan sebelumnya, aku sering mengeluh sakit dan nyeri pada bagian perut bawah kanan. Awalnya aku pikir usus buntu. Tapi karena sakitnya hilang timbul, aku pikir tak terlalu harus khawatir. Sehingga rencana berkali-kali dari dokter keluarga untuk USG juga tak aku jalankan. Ah.....ini jadi pelajaran berharga. Bagi perempuan, sakit di bagian perut bawah itu harus segera dicari tahu. Begitu banyak penyakit-penyakit berbahaya yang bisa menyerang daerah rahim.

Morning sickness ? No, it is an Allday sickness, actually.

Seperti halnya mayoritas ibu hamil, aku juga merasakan berbagai perasaan dan keadaan tak nyaman selama trimester pertama kehamilan. Namun jika yang lain hanya merasakan mual dan muntah di pagi hari, maka aku justru merasakannya sepanjang hari. Bahkan terasa tanpa jeda! Tapi ini bukan hal baru bagiku. Dua kehamilan sebelumnya pun demikian yang aku alami. Hanya saja, memang benar, ternyata setiap kehamilan mempunyai ceritanya sendiri-sendiri ! 

Kehamilan kali ini kurasakan mual dan muntah yang luar biasa. Kalau saat kehamilan pertama dan kedua aku masih bisa melakukan cukup banyak aktifitas, justru pada kehamilan kali ini, hampir tak ada yang bisa kulakukan selain tidur. 

Hal biasa yang juga terjadi pada kehamilan kali ini adalah : aku tak bisa mencium aroma masakan maupun bumbu-bumbu, meski tak suka bau makanan tapi masih cukup makan, tidak suka bau minyak wangi ataupun pengharum ruangan, takut masuk kamar mandi, muntah saat gosok gigi dan lain sebagainya. 

Yang berbeda dan membuat terasa lebih 'berat' adalah : aku tak tahan dingin, muntah lebih sering hingga lemas, tak suka bau daun seledri,tak suka bawang goreng, hanya selera jika makanan berkuah terutama sop daging, menjelang tengah malam rasanya dari dada hingga perut terasa panas hingga tak bisa tidur, bahkan terlalu banyak ngomong atau cerita membuatku serasa masuk angin dan ingin muntah. Hal ini membuat aku harus 'mengungsi' beberapa waktu dari ruang kerja agar tak terlalu mudah mual dan muntah. Mencari tempat yang lebih hangat tanpa pendingin udara dan tanpa pewangi ruangan. :-)

Ketidaknyamanan tersebut berlangsung hingga minggu ke 15 kehamilan. Alhamdulillah setelahnya lebih segar dan semangat. Bahkan bobot tubuh segera naik hampir 3 kg dalam waktu kurang dari sebulan. Hehehehe.

Perhatian suami is the best motivation ever

Saat MS atau AS melanda....tentu saja pengertian dari orang-orang terdekat sangat dibutuhkan oleh ibu hamil. Perasaan nyaman dan tenang bisa mengurangi beban berat yang ditanggung. Apalagi pengertian dan perhatian dari suami tercinta.

Alhamdulillah, suami begitu pengertian dan perhatian. Sejak awal kehamilan dan mulai merasakan ketidaknyamanan hingga sering tak mampu bangkit dari tempat tidur, suami sudah mengambil alih hampir semua tugasku di rumah. Menyiapkan sarapan pagi, menyiapkan perlengkapan anak-anak termasuk memandikan si bungsu Fadhli serta semua hal kecil yang biasa aku kerjakan. Tentu saja hal ini sangat membantu, bagaimana tidak, saat pagi hari, memikirkan diri sendiri untuk bisa bangun lalu mandi dan bersiap berangkat kerja saja sudah masalah sendiri bagiku saat itu. Pengertian suamiku ini membuatku bisa lebih kuat dan tegar menjalani trimester pertamaku. Meski sangat tidak nyaman, aku tahu ada yang begitu support dan memperhatikan kebutuhanku....:-) 

Pernah beberapa kali di awal kehamilan, aku merasa sangat mual dan tak ada makanan yang bisa masuk. Bahkan tidur pun tak menghilangkan rasa tidak nyaman itu. Aku menolak makan. Tapi suamiku dengan sabar menasehatiku untuk ingat bahwa ada calon bayi dalam rahimku yang harus aku perhatikan. Bahwa aku harus makan meski sulit. Akhirnya aku makan juga meski hanya beberapa suap saja. Disuapin suami sambil nangis. Bukan karena sedih atau haru loh ya, tapi karena tak kuasa menahan rasa mual yang begitu berat.

So....untuk para ayah dan calon ayah....kudu perhatian sama istri yang lagi hamil ya. Biar ibu dan calon bayi bisa sehat dan bahagia......:-)

Bahagia Bersama

Sejak perut Mamanya mulai menggelembung, Kak Ciwa dan Abang Fadhli sudah mulai heboh. Setiap kali tanya kapan dedek bayinya lahir. Atau, mengelus perutku sambil bilang, "Dedek sehat ya" atau "Dedek cepat besar ya dan cepat lahir". Semua hal yang bisa membuat senyum sumringah di wajahku. Meski seringkali juga aku harus mampu 'melerai' adu mulut kedua anakku soal jenis kelamin adiknya kelak.

Yup, kedua anakku itu menginginkan jenis kelamin yang berbeda untuk adiknya kelak.Si sulung Ciwa lebih suka punya adik perempuan, sementara si Abang lebih suka adik cowok yang bisa diajak main mobil-mobilan. Bukan sekali dua kali saja 'pertengkaran' itu terjadi. Sering sekali. Bahkan kadang sangking kesalnya si abang bilang begini : 'Ma,ya udah...Mama punya adiknya dua-lah seperti Hadi-Ranu (tetangga yang kembar). Weleh....

Aku terus berusaha menjelaskan kepada keduanya,bahwa apapun nanti adiknya,laki-laki atau perempuan sama saja.Yang terpenting adiknya sehat jasmani dan rohani, lengkap tanpa ada kurang suatu apapun. Bahwa apapun jenis kelamin adiknya nanti mereka tetap harus menyayanginya. Meski belum bisa menerima dengan legowo, biasanya keduanya akhirnya mengangguk.

Masalah jenis kelamin ini sepertinya dianggap serius oleh si Abang. Pernah suatu kali, pengasuh di rumah bilang begini : 'Kalau Mama suka makan sup daging, berarti adiknya cewek', sambil menggoda si Abang. Tanpa menjawab, anak laki-lakiku itu langsung berlari menghampiriku di kamar sambil berkata : 'Mama, jangan makan sup daging lagi yaaaa', pintanya penuh harap. Ya ampuuunnn....hehehehe. Bahkan beberapa hari setelahnya saat dia memergoki aku makan sup daging, dia protes: 'Mama kok makan sup daging???', sambil manyun. Oalah anakku.....

Begitulah, kehadiran calon dedek bayi di dalam perutku memberikan cerita yang berbeda di rumah kami. Bahkan suamiku pun beberapa kali bertanya, 'Udah kerasa gerakan adek Ma?'. Sepertinya sudah tak sabar merasakan sensasi meraba perutku untuk merasakan gerakan dan tendangan si dedek bayi :-)

Ah....bahagia bersama, baiti jannati. Kini kehamilanku sudah di trimester kedua. Semoga Allah SWT melindungi calon bayi ini, menyempurnakan pertumbuhannya, melancarkan proses hingga persalinannya, dan menjadikannya kelak sebagai hamba yang sholeh sholeha, Amiiin.




Tulisan ini diikutkan dalam kompetisi menulis yang diadakan oleh NUK Indonesia dengan tema #Pregnancy Story