Iboih Beach, Sabang, Weh Island, Aceh.

Iboih Beach, Sabang, Weh Island, Aceh.
Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Januari 2015

Mommylicious : Nikmatnya menjadi seorang Mama, Kaya Warna, Kaya Rasa.



Beberapa bulan belakangan, aku kembali akrab dengan buku-buku. Salah satu buku yang selalu aku bawa dan baca saat di rumah maupun di kantor adalah Mommylicious_ID. Buku ini dikirim langsung oleh salah seorang penulisnya, Mama Arin Murtiyarini. Blogger yang aku kenal lewat Kumpulan Emak-emak Blogger. Berulang kali mampir di rumah maya-nya menginspirasi diriku untuk membersihkan dan kembali mengisi blogku yang sudah penuh dengan sarang laba-laba. 

Informasi buku yang diterbitkan dua Mama ini juga aku ketahui dari postingnya Mama Arin di timeline Kumpulan Emak-emak Blogger.Tanpa pikir panjang, aku segera menghubungi Mama Arin untuk mendapatkan buku plus tanda tangan penulis tentunya. Aku belum banyak mengenal Mama Rina Susanti sebelumnya, tapi setelah membaca buku Mommylicious_ID, membuat aku seakan menjadi pendengar setia curhat Mama Rina.

Selain bahwa salah satu penulisnya adalah inspirator bagiku, cover buku Mommylicious_ID yang begitu unik langsung menunjukkan bahwa isi buku akan bercerita seputar parenting dan motherhood. Jenis genre buku yang tak pernah bosan untuk dibaca, apalagi bagi seorang Mama sepertiku. Benar saja, beragam masalah parenting disuguhkan dengan begitu apa adanya dalam buku ini. Seringkali saat membacanya, aku tersenyum simpul atau mengangguk-angguk berulang karena merasa apa yang dinyatakan dalam cerita adalah pendapatku juga. Bahkan juga haru hingga menitikkan air mata. Mommylicious_ID membuatku belajar banyak hal dari pengalaman Mama Arin dan Mama Rina. 

Cerita dalam Mommylicious_ID dibagi dalam 5 judul besar, yakni :
#1. New Baby New Life
#2. Mom's Partner In Crime
#3. Growing Up
#4. Mommy and Friends
#5. Love Wishes

Aku terbiasa memberi penanda pada setiap buku yang kubaca. Tanda-tanda itu akan aku gunakan untuk menyusun review dari buku yang kubaca atau mebuat catatan-catatan pada kalimat-kalimat inspiratif. Tak kusangka, semakin bertambah jumlah halaman yang kubaca, semakin sering penanda itu kutempelkan pada setiap halaman buku. Hampir setiap pengalaman dua Mama ini ingin aku tuliskan kembali. Begitu inspiratif, mengena dan sangat mirip dengan pengalaman pribadiku. Sampai-sampai anak perempuanku yang rajin mengikuti buku-buku yang kubaca pun bertanya, mengapa banyak sekali aku menggunakan penanda kali ini.

Penanda warna-warni yang aku gunakan.

Salah satu penanda pada catatan Mama Arin

Salah satu penanda pada Catatan Mama Rina


 #1

Cerita  yang dimulai dengan pengalaman pertama Mama Arin melahirkan, mengundang senyum yang dalam. Aku pun teringat, bagaimana rasa bahagia itu hinggap di hati kami (aku dan suami), serasa takkan pernah luntur. (Pengalaman Pertama, hal. 13)

Cerita Mama Rina tentang kegagalannya memberikan Asi ekslusif bagi Azka,mau tak mau juga memutar ceritaku sendiri. Aku pun gagal memberikan Asi ekslusif kepada anak sulungku meski dengan alasan yang berbeda. Asiku cukup tapi sedikit sekali jika diperah untuk stok. Itu sebabnya, setelah kembali bekerja, bayiku lebih sering diberi sufor oleh pengasuh karena saat dia menangis, aku belum bisa pulang. Akibatnya produksi ASI-ku pun semakin berkurang. Sedih, bahkan untuk beberapa waktu rasa bersalahnya gak pernah bisa hilang. Kuatir kalau anakku akan sering sakit karena tidak banyak mengkonsumsi Asi. Itu sebabnya Mama Rina, kegalauanmu begitu bisa kurasakan. (ASi untuk Khalif, hal. 17)

'Sebenarnya nggak ada istilah ASI yang tidak cukup, itu sebabnya Allah memerintahkan menyusui sampai dua tahun.Usaha kita yang harus lebih keras.'(Hal.20)

Ah Mama Rina, aku bisa merasakan kemarahan dan kesedihan itu. Teganya seorang Mama mengatakan hal seperti itu kepada Mama lainnya. Bukankah keinginan untuk memberikan yang terbaik kepada bayinya adalah naluri seorang Mama? Mengapa masih ada yang meragukannya? Moms War yang tiada akhir, antara ASI dan sufor. Seringnya kita merasa lebih baik saat mampu memberikan ASI ekslusif lalu merendahkan dan menyepelekan Mama lain yang belum bisa melakukan hal yang sama. Apa kita benar-benar tahu apa yang sudah para Mama itu usahakan? Aku terhenyak.  

Dan aku iri sekaligus bangga padamu Mama Arin :-). Meski bekerja tetap bisa memberikan ASI ekslusif pada Cinta. Ah, semoga jika Allah ridho menitipkan lagi, aku bisa sepertimu Mama Arin...(Momen Indah, hal. 21).

Kagum sama Cinta yang bersikap dewasa dan banyak membantu Mama Arin merawat adiknya Asa. Sepenggal pernyataan yang mengingatkan dan menyadarkanku Mak Arin, bahwa...ya, mereka masih anak-anak. Terkadang aku pun lupa. Terus meminta sulungku Ciwa untuk terus bertoleransi pada adiknya Fadhli. Aku lupa, dia juga punya hak untuk diperhatikan. Bahwa dia masih kecil, bukan wanita dewasa dengan ukuran mini. (Asisten Cilik, hal.24).

Sulungku lebih mirip Azka. Masih banyak cemburu pada adiknya. Bahkan terkadang memaksaku untuk lebih memperhatikan dia dibanding adiknya. Hal yang sering menguji kesabaranku, Mama Rina. Sangat. Hmmm, sepertinya akupun lebih mirip Mama Rina. Berusaha untuk tenang dan sabar, meski kadang tak urung meledak juga. Sementara Mama Arin, sepertinya jauh lebih sabar. (Kakak Cemburu?, hal.28).

'Ini menyadarkan saya akan satu hal, semenjak kehadiran Khalif intensitas kami berpelukan semakin berkurang, tidak setiap malam membacakan buku atau menemani mewarnai atau main cat air, karena perhatian saya lebih tersita oleh Khalif.' (hal. 32)  

Hatiku terenyuh Mama Rina. Aku pun pernah punya pengalaman serupa. Setiap kali setelah insiden dengan Ciwa, aku mendekapnya, meminta maaf padanya jika telah menyakiti hatinya, menjelaskan mengapa aku melakukan hal itu. *saat menuliskan ini pun air mata tak kuasa ku tahan*

Setuju sekali dengan Mama Arin, kakak itu adalah idola bagi adiknya. Sang adik kerap meniru apa yang dilakukan sang kakak, bahkan untuk kebiasaan yang kurang baik sekalipun. Itu pula alasan, aku dan suami berharap, Ciwa bisa menjadi anak sholeha yang cerdas, sehat dan percaya diri, agar kelak Fadhli akan mengikuti jejaknya. Namun tentu saja dengan cara-cara yang baik dan tidak menuntut terlalu keras.*semoga*.Jika ditanya mana dari dua anakku yang paling kusayang? Oh Mama Arin, aku pun mengalami perasaan serupa. Kita menyayangi keduanya dengan  cara dan alasan yang berbeda kan Mama Arin? (Kakakku Idolaku, hal. 32 dan Pertanyaan Nakal, hal.39).

#2

Catatan Mama Rina di 'Mama 911' membuatku tersenyum. Kalau asisten rumah tangga mendadak harus pulang, bagi Mama bekerja, itu 'pukulan' luar biasa. Bingung harus bagaimana menjalani hari-hari tanpa asisten. Terutama masalah anak-anak. Siapa yang akan menjaga mereka? Mama Rina masih beruntung, mempunyai Uti tempat meminta pertolongan. Seperti Mama bekerja lain, yang juga masih mempunyai orang tua yang sehat dan bisa dimintai bantuan. Alhamdulillah....:-)

Ternyata Uti sangat berhati-hati ya Mama Rina. Kalau aku sendiri, sejak kecil, kalau hujan lebat memang dibolehkan bermain hujan di lapangan samping rumah. Bersama abang dan adik-adikku. Kadang juga dengan beberapa orang teman. Memanjat pohon?Jangan ditanya, sering! Terutama pohon buah seri yang sedang matang kemerahan buahnya :-). Ciwa dan fadhli pun aku bolehkan main hujan jika mereka minta, asalkan hujannya deras, tidak banyak petir dan kondisi meraka sehat. (Yang dilarang Uti, hal. 54). 

Mama Arin ternyata tidak tahan digelitikin ya.Hihihi. Di rumah, saat bercengkrama bersama anak-anak, justru permainan menggelitik adalah salah satu favorit keluarga kami. Semua akan kebagian digelitikin. Kadang memang suami suka berlebihan. Sudah dibilang cukup, masih saja terus menggelitik. Tak urung ada juga sih aku manyun gara-gara itu...hehehe. (Candaan ala Ayah, hal. 58)

TV Kabel! Suami juga pernah menyarankan berlangganan tv kabel seperti yang dialami Mama Rina, untuk beberapa alasan yang sebetulnya bisa diterima. Aku pun ingin anak-anak bisa dengan mudah belajar bahasa asing dari kartun-kartun karena mereka doyan nonton VCD kartun anak. Tapi, kekuatiran untuk bisa menepis dan menghindari hal buruknya masih jadi pertimbangan utama yang membuatku berpikir 10 kali untuk berlangganan. Suami dan istri memang dua makhluk dewasa yang berbeda ya Mama Rina. Tapi, setuju sekali, kita dan suami  adalah tim dan partner yang saling melengkapi.Tosss !!! (Mama Vs Abi, hal. 62)

Ikut terharu membaca bagaimana Azka rela tidur larut malam demi bertemu dengan Abi-nya. Teringat bagaimana bungsuku Fadhli juga melakukan hal serupa. Bahkan terkadang, aku tertidur saat menemaninya menunggu. Dan Fadhli yang membangunkanku saat mendengar bunyi klakson mobil Papanya. Mewek daku Mama Rina...(Kangen, hal.65)

Fadhli juga sering berhasil meninabobokan Papanya loh Mama Arin. Hihihi. Dulu juga mengalami hal serupa, mencuri-curi waktu me time diantara dengkuran anak-anak dan suami. Sekarang ? Ikutan tidur saat anak-anak tidur ;-D (Kopi Panas, hal.69)

'Saya berharap, suatu saat mereka akan membaca dan ikut tersenyum.' (Catatan Mama Rina di Obrolan Serius  Hal. 75) 

Hal yang sama, yang mendorong aku menuliskan kisah anak-anak di dalam jurnal keseharianku, di blog.

'Dalam doa sebelum tidur, saya sampaikan, "Tuhan, semoga situsi besok mendukung, saya ingin memasak lebih sering untuk mereka." (Catatan Mama Arin di Makan malam yang tertunda Hal. 78)

Anak-anak dan suami juga suka masakanku. Bahkan anak-anak jarang menghabiskan kue-kue yang kami beli dari luar untuk mereka.Tapi jika aku yang membuat kuenya, kadang tak sampai besok, kuenya sudah ludes. Suami memintaku untuk lebih rajin membuat makanan di rumah. In sya Allah ya Pa....

'Saya jadi diingatkan betapa pentingnya berbagi pengetahuan soal parenting pada asisten atau babysitter, agar mereka tidak mudah memberi label negatif pada anak.' (Catatan Mama Rina di Curhat si Mbak Hal. 85)

Setuju banget Mama Rina. Aku pun berusaha untuk sering sharing dengan kakak pengasuhnya soal ilmu-ilmu parenting yang aku dapat. Termasuk kejadian-kejadian yang membahayakan anak-anak, dengan harapan dia akan lebih waspada. Asisten rumah tangga juga bagian dari tim, untuk bersama mengarahkan perahu yang ditumpangi anak-anak kita pada tujuan akhir yang kita harapkan. Meski tetap, kita (suami dan istri) adalah nahkodanya.

#3

Catatan Mama Arin tentang jeritan-jeritan Asa, membuatku tersadar, seorang Mama sesabar apapun pernah mengalami berada pada titik nadir kesabaran. Saat harus mengerjakan pekerjaan rumah dan anak-anak tidak mau ditinggal. Pelajaran kesabaran yang luar biasa. Dan Mama Arin, berhasil menaklukkan rasa kesalnya. Luar biasa, ternyata latihan kesabaran itu memberikan kemampuan baru bagi Mama Arin. Ya, seperti pada penggalan cerita berikut :

'Dari sini saya juga akhirnya berlatih melempar baju dengan kaki ke udara, lalu menangkapnya secepat mungkin dengan kanan tangan sambil tetap menjaga keseimbangan.' (Jeritan-jeritan Asa, Hal. 94)

Wow....tidak salah kan, jika seorang Mama itu disebut-sebut Multitasking. Memasak sambil menggendong anak plus be-beres. 

'Yah, selagi anak masih mau lengket sama kita,ya nikmati saja. Beberapa tahun lagi mungkin ia sudah enggan kita cium dan peluk'. ( Jeritan-jeritan Asa, hal. 94)

Bagian ini salah satunya yang membuatku mengangguk-angguk setuju Mama Arin. Aku pun yakin, suatu saat nanti, aku akan merindukan masa-masa heboh ini.

Azka kehilangan satu gigi seri bungsunya, akibat terjatuh dan terbentur pinggiran kotak mainannya. Rasa bersalah yang juga pernah aku rasakan, Mama Rina. Karena tak kuasa menahan kantuk, rasanya hanya sepersekian detik saja aku terlelap, Ciwa yg masih bayi jatuh dari atas tempat tidur yang cukup tinggi. Dahinya bengkak bahkan berwarna gelap keunguan. Bayiku menjerit keras. Aku panik sambil terus berusaha membuatnya tenang. Kenangan yang juga takkan pernah akan terlupa. Keteledoran yang membuatku lama bisa memaafkan diriku sendiri. (Kesalahan besar, hal. 95) 

Catatan Mama Rina dengan judul 'PR dari Azka' adalah salah satu bukti bahwa anak belajar banyak dari teladan orangtua dan orang-orang terdekatnya. Akan sangat sulit untuk memberikan informasi atau membiasakan anak terhadap sesuatu hal, jika orang-orang terdekatnya pun tidak melakukan hal yang sama, terlebih lagi jika itu adalah orang tuanya sendiri. Semoga Papa-nya Azka bisa segera berhenti merokok ya Mama Rina...:-)

Sementara itu, catatan Mama Arin tentang Cinta di cerita 'Bintang Makan Siang' mengingatkan aku, bahwa sekecil apapun hasil positif yang diraih oleh anak, harus diapresiasi. 'Alow kak Ciwa, berapa bintangnya hari ini? Atau, bisa tadi jawab soalnya?', juga selalu menjadi sapaan saat aku menjemputnya. Yang kadang di jawab antusias kadang juga setengah layu karena lelah. 'Ada satu yang kak Ciwa lupa Ma', katanya suatu kali menanggapi pertanyaanku tentang soal ujiannya. Aku hanya tersenyum dan bilang tidak apa-apa, tidak harus selalu benar semua. Meski dulu, kadang aku kecewa jika mendengarnya, tapi tidak sekarang. Aku ingin anakku bahagia atas segala jerih payahnya. Menghargai dirinya sendiri. 

Persis seperti keinginan Mama Rina, aku pun berkeinginan untuk menanamkan minat baca pada anak-anak sejak kecil. Alhamdulillah, semenjak hobi membacaku kembali bersemi, anak-anak juga semakin suka buku. Aku tak segan membelikan mereka banyak buku-buku. Senang rasanya melihat anak sulungku begitu hobi membaca. Bahkan seringkali membuat cerita sendiri di bukunya atau di laptopku. Books Lover, ah menyenangkan mengucapkannya. (Books lover, hal. 121)

Mengajarkan Ciwa membuat Perpustakaan mini miliknya.

Dek Fadhli yang belajar membaca. Katanya, biar bisa baca buku-buku tebal seperti punya kak Ciwa

'Menerima ungkapan sayang dari anak-anak menghadirkan kilasan-kilasan waktu yang telah kita lalui.' (Cinta untuk Mama, hal. 136)

Serasa menjadi Mama paling bahagia di dunia,jika menerima ungkapan sayang dari buah hati kita ya. Aku pun merasakan hal yang sama. Yang paling membekas, adalah saat Ciwa duduk di TK B. Tepat di hari Ibu, sepulang sekolah Ciwa menyerahkan selembar kertas yang terlipat padaku. Cerita haru yang aku tulis disini.


Salah satu surat Ciwa untukku.

#4

Cerita yang dituangkan Mama Arin dalam 'Pengertian-pengertian' menunjukkan betapa besar peran kebijakan tempat Mama bekerja dalam memaksimalkan fungsi Mama sebagai Ibu maupun sebagai karyawan. Mama Arin begitu beruntung mendapatkan tempat bekerja yang begitu bertoleransi atas peran gandanya.Tidak semua perusahaan mempunyai kebijakan yang mendukung peran ganda seorang Mama.

Sedikit berbeda dengan Mama Rina di cerita 'Mama kok kerja?', yang kadang bosnya menunjukkan gelagat tidak suka,  saat Mama Rina berusaha memperpendek waktu lemburnya. By the way, curhat Mama Rina ini membuatku penasaran dengan film I Don't know How She Does It dan Motherhood. Ah, setiap orang punya pilihannya sendiri-sendiri ya Mama Rina. Bisa jadi, menghabiskan seluruh waktu untuk mengurus rumah bukan pilihan ideal bagi beberapa Mama.

'Dan setiap saya mengetik di Laptop, Azka berkomentar,"Mama lagi nulis tentang aku ya." (Mama Blogger, hal 151.)

Hahaha, aku juga sering dapat pertanyaan yang sama dari Ciwa, anak sulungku. Lucu ya, kadang mereka juga penasaran apa yang kita tulis tentangnya. Bahkan kadang Ciwa cemburu, jika justru cerita dan foto yang aku masukkan di blog atau medsos lainnya adalah foto adiknya.

Farewell Dua Mama yang begitu menyentuh. Menggambarkan indahnya persahabatan dua Mama yang saling mendukung dan menasehati satu sama lain. Curhat dua Mama yang menyadari, bahwa pilihan bekerja maupun full day mom adalah sama-sama membanggakan. (Farewell Dua Mama, hal. 156).

#5

'Setiap Mama punya cara khusus untuk mengungkapkan rasa sayangnya.' (Cara Mama Mencintaimu, hal. 165)

Setuju dengan Mama Rina. Menunjukkan rasa sayang tidak selalu harus dengan memasakkan makanan yang enak-enak atau membuatkan kue ulang tahun yang indah. Tapi membuat anak-anak antusias dan kagum saat kita mendongeng, juga adalah salah satu bentuk rasa sayang. Tetap semangat ya Mama Rina....:-)

'Menjadi Mama sejuta rasanya. Setiap malam memandang mereka tidur nyenyak, selalu ingin saya bisikkan "Terima kasih Nak, atas kehadiranmu untuk Mama.kalian selalu ada dalam doa dan harapan Mama". (Cinta tanpa syarat, hal. 168).

Aku pun pernah merasakan kegundahan yang sama seperti yang dirasakan Mama Arin. Meragukan diri sendiri, apakah benar aku sudah melakukan yang terbaik? Apa benar aku sudah berusaha sekuat tenaga menjadi Mama yang baik bagi anak-anakku? Pertanyaan ke diri sendiri yang seringkali menerbitkan bulir-bulir di mataku. 

'Menjadi orang tua ibarat memegang teguh kendali layang-layang. Bagaimana kita bisa menerbangkan layang-layang itu ke langit biru. Menjaga keseimbangannya saat sudah di atas. Menguatkan talinya agar tidak putus. Membuat layang-layang sebaik mungkin hingga saat badai datang dapat bertahan, dan tetap terbang seusai badai berlalu, menikmati kembali sinar matahari yang cerah.'  (Mama Arin)

Analogi yang luar biasa dari Mama Arin. Dahsyat menghujam di hatiku. Menginspirasi. Sungguh, menjadi orangtua adalah anugerah, dan berhasil menjadikan anak-anak kita sebagai anak-anak yang berbakti dan berguna baik bagi lingkungan, agama dan negaranya adalah prestasi dunia dan akhirat.

Tidak diragukan lagi, cerita dua Mama ini mampu menggambarkan, betapa berwarnanya hidup menjadi seorang Mama. Kaya Warna, kaya rasa. Jurnal dua Mama yang begitu apa adanya namun menginspirasi. Semoga kita sebagai Mama selalu sadar akan peran kita bagi anak-anak kita. Segala cerita yang terukir, semoga kelak menjadi cerita indah dan bahagia bagi putra-putri kita. 

Menjadi Mama is delicious. It's Mommylicious !






Tulisan ini diikutsertakan pada Lomba Blog Mommylicious Reader Awards dan memperoleh penghargaan sebagai MOST MOMMYLICIOUS READER.




Rumbai, 25 Januari 2015



Sabtu, 10 Januari 2015

Resensi #3 : Montmartre Hatiku Tertinggal

Judul buku       : Montmartre Hatiku Tertinggal
Pengarang       : Olenka Priyadarsani
Penerbit           : PT Mizan Pustaka
Tahun Terbit   : 2014
Tebal Buku      : 264 halaman
Ukuran buku   : 19,5 cm
Kategori           : Novel
ISBN                 : 978-602-242-543-4
Harga               : Rp. 60.500





"Ketika jauh hati bertaut, ketika dekat hati terkoyak.
Dari Paris ke Yogyakarta, dari Eiffel ke Prambanan"


Takdir telah mempertemukan Sophia dan Dimas, tanpa sengaja, bertubrukan 2 kali di Sacre-Coer Basilica dan Sorbonne.Pertemuan yang tanpa di sadari menumbuhkan rasa di antara keduanya. Pertemuan yang menghantarkan Sophia pada keindahan alam Indonesia, candi-candi peninggalan Hindu-Budha Yogya dan pantai Bali.

Sophia Ameera adalah seorang gadis muslim cantik campuran Eropa - Lebanon yang sedang menuntut S2 di Universitas  Paris-Sorbonne jurusan Arkeologi. Wajahnya yang kearab-arab-an dengan kulit putih kemerahan yang sering ditutupi hijab berwarna pink, jelas sangat menarik perhatian. Ketertarikannya yang besar pada benda-benda purbakala serta kebudayaan manusia, menguatkan tekadnya untuk menyebrangi 2 benua, menyelesaikan thesisnya, dan.....bertemu sosok yang telah menautkan diri di hatinya, Dimas. 

Dimas, seorang freelancer penulis perjalanan di sebuah majalah dan tim kreatif dari sebuah PH. Dimas digambarkan penulis sebagai cowok ganteng yang super sibuk. Pekerjaannya membuatnya selalui dihantui dengan deadline. Kunjungannya ke Paris juga adalah jalan-jalan gratis yang didapatkannya sebagai 'barter' tulisannya. Bonusnya adalah perkenalannya yang singkat namun membekas, pada Sophia.

Sophia menolak ajakan Dosen Pembimbingnya untuk meneliti punden berundak di Mesir. Dia lebih memilih meneliti hal yang sama, tapi di Indonesia, tepatnya Yogyakarta. Menjemput takdirnya, bertemu kembali dengan Dimas, untuk ketiga kalinya. 

Kedatangan Sophia ke Indonesia membuat Dimas sumringah luar biasa. Dimas mengajak Sophia menikmati bangunan-bangunan bersejarah dan wisata kuliner daerah. Namun setelahnya, kesibukan Dimas membuatnya sulit menghubungi Sophia. Di saat yang sama, Sophia masih tetap merindukan Dimas dan sibuk dengan penelitiannya. Hingga dia bertemu dengan lelaki lain yang membuat hatinya terbelah, Faisal.

" Bila hatimu tengah menanti dan yang dinanti tak kunjung datang, masa akan terus kau biarkan kosong?" (hal. 179)

Faisal, dosen UGM yang digambarkan sangat tampan. Pendiam dan dingin. Namun semuanya berubah setelah dia mengenal Sophia. Pribadinya menjadi lebih hangat. Faisal adalah Dosen Pembimbing lapangan bagi thesis Sophia. Keterlibatan mereka berdua pada penelitian akhirnya mau tak mau melibatkan mereka secara emosi, Faisal jatuh hati pada Sophia. 

Faisal memang pendiam, namun lebih berani. Suatu hari, disebuah restoran mewah bergaya Bali, diantara bunyi gamelan, Faisal menyatakan cintanya pada Sophia. Sophia bimbang.

"Gadis itu merasa tak adil bila dia membiarkan Faisal menunggu-nunggu jawaban tanpa kepastian. Tapi di sisi lain, rasanya tak adil pula untuk membiarkan Dimas tak tahu apa-apa" (hal. 196)

Sophia masih berharap pada Dimas. Namun rasa ego Dimas, justru menjerumuskan hatinya untuk tidak mengakui kekecewaan dan kecemburuannya pada Faisal. Dimas membiarkan Sophia memilih Faisal !

Restu dari ibu Sophia pun telah diberikan untuk Faisal. Rencana pernikahan dan hidup yang akan mereka jalani pun sudah demikian matang. Hingga sesuatu terjadi. Sesuatu yang akan mengubah haluan yang sudah dipilih Sophia sebelumnya. Faisal dinyatakan sebagai salah satu korban tenggelamnya Kapal laut di daerah Talaud, Sulawesi Utara.

Lalu bagaimana nasib Sophia? Apa rencananya setelah kepergian Faisal? Apakah Sophia akan kembali ke Paris? Atau mungkinkah Dimas yang masih menyimpan rasa mendapatkan kesempatan kedua? Cari tahu akhir kisah Sophia dan Dimas dengan baca bukunya ya....:-)

Selain Sophia,Dimas dan Faisal, munculnya tokoh lain di dalam cerita juga membuat cerita jadi makin berwarna. Rima si pemilik PH yang digambarkan bagai singa betina, pemarah dan pemaksa yang menyebalkan. Seringnya merasa sebagai pasangan Dimas.Padahal Dimas tak pernah punya rasa buatnya. Melody, pengamen setengah laki-laki setengah perempuan yang sukses ikut Indonesian Idol, yang berhasil mempengaruhi sedikit penilaian Sophia tentang Dimas dan Faisal. 

-------------------------------------------------------------------------------------------
Ulasan

Sudah lama sekali tidak menikmati novel percintaan. Setelah punya anak, prefer ke buku-buku parenting dan motivasi. Tapi sesekali bolehlah ya,biar berasa selalu muda. Hehehe. Suka dengan buku ini, meski menceritakan tentang masalah 'hati' dua orang anak manusia, tapi 'lurus' dan gak aneh-aneh. Dimas yang lebih slengek-an pun tetap memperlakukan Sophia dengan santun, apalagi Faisal ! 
Meski, yaaaa...si Dimasnya ngeselin banget. Egoisnya membuat dia terkesan sebagai cowok yang gak gentlemen. Mau gak mau, kebawa cerita, aku juga setuju deh Sophia nerima Faisal.

Cerita cinta yang bisa dibilang klise dan banyak ditulis di buku-buku drama percintaan. Tapi bedanya, buku ini juga bercerita tempat-tempat yang menarik dan kebiasaan setempat, baik di Paris maupun di Indonesia. Secara penulisnya adalah salah seorang penulis buku travelling bestseller. Jadi tahu, ternyata minum kopi itu bagaikan minum air putih di Perancis sana. Artinya, kebanyakan orang Perancis cinta kopi. (hal. 23)

Akhir cerita ini tidak seperti dugaanku, meski antara dugaan dan harapan aku berbeda. Hahaha. Ternyata penulis tak ingin mengecewakan pembaca dengan memberikan akhir yang 'tragis' bagi Dimas. Meski aku hormati, cerita indah di akhir pun tak terlalu dibuat 'dramatis', justru sangat sederhana. Mungkin untuk menghormati sosok Sophia sebagai perempuan baik-baik. Jika digambarkan berlebihan, mungkin bisa mem-'blur' kan karakter Sophia. Meski gimana-gimana, setuju deh dengan keputusannya penulis.

Hal yang sedikit menganggu selama membaca buku ini adalah adanya beberapa kata yang dituliskan tidak lengkap atau perulangan yang tidak tepat. Misalnya : kata masih yang terulang 2 kali di hal. 54, m goreng di hal. 86, lansun di hal. 129, atau halat Ashar hal.157






10 Januari 2015,



Rabu, 31 Desember 2014

Resensi #2 : Teka - Teki Terakhir

Judul buku       : Teka - Teki Terakhir
Pengarang       : Annisa Ihsani
Penerbit           : PT Gramedia PustakaUtama
Tahun Terbit   : 2014
Tebal Buku      : 256
Ukuran buku   : 20 cm
Kategori           : Teenlit








Sebuah rumah tua yang besar berwarna putih di pinggiran sungai Littlewood menyimpan begitu banyak misteri. Ada yang mengatakan, bahwa pasangan suami istri Maxwell yang tinggal di rumah itu adalah penyihir, lengkap dengan sapu terbang dan ramuan hijau mengepul. Atau ada gosip yang menyebutkan bahwa mereka adalah ahli kimia gila yang sedang membuat eksperimen berbahaya. Ada juga yang mengatakan bahwa mereka ahli botani gila yang sedang meneliti tanaman langka. Gosip yang semakin mengada-ada dan berkembang karena keluarga Maxwell hampir tak pernah keluar rumah. Kesan angker dari rumah dan pemilik pun semakin menjadi.

Adalah seorang gadis kecil dua belas tahun bernama Laura, yang tak pernah bermimpi akan menjadi tamu rutin rumah angker tersebut. Laura tinggal tak jauh dari rumah keluarga Maxwell. Setiap hari, Laura harus melewati jalan di depan rumah tua itu jika pergi dan pulang dari sekolah. 

Suatu hari, Laura pulang dalam keadaan kesal. Pak Larson,guru matematikanya, menuliskan angka Nol dengan spidol merah dan dua garis di bawahnya. Seakan kuatir Laura tak dapat melihat angka tersebut dengan jelas. Kertas ujian itu pun dibuang Laura sekenanya pada sebuah tong sampah di depan rumah keluarga Maxwell.

Tak disangka, esok harinya sepulang Laura dari sekolah,ia ditegur oleh seorang yang dianggap paling angker di kota kecil Littlewood. Tuan Maxwell !!!

-- Dari jarak sedekat ini, dia sama sekali tak terlihat menyeramkan, hanya terlihat seperti pria tua rapuh yang kesepian -- (hal 19)

Ternyata Tuan Maxwell menemukan kertas ujian yang diremas dan dibuangnya ke salah satu tong sampah didepan rumah tua itu. Lalu Tuan Maxwell memberikannya sebuah buku berwarna hijau berjudul " Nol: Asal-usul dan Perjalanannya". Buku yang tak pernah disangka oleh Laura akan mengubah pandangannya tentang matematika, bahkan mengubah seluruh hidupnya.

" Kuharap kau tidak terlalu terganggu atas nilai latihan aljabar konyol itu. Mendapat nol tidak terlalu buruk, terutama setelah begitu lama pencariannya" (hal. 21)

Kata-kata yang dipahami oleh Laura, setelah dia menyelesaikan buku pemberian Tuan Maxwell.

Kertas ujian lusuh yang dikembalikan oleh Tuan Maxwell tak lagi sama. Ada beberapa coretan berupa catatan tambahan tentang pekerjaan Laura pada kuis matematikanya itu. Catatan-catatan yang membimbing dan menguatkan motivasi Laura untuk memahami dan menjadi lebih baik dalam matematika.

Perkenalannya terhadap pasangan Maxwell, akhirnya membuka tabir rahasia dari semua gosip yang pernah ada di kota Littlewood tentang pasangan itu. Bahwa ternyata James dan Eliza Maxwell adalah Profesor, Ahli Matematika. 

Dan cerita tentang pengalaman luar biasa yang dialami oleh Laura setelahnya, diceritakan dengan begitu apik oleh Annisa Ihsani. Bagaimana Laura belajar banyak istilah matematika dari Tuan Maxwell maupun istrinya. Seperti tentang triple phytagoras, pembuktian formal, Quod Erat Demonstrandum, Teorema, hipotesis, konjektur, counterexample, aksioma, paradoks  dan nama-nama ahli matematika dari seluruh penjuru dunia. Laura menjadi sangat tertarik dengan matematika. Nilai matematikanya pun semakin bagus, bahkan mendapat nilai 100 !

Seakan pengalaman dan  cerita-cerita cerdas terus bersama Laura saat dia menghabiskan waktunya di rumah putih tua yang katanya angker itu. Laura datang ke rumah itu untuk membaca banyak cerita novel detektif di perpustakaan luas dengan banyak buku milik keluarga Maxwell. Tapi selalu saja ada jalan bagi Tuan Maxwell untuk membuatnya tertegun dan terpana pada setiap hal tentang matematika.

Suatu kali, Laura mengetahui, mengapa Tuan Maxwell sering menghabiskan waktunya di ruang kerja hingga lupa makan. Ternyata Tuan Maxwell sedang mencoba membuktikan Teorema Terakhir Fermat yang selama 350 tahun belum ada yang berhasil membuktikannya. Hal yang telah dilakukannya selama puluhan tahun. Menyita masa mudanya. Pendekatan-pendekatan yang dilakukannya selama puluhan tahun itu belum berhasil membuktikan teorema terakhir Fermat. Obsesinya sepanjang hidup. Itu juga sebabnya, Tuan Maxwell begitu akrab dengan rokok dan jauh dari kehidupan sosial. Berkotak-kotak rokok dihabiskannya selama seminggu. Menurunkan kesehatannya sedikit demi sedikit.

Kedekatan Laura pada keluarga Maxwell dan kecintaannya membaca buku-buku di perpustakaan mereka, tanpa sadar membuat Laura melupakan teman baiknya, Katie. Konflik antara Laura dan Katie menghiasi perjalanan cerita Teka-Teki Terakhir ini. Ada sedikit konflik juga antara Laura dan Eliza Maxwell, tapi tak terlalu dramatis. Cerita ini cenderung datar. Namun penemuan-penemuan Laura tentang banyak isi kamus matematika membuatnya menjadi menarik, termasuk bagaimana akhirnya Laura menemukan jalan untuk menyukai Matematika !

Titik puncak pertama dari cerita adalah pada saat Tuan maxwell membaca sebuah email dari teman sesama ahli matematika.

"Sebaiknya Kau datang ke konferensi di Cambridge nanti...ada rumor mengatakan...Andrew Wiles telah membuktikan Teorema Terakhir Fermat.." (hal.191)

Sebuah berita yang sungguh mengejutkan bagi Tuan Maxwell. Laura pun merasakan kesedihan yang mendalam. Kedekatannya pada keluarga ini,membuatnya merasakan hal yang sama pedih, mendengar bahwa kemungkinan pekerjaan tahunan Tuan Maxwell akan menjadi sia-sia.

Apakah Andrew Wiles benar-benar bisa membuktikan Teorema terakhir Fermat? Atau berita itu hanya isapan jempol yang biasa beredar di internet? Lalu bagaimana dengan nasib pembuktian yang coba dilakukan Tuan James Maxwell selama puluhan tahun? Siapa yang berhasil membuktikan teorema tersebut?

Baca bukunya. Meski genre buku ini Teenlit, tak perlu kuatir jika buku ini dibaca oleh anak usia Sekolah Dasar. Tak ada drama percintaan ala remaja.Ada sedikit cerita tentang seorang cowok yang menurut sahabat Laura, Katie, terpesona dengannya. Tapi hanya itu, tak lebih. Alur cerita yang kuat tentang penemuan dalam bidang matematika lebih banyak dibahas dalam buku ini. Cocok untuk anak yang suka matematika, atau justru membencinya. Siapa tahu dengan membaca pengalaman Laura, justru memotivasi untuk bisa 'menaklukan' matematika.

Hanya saja, yang bikin penasaran, kota Littlewood ini dimana? Karena tak pernah sekalipun penulis menyebutkannya. Lalu penggunaan kata-kata yang mungkin masih kurang pantas dibaca oleh anak usia Sekolah Dasar ke bawah, semisal : bodoh, bajingan. Meski sebenarnya kata-kata itu hanyalah sebuah contoh kalimat saat Tuan maxwell mengajarkan Laura tentang sebuah konsep dalam matematika.

Meski demikian, buku ini tetap sangat layak dibaca, menurut saya. 

Sinopsis

Gosipnya suami -istri Maxwell  penyihir. Ada juga yang bilang pasangan itu ilmuwan gila. Tidak sedikit yang mengatakan mereka keluarga ningrat yang melarikan diri ke Littlewood. Hanya itu yang Laura tau tentang tetangganya tersebut.

Dia tidak pernah menyangka kenyataan tentang mereka lebih misterius daripada yang digosipkan. Di balik pintu rumah putih di Jalan Eddington, ada sekumpulan teka-teki logika, paradoks membingungkan tentang tukang cukur, dan obsesi terhadap pernyataan matematika yang belum terpecahkan selama lebih dari tiga abad.Terlebih lagi, Laura tidak pernah menyangka akan menjadi bagian dari semua itu.

Tahun 1992, laura berusia dua belas tahun, dan teka-teki terakhir mengubah hidupnya selamanya..... 


Akhir tahun 2014, 31 Des 2014
10:46 PM

Rabu, 24 Desember 2014

Resensi #1 : Hafalan Shalat Delisa

Judul buku       :Hafalan Shalat Delisa
Pengarang       : tere liye
Penerbit           : Republika
Tahun Terbit   : 2008
Tebal Buku      : 266
Ukuran buku   : 20.5 x 13.5






"D-e-l-i-s-a  cinta Ummi.... Delisa c-i-n-t-a Ummi karena Allah !"
Pelan sekali delisa mengatakan itu. Kalah oleh desau angin pagi Lhok Nga yang menyelisik kisi-kisi kamar tengah. Amat menggentarkan. Terdengar jelas di telinga kanan Ummi. Kalimat yang bisa meruntuhkan tembok hati. (hal: 53)

Untaian yang sangat manis dari seorang anak perempuan kecil yang baru berumur 6 tahun. Tak ada ibu yang tidak akan terpana dan gemetar, mendengar putri bungsu mungilnya menyatakan cinta kepadanya karena Allah, Zat yang Maha Agung.

Tetapi, bagi Delisa yang masih bocah, saat itu, ungkapan tersebut adalah bekalnya untuk mendapatkan hadiah sepotong coklat dari guru ngajinya, Ustadz Rahman. Hadiah yang dijanjikan, jika mampu membuat sang Ummi menangis saat mengucapkan kata luar biasa itu. Saat nyaris ketahuan oleh Aisyah,kakaknya, Delisa berusaha berbohong.

Tak pernah terbayangkan oleh si mungil Delisa, ketidakjujurannya itu, menjadi 'semak belukar' dalam usahanya menghafal ayat-ayat sholat. 

Delisa adalah anak bungsu dari 4 bersaudara. Kakaknya Fatimah berumur 12 tahun, berpembawaaan tenang dan mengayomi adik-adiknya. Kakaknya ke-2 dan ke-3 adalah kembar, Aisyah dan Zahra. Zahra sangat pendiam,sementara Aisyah usil dan suka sekali mengganggu Delisa. Ummi adalah seorang ibu penyayang yang religius, selalu membimbing dan menaungi anak-anaknya dengan ketaatan pada Sang Maha. Abi mereka bekerja sebagai pelaut,di salah satu kapal tanker milik perusahaan PT.Arun.

Kak Aisyah diberikan tanggung jawab untuk membantu Delisha menghafal bacaan sholat. Sesuatu yang penting bagi Delisha, karena Ummi menjanjikannya sebuah kalung hadiah dengan gantungan huruf 'D' untuk Delisha.

26 Desember 2004. Hari dimana Delisha harus menunjukkan hafalan sholatnya di depan Ibu Guru Nur, Ummi dan teman-temannya yang lain. Hari yang sangat dinanti oleh Delisa,untuk mendapatkan hadiah kalung dari Ummi dan sepeda dari Abi. Di saat yang sama,130 km dari Lhok Nga, lantai laut retak seketika. Merekah sepanjang ratusan kilometer. Mencuatkan tarian kematian. Gempa yang disusul tsunami,meluluh lantakkan sebagian besar Nanggroe Aceh, termasuk Lhok Nga. Sekolah Delisa diterjang gulungan tinggi ombak tsunami. Hafalan sholat Delisa belum tuntas....

Begitu panjang derita yang dilalui oleh Delisa dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Cerita yang disuguhkan oleh penulis setelah tsunami berlangsung memberikan begitu banyak hikmah. Menyindir hati-hati yang sering tak puas akan takdir yanng telah digoreskan sang Pencipta. Delisa kehilangan kakak-kakaknya. Sementara Ummi, belum juga ditemukan dimana rimbanya. Belajar banyak dari anak kecil berumur 6 tahun, akan makna pasrah, menerima dan ikhlas. Begitu banyak kehilangan, namun juga digantikan dengan banyaknya pertemuan.

Delisa tak jua bisa menghapal bacaan sholatnya. Bahkan bacaan itu seakan semakin jauh pergi dari ingatannya. Perjuangan Delisa untuk menyelesaikan hafalannya harus melalui jalan panjang penuh onak duri. Berkali bertemu Ummi dalam mimpi,yang terus memintanya menyelesaikan hafalan shalatnya. Akankah Delisa mampu menyelesaikan hafalannya? Apakah Delisa akan bertemu Ummi? 

Buku ini bercerita banyak hal, bukan hanya hafalan sholat delisha, tapi juga pertemuan-pertemuan delisa dengan orang-orang baru, prajurit Salam yang muallaf karena takjub pada keanehan saat dia menemukan Delisa pertama kali, Shopi perawat yang sekilas mengingatkan Delisa pada hadiah kalungnya, banyak lagi. Yang paling memilukan adalah bagaimana kepedihan musibah tsunami Aceh digambarkan dengan begitu menyentuh. Akhir yang bahagia juga tragis pada pertemuan Ummi dan Delisa.

Buku yang menguras banyak air mata, namun terselip makna yang dalam. Hanya dosa kecil yang dilakukan Delisa, namun kata maaf yang belum tersampaikan pada Ummi, menahan ingatannya untuk mampu menghafal bacaan sholatnya. Kala Ummi memaafkannya dalam mimpi, alam semesta seakan membantunya untuk menyelesaikan tugas hafalan shalatnya. Dan Ummi, menunaikan janjinya untuk menghadiahkan Delisa kalung dengan gantungan 'D' untuk Delisa.

Buku yang sangat layak untuk dibaca,bahkan untuk anak-anak yang sudah gemar membaca buku cerita tebal tanpa gambar. Bisa mengajarkan mereka tentang kasih sayang bersaudara. Bahwa, kadang jika kita berfikir nanti untuk berbuat baik pada saudara kita, tapi sangat mungkin 'nanti' itu tidak akan ada lagi.




Rumbai,20141224