Iboih Beach, Sabang, Weh Island, Aceh.

Iboih Beach, Sabang, Weh Island, Aceh.

Rabu, 24 Desember 2014

Resensi #1 : Hafalan Shalat Delisa

Judul buku       :Hafalan Shalat Delisa
Pengarang       : tere liye
Penerbit           : Republika
Tahun Terbit   : 2008
Tebal Buku      : 266
Ukuran buku   : 20.5 x 13.5






"D-e-l-i-s-a  cinta Ummi.... Delisa c-i-n-t-a Ummi karena Allah !"
Pelan sekali delisa mengatakan itu. Kalah oleh desau angin pagi Lhok Nga yang menyelisik kisi-kisi kamar tengah. Amat menggentarkan. Terdengar jelas di telinga kanan Ummi. Kalimat yang bisa meruntuhkan tembok hati. (hal: 53)

Untaian yang sangat manis dari seorang anak perempuan kecil yang baru berumur 6 tahun. Tak ada ibu yang tidak akan terpana dan gemetar, mendengar putri bungsu mungilnya menyatakan cinta kepadanya karena Allah, Zat yang Maha Agung.

Tetapi, bagi Delisa yang masih bocah, saat itu, ungkapan tersebut adalah bekalnya untuk mendapatkan hadiah sepotong coklat dari guru ngajinya, Ustadz Rahman. Hadiah yang dijanjikan, jika mampu membuat sang Ummi menangis saat mengucapkan kata luar biasa itu. Saat nyaris ketahuan oleh Aisyah,kakaknya, Delisa berusaha berbohong.

Tak pernah terbayangkan oleh si mungil Delisa, ketidakjujurannya itu, menjadi 'semak belukar' dalam usahanya menghafal ayat-ayat sholat. 

Delisa adalah anak bungsu dari 4 bersaudara. Kakaknya Fatimah berumur 12 tahun, berpembawaaan tenang dan mengayomi adik-adiknya. Kakaknya ke-2 dan ke-3 adalah kembar, Aisyah dan Zahra. Zahra sangat pendiam,sementara Aisyah usil dan suka sekali mengganggu Delisa. Ummi adalah seorang ibu penyayang yang religius, selalu membimbing dan menaungi anak-anaknya dengan ketaatan pada Sang Maha. Abi mereka bekerja sebagai pelaut,di salah satu kapal tanker milik perusahaan PT.Arun.

Kak Aisyah diberikan tanggung jawab untuk membantu Delisha menghafal bacaan sholat. Sesuatu yang penting bagi Delisha, karena Ummi menjanjikannya sebuah kalung hadiah dengan gantungan huruf 'D' untuk Delisha.

26 Desember 2004. Hari dimana Delisha harus menunjukkan hafalan sholatnya di depan Ibu Guru Nur, Ummi dan teman-temannya yang lain. Hari yang sangat dinanti oleh Delisa,untuk mendapatkan hadiah kalung dari Ummi dan sepeda dari Abi. Di saat yang sama,130 km dari Lhok Nga, lantai laut retak seketika. Merekah sepanjang ratusan kilometer. Mencuatkan tarian kematian. Gempa yang disusul tsunami,meluluh lantakkan sebagian besar Nanggroe Aceh, termasuk Lhok Nga. Sekolah Delisa diterjang gulungan tinggi ombak tsunami. Hafalan sholat Delisa belum tuntas....

Begitu panjang derita yang dilalui oleh Delisa dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Cerita yang disuguhkan oleh penulis setelah tsunami berlangsung memberikan begitu banyak hikmah. Menyindir hati-hati yang sering tak puas akan takdir yanng telah digoreskan sang Pencipta. Delisa kehilangan kakak-kakaknya. Sementara Ummi, belum juga ditemukan dimana rimbanya. Belajar banyak dari anak kecil berumur 6 tahun, akan makna pasrah, menerima dan ikhlas. Begitu banyak kehilangan, namun juga digantikan dengan banyaknya pertemuan.

Delisa tak jua bisa menghapal bacaan sholatnya. Bahkan bacaan itu seakan semakin jauh pergi dari ingatannya. Perjuangan Delisa untuk menyelesaikan hafalannya harus melalui jalan panjang penuh onak duri. Berkali bertemu Ummi dalam mimpi,yang terus memintanya menyelesaikan hafalan shalatnya. Akankah Delisa mampu menyelesaikan hafalannya? Apakah Delisa akan bertemu Ummi? 

Buku ini bercerita banyak hal, bukan hanya hafalan sholat delisha, tapi juga pertemuan-pertemuan delisa dengan orang-orang baru, prajurit Salam yang muallaf karena takjub pada keanehan saat dia menemukan Delisa pertama kali, Shopi perawat yang sekilas mengingatkan Delisa pada hadiah kalungnya, banyak lagi. Yang paling memilukan adalah bagaimana kepedihan musibah tsunami Aceh digambarkan dengan begitu menyentuh. Akhir yang bahagia juga tragis pada pertemuan Ummi dan Delisa.

Buku yang menguras banyak air mata, namun terselip makna yang dalam. Hanya dosa kecil yang dilakukan Delisa, namun kata maaf yang belum tersampaikan pada Ummi, menahan ingatannya untuk mampu menghafal bacaan sholatnya. Kala Ummi memaafkannya dalam mimpi, alam semesta seakan membantunya untuk menyelesaikan tugas hafalan shalatnya. Dan Ummi, menunaikan janjinya untuk menghadiahkan Delisa kalung dengan gantungan 'D' untuk Delisa.

Buku yang sangat layak untuk dibaca,bahkan untuk anak-anak yang sudah gemar membaca buku cerita tebal tanpa gambar. Bisa mengajarkan mereka tentang kasih sayang bersaudara. Bahwa, kadang jika kita berfikir nanti untuk berbuat baik pada saudara kita, tapi sangat mungkin 'nanti' itu tidak akan ada lagi.




Rumbai,20141224









6 komentar:

  1. Udah berkali-kali nonton film-nya, tapi sekalipun belum pernah baca novelnya, menarik ya cerita nya, sarat makna pula

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya malah belum nonton mbak....
      Cuma penasaran sudah sejak lama,baru ini bisa baca bukunya (setelah lama juga gak beli dan baca buku...:))

      Hapus
  2. ahhh buku ini menag penuh hikmah keren abis dah CSD

    BalasHapus
  3. Aku meweeeek liat pilemnya. Bukunya blum baca siy.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kebalik kita Mbak....
      Aku malah blom sama sekali nonton filmnya
      :-)

      Hapus

Terima kasih sudah mampir di blog ini. Feel free to make any comment yaaa...