Iboih Beach, Sabang, Weh Island, Aceh.

Iboih Beach, Sabang, Weh Island, Aceh.

Jumat, 06 Februari 2015

Resensi #5 : Anak-anak Angin

Judul buku       : Anak-anak Angin
Pengarang       : Bayu Adi Persada
Penerbit           : Plot point Publishing
Tahun Terbit   : 2013
Tebal Buku      : 271
Kategori           : Non Fiksi


Cover yang bagus dan 'eye catching'


"Kamu ini udah lulus dari universitas bagus, jurusan bagus, bukan untuk jadi guru!" (hal.3)


Begitulah respon yang harus diterima Bayu dari Bapaknya saat dirinya menyampaikan keinginan untuk mengabdi sebagai salah satu Pengajar Muda pada program Indonesia Mengajar. Penolakan yang tak menyurutkan langkahnya untuk datang ke sebuah desa kecil di Maluku Utara, Kabupaten Halmahera Selatan, Desa Bibinoi !.Berbekal do'a tulus dari ibunya, Bayu yakin keputusannya adalah keputusan yang tepat. Bayu menguatkan niat, suatu saat, dia akan membuat bangga Bapaknya.

Hari pertama kedatangan Bayu ke desa Bibinoi disambut dengan matinya listrik. Bayu tinggal bersama keluarga Pak Adin, kepala sekolah SDN Bibinoi. Meski menjabat sebagai seorang kepala sekolah, keluarga Pak Adin terutama anak-anaknya, jauh dari kesan berpendidikan tinggi. Bahkan dari curhatnya pada Bayu, anak tertuanya Mariam tidak lulus perguruan tinggi karena hamil. Di puluhan lembar berikutnya pun diceritakan Bayu, Marli anak keduanya, juga hamil diluar nikah. Keluarga penuh masalah. Bayu tinggal di salah satu kamar di rumah Pak Adin, berukuran 3 x 3 meter berlantaikan pasir, jendela yang pecah satu ruas dan meja yang penuh dengan buku serta berkas-berkas. Mama Saida lah satu-satunya sosok yang membuatnya betah di rumah itu.

Banyak realita yang tak biasa namun harus dihadapi oleh Bayu saat mulai mengajar di Desa Bibinoi. Kebiasaan siswa menaikkan kaki ke atas meja, meludah di lantai ruang kelas, ribut luar biasa dan baku pukul!. Bayu menerapkan beberapa aturan dan punishment bagi yang melanggar. Meski sedikit demi sedikit ada perubahan, namun tak pelak beberapa kali kesabarannya pecah dan menguap entah kemana. Bayu beberapa kali menampar siswa yang berbuat keterlaluan! Bagi sebagian besar guru di SDN Bibinoi, melakukan kekerasan adalah hal yang biasa dan perlu untuk dilakukan mengingat karakter siswa yang sulit sekali diatur. Namun bagi Bayu, apa yang dilakukannya sangat membekas bukan hanya bagi muridnya, bahkan bagi dirinya sendiri. Dia merasa telah kalah.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, banyak sekali hal yang dialami Bayu. Kebahagiaan maupun kepahitan hidup di Desa kecil Bibinoi. Mulai dari kedekatannya dengan anak-anak kelas III asuhannya, keberhasilannya mengikutkan beberapa siswa pada kompetisi pertama mereka : Olimpiade Sains Kuark Nasional, keberhasilannya memperjuangkan kejujuran pada Ujian Akhir Nasional, mengungkap penggunaan dana BOS yang tak sesuai hingga jatuh sakit karena tak terawat sejak Pak Adin terbukti menggelapkan dana BOS.

Review

Buku ini sebetulnya adalah perjalanan setahun seorang Pengajar Muda bernama Bayu mengabdikan diri di desa Bibinoi. Semacam Memoar. Namun, Bayu menuliskannya seakan kejadian-kejadian di dalamnya bagai Novel. Pemilihan katanya pun tak biasa. Menarik.

Di awal, aku menemukan kegalauan dan nyaris luapan emosi yang tinggi dari Bayu saat bertemu dengan murid-murid yang punya kebiasaan tak baik. Sempat terlintas di benakku, cerita selanjutnya akan menjemukan. Bayu adalah seperti seorang guru yang standar, mencoba bertahan namun akhirnya meledak bagai bom. Jujur, di titik aku menyimpulkan hal itu, aku tak lagi bersemangat untuk meneruskannya.

But hey....lalu apa resensi yang nanti akan kubuat soal buku ini. Alright, aku harus menyelesaikannya. Maka lembaran berikutnya masih terus ku buka. Di luar ekspektasiku, pengalaman demi pengalaman dengan tutur yang apik membuatku penasaran seperti apa akhir perjalanan anak muda ini membangun desa Bibinoi. 

Kemampuan Bayu mengambil hati dan perhatian anak-anak didiknya patut diacungi jempol. Orang tua yang tak banyak berperan dalam menyemangati anak-anaknya agar mempunyai pendidikan yang tinggi, membuat tugas seorang guru daerah pinggiran seperti Bayu menjadi semakin berat. Bayu tampak tulus dan sungguh-sungguh ingin agar Desa Bibinoi punya pendidikan yang berkualitas.Tantangan demi tantangan dihadapinya. Bahkan keberaniannya cukup membuatku terperangah. 

Terungkapnya penyimpangan dana Bos oleh Pak Adin, kepala sekolah SDN Bibinoi, adalah salah satu keberanian yang patut dihargai. Keberadaan Bayu membangkitkan keberanian para guru untuk membuka aib yang selama ini hanya menjadi buah bibir di Desa Bibinoi. Pak Adin pun mau tak mau mengakui kesalahannya. Manajemen sekolah pun semakin membaik, meski di rumah Bayu tak lagi diperlakukan sebagai tamu. Beberapa hal terjadi, hingga kesehatan Bayu menurun dan puncaknya, Bayu terkena DBD!

Kejadian-kejadian lain yang cukup menarik untuk disimak adalah semangat Bayu dan teman-temannya sesama Pengajar Muda untuk mensukseskan acara Lomba Sains Kuark, peringatan 17 Agustus hingga pendirian rumah belajar sekaligus lomba cerdas cermat. Semangat yang membara...

Lalu, keberhasilan Bayu meyakinkan para guru dan Kepala Sekolah untuk mengajarkan anak-anak akan nilai sebuah kejujuran pada Ujian Akhir Nasional. Kecurigaan Bayu pada tanggapan dingin siswanya untuk mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh dalam menghadapi UAN akhirnya terjawab sudah. Ternyata selama ini pihak sekolah membantu memperbaiki pengisian lembar data diri bahkan sampai memberikan bocoran jawaban kepada para siswa pada Ujian Sekolah. Beberapa alasan yang disampaikan oleh kepala sekolah adalah ; bahwa para siswa sering salah mengisi data nama, tanggal lahir bahkan tidak membubuhkan tanda tangan. Akhirnya pihak sekolah setuju dengan saran Bayu, untuk meminimalisasi kecurangan UAN,dengan hanya memberikan bantuan untuk memastikan bahwa data diri diisi dengan benar. Sementara jawaban soal harus mereka usahakan sendiri.

Yang terasa sangat membanggakan dan membuat terharu adalah saat Olan dan Warda lulus ke babak semifinal Olimpiade Sains Kuark Nasional. Betapa bangganya Bayu pada anak-anak didiknya. Bahkan sekolah yang disebut-sebut unggulan tak mengirim satu pun wakilnya ke tingkat semifinal.

Bayu dengan detail menuliskan dan menceritakan tentang anak-anak didiknya. Bagaimana mereka berkembang dengan lebih baik, pelajaran apa yang mereka sukai, hingga anak-anak yang ternyata tak banyak mengalami kemajuan yang berarti. Haru saja rasanya, mengingat bukan hal yang mudah untuk benar-benar perduli dengan anak-anak didik. Bagaimana Bayu meyakinkan dan membuat Olan percaya akan kemampuannya sendiri yang diceritakan di halaman 122, benar-benar membuatku tersenyum haru...

Ada hal lain yang tak kalah mengharukan. Saat Bayu akhirnya menuai buah manis dari hasil ketekunan, keikhlasan dan ketulusannya pada anak-anak SDN Bibinoi. 

"Bayu, Bapak bangga dengan kamu. Do the best for yourself and your student." 

Yup, Bapak telah mengikhlaskan dan berbesar hati atas pilihannya. Kesuksesannya membawa Olan menuju semifinal Olimpiade Kuark Nasional terdengar hingga ke telinga Bapak. Sejak saat itu, Bapak sangat mendukungnya. Bahkan di akhir-akhir masa baktinya, saat ide untuk medirikan rumah baca membutuhkan banyak bantuan materi, bantuan Bapak demikian signifikan bagi terwujudnya ide itu.

Memoar yang menarik tentang perjalanan seorang anak bangsa yang berusaha memberikan apa yang bisa diberikannya bagi Negaranya. Membantu negara menunaikan janji untuk 'Mencerdaskan anak Bangsa'. Sungguh tak akan sia-sia sesedikit apapun pengorbanan. Dalam hati pun terucap do'a semoga semakin banyak anak-anak hebat muncul bukan hanya dari sebuah Desa kecil seperti Bibinoi tapi juga dari seluruh penjuru Negeri ini. Amiiin.

12 komentar:

  1. keayag banget gimana susahnya masuk dan mengajar di daerah atau pelosok,aku dulu PKL di daerah pelosok yang minim fasilitas. Susah air,listrik,pokoknya serba minim. kayaknya bagus ya mbak,penasaran juga jadinya,makasih resensinya mbak^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak. Mengajar di tempat yang fasilitasnya baik saja gak mudah,meghadapi anak-anak yang bermacam ragam. Apalagi mengajar di daerah pelosok. Perlu niat yang kuat ya Mbak pasti.

      Makasih sudah mampir Mbak :-)

      Hapus
  2. Buku tentang potret pendidikan di desa nun jauh dari pantauan 'mata' orang2 penting memang selalu menarik dan mengharukan ya mbak.. JAdi tenaga pengajar disana tentu penuh tantangan.. Benar2 pingin baca bukunya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali Mak Haya....rasanya begitu timpang.
      Ditambah lagi justru nilai-nilai kejujuran pun melemah...
      Lalu kapan potret pendidikan kita bisa lebih baik?
      Menjadipengajar dan pendidik takmudah ya Mak...

      Ayo baca bukunya Mak....:-)

      Hapus
  3. Novelnya diangkat berdasarkan realita yg terjadi saat ini y mak. Bisa buat referensi nih bagi para calon guru. Tengkiu sharingnya ya mak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Mak Inda....
      Bayu banyak menyentil dan rasanya saya pun tersindir...
      Sejatinya seorang pengajar dan pendidik harus sedemikian besar ketulusannya....

      Terima kasih kembali Mak Inda...:)

      Hapus
  4. wah.. baca review ini, jadi ingin beli bukunya mak.. langsung inget orang tua yang juga berprofesi guru..

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihi....ayo baca bukunya Mak Lia....:-)

      Hapus
  5. jadi penasaran mak pengen baca, coba besok cari dech :)

    BalasHapus
  6. Saya tuh salut sama para pengajar muda, beberapa kali lihat serialnya di Net. Terlihat mereka begitu bersemangat dan tulus. Program yang bagus dan brilian I may say, lihat saja seorang seperti Bayu. Punya banyak kesempatan di dunia kerja yang lebih mapan, namun lenih memilih untuk mengajar di desa terpencil. Two thumbs up d^.^b

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener Mbak Ave,,menurut saya pun begitu...
      Meski sebagian yang lain menilai berbeda.
      Tapi sekecil apapun usaha untuk mengarahkan kita pada perubahan yang baik
      Sangat layak diapresiasi ya Mbak....:-)

      Toss kita...:-)

      Hapus

Terima kasih sudah mampir di blog ini. Feel free to make any comment yaaa...